Oleh: Makmun Syadullah
Salah satu masalah nasional
yang tak kunjung terselesaikan hingga saat ini adalah ketimpangan distribusi
pembangunan antar wilayah, khususnya antara Jawa dan Luar Jawa. Kesenjangan itu
tercermin dari penyebaran sumber daya manusia, industri, perdagangan dan jasa,
infrastruktur, irigasi, listrik, pendidikan dan bahkan sektor pertanian.
Pengamat Ekonomi
Kontan, 6 Desember 2012
Menurut Asian Development Bank-ADB pembangunan
ekonomi di Indonesia tidak merata. Hal ini setidaknya tergambarkan pada dari
koefisien Gini Ratio Indonesia yang masih besar. Pada tahun 2011 Gini Ratio
mengalami peningkatan dari 0,3% menjadi 0,4%, yang menandakan pemerataan
ekonomi di Indonesia semakin tidak merata dan mulai sedikit ada permasalahan.
Sektor industri hingga kini 80
persennya masih berada di Jawa. Begitu halnya dengan sektor
perdagangan dan jasa. Berkembangnya kegiatan ekonomi di Jawa-Bali ditunjang
infrastruktur yang relatif lebih baik, seperti jalan raya, pelabuhan dan
bandara serta ketersediaan energi listrik. Jawa masih menjadi episentrum
ekonomi nasional yang secara simbolik terlihat dari pertumbuhan sektor
finansial.
Meskipun pemerintah sudah
menjalankan kebijakan desentralisasi, ketimpangan pendidikan Jawa-luar Jawa
tetap saja lebar. Sekolah-sekolah dan universitas-universitas terbaik umumnya
berada di Jawa. Akibatnya kini mulai terasa dengan adanya gelombang
“migrasi” SDM-SDM terbaik (“brain
drain”) yang dimulai saat anak-anak unggul dari luar Jawa memilih
masuk ke universitas-universitas di Jawa dan umumnya enggan kembali ke daerah
asalnya.
Ketimpangan pemerataan
pmbangunan ekonomi di Indonesia sepertinya merupakan warisan Pemerintah kolonial Belanda. Belanja sejak
menjajah Indonesia pada awal abad ke-18
menjadikan Jawa sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi. Sayangnya
warisan ini terus dipelihara oleh pemerintah. Pemerintahan orde Baru di bawah
Soeharto cenderung hanya mengejar pertumbuhan dan melupakan aspek pemerataan.
Strategi pembangunan yang
“kurang tepat” pada masa Orde Baru berimplikasi semakin lebarnya kesenjangan
antar wilayah. Kebijakan pertumbuhan tanpa mempertimbangkan pemerataan bahkan
menimbulkan berbagai dilema dalam pembangunan nasional di kemudian hari.
Berbagai program pemerintah tak berjalan optimal bahkan gagal, karena tak
ditopang kebijakan di sektor terkait lainnya.
Belanja Pegawai dan Subsidi
Banyak studi tentang hubungan
antara pengeluaran pemerintah dengan pertumbuhan ekonomi. Menurut Brons, de
Groot dan Nijkamp, (1999), pemerintah seharusnya dapat mempengaruhi pertumbuhan
ekonomi baik secara langsung maupun tidak langsung. Melalaui tiga instrument
kebijakan fiskal yakni pajak, pengeluaran dan keseimbangan anggaran, dalam
jangka panjang akan mempengaruhi efisiensi penggunaan sumber daya dan kemajuan
teknologi.
Namun faktanya, hubungan
antara pengeluaran pemerintah dengan pertumbuhan ekonomi tidak selalu sejalan. Menurut
Barro (1990) dampak pengeluaran pemerintah akan sangat tergantung pada
kondisinya. Kontribusi pengeluaran yang produktif akan berkorelasi positif
dengan pertumbuhan ekonomi, sedangkan pengeluaran yang tidak produktif akan
berkorelasi negatif.
Bagaimana dengan Indonesia? Dalam
tahun 2013 pemerintah menargetkan penerimaan
negara sebesar Rp1.507,7 triliun. Dibandingkan dengan tahun 2007, target penerimaan
tersebut mencapai lebih dari dua kali lipatnya. Adapun target penerimaan
terbesar masih dari penerimaan pajak yang ditargetkan mencapai Rp1.031,7
triliun atau sekitar 68,4 persen dari total penerimaan Negara.
Meskipun penerimaan negara terus
meningkat dari tahun ke tahun, apabila kita bedah komposisi pengeluaran
pemerintah nampak bahwa bagian terbesar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara (APBN) hanya dihabiskan untuk belanja pegawai, subsidi dan membayar
cicilan pokok hutang beserta bunganya. Sementara itu pengeluaran untuk pembangunan
infrastruktur kurang lebih hanya mencapai 10 persen dari belanja Negara. Bahkan
apabila dibandingkan dengan belanja subsidi, alokasi untuk pembangunan
infrastruktur tidak sampai 60 persennya. Fakta ini menunjukkan masih tingginya
beban subsidi kita.
Gambaran di atas menunjukkan
bahwa untuk mewujudkan pembangunan ekonomi yang semakin merata persoalan pokok
yang dihadapi bukan hanya sekedar masalah kualitas penyerapan belanja negara.
Apa artinya daya serap anggaran yang besar akan tetapi hanya didominasi untuk belanja
pegawai. Yang terpenting adalah
bagaimana memperbesar porsi belanja modal yang produktif yang akan berdampak
langsung pada perekonomian.
Menurunkan anggaran belanja
subsidi nampaknya sulit, karena secara politis akan berbenturan dengan Dewan
Perwakilan Rakyat. Begitu juga dengan pembayaran cicilan pokok dan bunga sulit
dihindari, karena menyangkut kredibitas pemerintah. Satu-satunya langkah yang
dapat ditempuh adalah dengan melakukan efiseinsi belanja pegawai dengan meniadakan honor-honor kegiatan dan
perjalanan dinas yang selama ini hanya berkonotasi hanya untuk menambah
penghasilan pegawai. Hasil efisiensi ini sebaiknya digunakan untuk menambah
porsi belanja modal yang produktif. Langkah ini tidak mustahil, sebab menurut Kementerian
Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi mulai tahun 2013 semua
kementerian dan lembaga diharapkan sudah mendapatkan remunerasi, sehingga tidak
ada lagi alasan untuk mengutak-atik belanja negara untuk memperkaya para
pegawai negeri, baik sipil maupun non sipil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar