Selasa, 04 Desember 2012

Mewasdapai Dampak Fiscal Cliff



Oleh: Makmun Syadullah
Pengamat Ekonomi
Indonesia Finance Today, 4 Desember 2012

Ancaman jurang fiskal (fiscal cliff) Amerika Serikat bermula dari jurang ketimpangan akibat krisis yang meledak sejak September 2008. Pemerintahan di bawah komando George W. Bush dianggap hanya melakukan pemborosan selama 10 tahun masa pemerintahannya. Sementara itu Bush mengambil kebijakan keringanan perpajakan, yang berakibat keuangan negrara terjepit pada defisit keuangan.

 Perekonomian Amerika kini hanya digerakkan oleh sektor finansial seperti obligasi, hutang, pasar uang, perbankan dan pasar uang. Diperkirakan hampir 60 persen aset finansial dikuasai oleh satu persen penduduk Amerika, sedangkan 90% penduduk Amerika tak memiliki tabungan dan talangan yang memadai.
Berakar dari permasalahan di atas, kini Amerika Serikat dikhawatirkan akan menghadapai fenomena jurang fiskal yang dampaknya akan berbahaya bagi perekonomian global. Setidaknya ini peringatan ini disuarakan oleh Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat, Ben Bernanke, yang mengatakan bahwa kenaikan pajak dan pemangkasan belanja akan menimbulkan ancaman besar” untuk pemulihan ekonomi Amerika Serikat.
Berdasarkan perhitungan Komisi Anggaran Kongres kejutan fiskal akan mendorong perekonomian kembali jatuh ke jurang resesi. penghapusan program stimulus secara bertahap dan kebijakan lain yang didesain untuk mengeluarkan Amerika Serikat dari resesi, serta peningkatan upaya guna menekan defisit anggaran federal dengan cepat kini mulai menahan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB). Kondisi ini semakin diperparah dengan adanya krisis utang zona euro, penciptaan lapangan kerja yang lambat dan keengganan perbankan untuk melonggarkan standar pengucuran kredit, yang disebut bakal menahan pemulihan di sektor perumahan.
Meskipun ada ancama akan terperangkap pada jurang fiskal, di satu sisi tingkat keyakinan konsumen di negeri Paman Sam masih tinggi. Para analis menilai hal ini mungkin akibat ketidaktahuan warga atau adanya optimisme bahwa Gedung Putih dan Kongres bisa segera mencapai kesepakatan. Namun di sisi lain,  tingkat kepercayaan pengusaha kelas menengah, yakni perusahaan dengan pendapatan tahunan sebesar US$ 50 juta - US$ 1 miliar yang selama ini menjadi penopang perekonomian negara, turun 32 persen dalam empat tahun terakhir.melorot tajam. Sebagaimana diketahui bahwa sumbangan usaha kelas menengah terhadap produk domestik bruto negara tersebut mencapai 40 persen.
Saat ini, hanya 59 persen usahawan menengah yang masih percaya bahwa Amerika masih menjadi negara terbaik untuk usaha. Sebelumnya tingkat kepercayaan sempat berada di posisi 90 persen. Dari survei yang dipublikasikan oleh CNBC terungkap, penurunan tingkat kepercayaan disebabkan oleh: pajak, regulasi, serta jurang fiskal - berakhirnya rezim fasilitas berupa penurunan pajak dan penghematan anggaran pemerintah.
Penurunan tingkat kepercayaan di kelas menengah ini memberikan dampat terhadap perkembangan inovasi baru di Amerika Serikat. Survei CNBC menemukan, hanya 35 persen responden yang mengaku perusahaannya masih bisa berkembang melalui  inovasi. Mereka yang menyatakan masih bisa berkembang ini secara umum mengungguli perusahaan-perusahaan lain dari sisi: pertumbuhan perusahaan, produktifitas, serta ekspektasi.

Perlu Waspada
Jurang fiskal berpotensi terjadi, mengingat rencana Barack Obama untuk menaikkan pajak kelompok warga terkaya ditentang kubu Republik. Pilihan Obama menaikkan pajak bagi kelompok terkaya ini secara teoritis sudah tepat, karena bersifat inelastis terhadap pengeluaran. Artinya kenaikan pajak tidak akan banyak berpengaruh terhadap pola konsumsi.
Logika berfikir Republik jutrub terbalik karena beranggagapan jika pajak warga terkaya dinaikkan maka akan memukul perekonomian. Sebaliknya Kubu Republik justru menuntut agar pemerintah melakukan pemotongan pengeluaran, terutama pengeluaran untuk kaum marginal.  Padahal pengeluaran Negara untuk kaum marginal ini justru akan mendorong permintaan agregat yang pada akhirnya akan mendorong perekonomian.
Kegigihan kubu Republik menentang proposal Barack Obama disebabkan karena adanya keterikatan sumpah dengan Grover Norquist, pendiri The American for Tax Reform, yang selalu menentang kenaikan pajak. Apabila Republik tetap “ngotot” dengan pendiriannya sampai kahir 31 Desember 2012, maka jurang fiskal akan semankin  menjadi nyata.

Dampak ke Asia
Jurang fiskal akan menjadi ancaman yang nyata bagi Negara-negara di kawasan Asia. Perlambatan ekonomi Amerika Serikat ditambah dengan krisis di kawasan Eropa yang belum menunjukan tanda-tanda perbaikan pada akhirnya berdampak pada perlambatan ekonomi dunia. Kondisi ini bukan saja hanya akan berdampak pada sektor finansial namun juga pada industri manufaktur. Kalaupun negara-negara di Asia Timur mampu mempertahankan tingkat pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen, ini lebih ditopang oleh pasar dalam negeri. Sedangkan bagi Indonesia, disamping potensi pasar dalam negeri, juga ditopang oleh kondisi ekonomi yang stabil dan ketersediaan ruang kebijakan yang cukup memadai untuk meredam risiko global.
Meski bermodal cukup kuat, potensinsi jurang fiskal di Amerika perlu diwaspadai, mengingat gejala ketimpangan ekonomi-keuangan di Amerika juga dapat menimpa sektor uang dan bank di Indonesia. Sekitar 70 persen aset keuangan di Indonesia dewasa ini dikuasai sejumlah kecil industri pialang jasa keuangan, sedangkan  di sektor riil terjadi gejala sebaliknya. Korupsi dan manipulasi antar elit politik di sektor keuangan-bank di Amerika juga terjadi di Indonesia. Selisih pendapatan terendah dengan pendapatan tertinggi melebar tajam dari 120 pada tahun 2004 sampai 2500 kali pada tahun 2010.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar