Selasa, 15 Januari 2013

Efisiensi dan Efektivitas Konsumsi Listrik



Oleh: Makmun Syadullah
Pengamat ekonomi
Kontan 15 Januari 2013

Pemerintah dan PLN sudah sepakat menaikkan Tarif Dasar Listrik (TDL) sebesar 15 persen pada tahun 2013 secara bertahap untuk golongan pelanggan diatas 900 VA. Namun sebelum kenaikan TDL tersebut direalisasikan, pemerintah diharapkan mengambil kebijakan yag tegas terkait tidak efisiennya kinerja PT PLN. Disinyalir bahwa PT  PLN selama ini tidak bekerja secara efisien, sehingga muncul kesan ketidakefisienan tersebut dibebankan pada konsumen listrik.

Sementara itu muncul pula tudingan bahwa masyarakat sangat boros dalam mengkonsumsi listrik sebagai akibat murahnya harga listrik. Meskipun tidak sepenuhnya benar tudingan ini, memang harus diakui bahwa ada sebagian masyarakat yang mengkonsumsi listrik secara boros. Hal ini dapat dibuktikan dengan dijumpainya listrik yang menyala di siang hari, bukan saja di kalangan masyarakat menengah ke atas, namun juga di kalangan masyarakat lapiasan bawah.
Permasalahannya apakah bagaimana mengukur tingkat keborosan dalam mengkonsumsi listrik, dan bagaimana dibandingkan dengan negara-negara lain? Tulisan ini akan mencoba membandingkan tarif harga listrik di berbagai negara. Dalam tulisan ini juga akan diulas bagaimana mengukur tingkat efisiensi dan efektivitas dalam mengkonsumsi listrik.

Perbandingan TDL
TDL setiap negara tentunya sangat bervariasi, bukan saja dipengaruhi oleh adanya subsidi dari pemerintah, namun juga dipengaruhi oleh jaringan distribusi dari negara yang sama. Di berbagai Negara TDL bisanya juga dibedakan antara pelanggan perumahan,  komersial, dan industri. Harga untuk setiap kelas tunggal pelanggan listrik juga dapat berbeda-beda berdasarkan kapasitas yang dipakai.
Berdasarkan data yang dipublikasikan oleh Wikipedia (2012), beberapa negara yang mengenakan TDL termurah di dunia (di bawah USD cent 10 per Kwh) antara lain adalah Argentina (5,74), Dubai (7,62), Iran (2-19), Malaysia (7,42), Thailand (4,46 – 9,79), Uzbekistan (4,95), Vietnam (6,20-10,1) dan Indoesia (rata-rata 6,5). Negara-negara ini kemungkinan besar memberikan subsidi kepada pelanggan listrik, sehingga harga listrik sangat murah.
Sedangkan negara dengan TDL tertinggi di dunia (lebih dari USD cen 20 per kwh) antara lain adalah  Australia (22-46,56), Belgia (29,06), Brazil (34,18), Denmark (40,38), Jerman (31,41), Philipina (30,46) dan kepulauan Solomon (83-89). Negara-negara dengan harga listrik yang mahal ini kemungkinan besar tidak memberikan subsidi kepada planggan listrik. Disamping itu juga terdapat kemungkinan listrik dibandingkinkan dengan solar yang harus diimpor, sehingga biaya produksi listrik menjadi mahal.

Konsumsi Listrik Boros
 Murahnya harga listrik di Indonesia secara signifikan berdampak pada borosnya konsumsi listrik. Hal ini dapat dilihat dari tingkat intensitas energy per kapita. Intensitas energy ini merupakan perbandingan antara jumlah konsumsi energy per Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Semakin efisien suatu negara, maka entensitasnya akan semakin kecil.   
Data statistik menurut Blueprint Pengelolaan Energi Nasional 2006 - 2025 menunjukkan perbandingan intensitas energi dan konsumsi energi per kapita di beberapa negara. Indonesia memiliki intensitas energi yang paling tinggi di dunia yakni 470, disusul Malayasia (450) dan Thailand (350). Sedangkan intensitas negara-negara anggota OECD hanya 200 dan Jepang lebih rendah lagi hanya 100. Hal ini menunjukkan bahwa untuk menghasilkan satu satuan produksi atau jasa, Indonesia membutuhkan energi yang paling banyak. Ini juga menunjukkan rendahnya efektifitas dan efisensi penggunaan energi di Indonesia.
Sementara itu konsumsi energi per kapita merupakan jumlah energi rata-rata yang dikonsumsi oleh setiap penduduk di suatu negara. Semakin rendah tingkat rasio elektrifikasi dan semakin besar jumlah penduduk, maka akan semakin kecil tingkat konsumsi energi per kapita. Dari sisi konsumsi listrik per kapita, Indonesia sangat rendah, yakni hanya 0,467. Rendahnya tingkat konsumsi listrik per kapita ini antara lain disebabkan masih rendahnya rasio elektrifikasi yang hingga kini baru mencapai 75 persen. Sementara itu negara dengan tingkat tingkat konsumsi per kapita sangat tinggi adalah negara-negara Amerika Utara yang mencapai 200, sementara Jepang, Jerman dan Negara-negara anggota OECD mencapai 100.
Dari uraian di atas, nampak bahwa tingkat konsumsi listrik per kapita di Indonesia adalah yang terendah di dunia. Rendahnya tingkat konsumsi per kapita tidak dapat dijadikan patokan bahwa masyarakat sudah efisien dan efektif dalam mengkonsumsi listrik. Efisiensi  dan efektivitas dalam konsumsi listrik lebih tepat diukur dari intensitas energy yang ternyata di Indonesia paling boros di dunia.
Salah satu terobosan untuk meningkatkan  efisiensi  dan efektivitas dalam konsumsi listrik adalah dengan mengurangi subsidi listrik. Apabila harga listrik dijual mendekati harga keekonomian, diharapkan kesadaran masyarakat untuk melakukan efisiensi dalam mengkonsumsi listrik akan tercipta.
Peroalannya adalah terdapat dugaan PT PLN tidak efisien dalam memproduksi listrik, sehingga pemerintah harus mensubsidi.  Dugaan seperti ini mungkin ada benarnya, namun perlu dipahami bahwa inefisiensi PT PLN dapat pula bersumber pada faktor di luar kendali, seperti wilayah Indonesia yang sangat luas, sementara itu penduduk, terutama di pedesaan, tempat tinggalnya berkelompok-kelompok yang tentunya akan berdampak pada kebutuhan investasi yang pada akhirnya akan berdampak pada TDL.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar