Oleh:
Makmun Syadullah
Pengamat
Ekonomi
Kontan 1 Oktober 2012
Konflik antara
China dan Jepang bermula dari langkah Jepang membeli beberapa pulau sengketa
yang memang dimiliki oleh warga negara Jepang. Keputusan Jepang ini memicu
kemarahan China, yang langsung mengirim enam kapal pengintai ke perairan,
bahkan kemarahan juga diungkapkan oleh warga Tiongkok dengan menggelar
demontrasi anti Jepang.
Sengketa pembelian
pulau yang diklaim milik China, kini telah memasuki ranah ekonomi. Hal ini
ditunjukkan dengan ancaman sanksi dagang China terhadap Jepang. Jika sanksi
diberikan, diperkirakan Jepang akan kehilangan hampir 20 persen dari nilai
ekspornya ke China, sebagai negara mitra dagang utama. Bahkan ancama ini juga dikhawatirkan akan
mengurangi minat investor atas Asia pada umumnya.
Konflik sebenarnya
tidak hanya merugikan Jepang, China pun sudah dapat dipastikan juga akan
merasakan dampaknya. Penerapan sanksi ekonomi China terhadap Jepang dapat
menjadi pedang bermata dua untuk China. Sebab perekonomian kedua negara itu
saling terkait. Untuk itu Perdana Menteri Jepang, Yoshihiko Noda, memperingatkan
China bahwa kegiatan ekonomi keduanya akan terganggu oleh konflik tersebut. Namun nampaknya posisi China yang dinilai kaku
tanpa kompromi ini berpotensi akan menggerogoti keuntungan bisnis China.
Dunia kini juga mulai
mengkhawatirkan konflik China dan Jepang. Apabila tidak segera diselesaikan,
masalah ini akan meluas menjadi masalah internasional. Ujung-ujungnya, sengketa
perebutan pulau tersebut dapat mengancam pertumbuhan ekonomi global.
China dan Jepang
memiliki hubungan dagang yang sangat kuat, Bahkan bagi Jepang, China merupakan
pasar terbesar bagi barang ekspor. Dengan adanya konflik, maka Jepang
kehilangan momentum pemulihan ekonominya menyusul penurunan kinerja ekspor yang
menyebabkan pelebaran defisit neraca perdagangan Negeri Sakura. Selama ini,
sektor ekspor menjadi salah satu pilar utama di negara ekonomi terbesar nomor
tiga di dunia.
Sementara itu,
menurut China Liu Li-Gang, ekonom Australia & New Zealand Banking Group
Ltd, hanya akan merasakan dampak kecil akibat masalah ini. Hal ini disebabkan
Jepang merupakan pasar keempat terbesar bagi produk ekspor China. Tahun 2011,
nilai ekspor China ke Jepang mencapai US$ 148,3 miliar. Sementara nilai impor
China terhadap barang-barang Jepang mencapai US$ 194,6 miliar.
Dampak
ke Indonesia
Dampak konflik
China dan Jepang terhadap Indonesia dapat ditelusuri dari hubungan dagang
dengan kedua Negara tersebut. Dari sisi
hubungan dagang Indonesia dengan Jepang, negeri Sakura ini masih menjadi Negara
tujuan ekspor utama Indonesia dengan pangsa ekspor per Juni 2012 mencapai 16,93
persen,
Kinerja perdagangan
Indonesia dengan Jepang dalam periode 2000-2010 selalu menguntungkan Indonesia.
Namun surplus perdagangan ini disumbangkan oleh ekspor migas. Ekspor gas alam
pada tahun 2000 menyumbang 29,03 persen dari total ekspor dan minyak mentah
menyumbang 14,82 persen. sementara itu untuk ekspor non migas selalu
berfluktuatif namun cenderung defisit. Pada tahun 2007 surplus perdagangan
Indonesia dengan Jepang mencapai USD 17,103 juta, namun pada tahun 2010 turun
menjadi USD 8,816 juta.
Sementara itu
hubungan dagang antara Indonesia dengan China selama periode
2000-2010 menunjukkan bahwa komposisi komoditi ekspor mengalami perubahan yang
cukup drastis. Pada tahun 2000 komoditi ekspor Indonesia ke China dalam bentuk
minyak mentah (33,5 persen) dan produk kayu sebesar 12,2 persen. Namun pada
tahun 2010 komposisi komoditi ekspor Indonesia dalam bentuk batubara (17
persen) dan minyak kelapa sawit (11,3 persen). Sedangkan ekspor minyak mentah
turun drastic menjadi 4,5 persen dan kayu menjadi 4,1 persen.
Dari gambaran
hubungan perdagangan di atas, dapat diprediksikan bahwa apabila hubungan China
dan Jepang semakin memburuk, maka Indonesia akan merasakan imbasnya. Hal ini
disebabkan: Pertama, kedua Negara
tersebut hingga saat ini masih menjadi Negara tujuan ekspor Indonesia.
Akibatnya apabila perekonomian China dan Jepang terganggu akibat konflik, maka
ekspor Indonesia ke Negara-negara tersebut juga akan terganggu.
Kedua,
bagi Jepang, China juga merupakan Negara tujuan utama ekspor. Tentunya konflik
akan sangat mempengaruhi perekonomian Jepang. Apabila dampak investasi langsung
Jepang ke China diperhitungkan, maka dampaknya akan semakin besar. Secara tidak
langsung memburuknya hubungan dagang kedua
Negara ini akan berimbas pada ekspor Indonesia ke Jepang.
Dapat disimpulkan bahwa konflik China dengan
Jepang akan berdampak pada Indonesia. Dampak ini akan semakin besar bagi
Indonesia apabila krisis Eropa juga mulai dirasakan oleh Cina dan jepang. Untuk
itu Indonesia harus menyikapinya dengan tidak lagi bertumpu pada tujuan ekspor
kedua Negara ini karena cukup membahayakan. Ujung-ujungnya yang paling
terasa adalah transaksi berjalan akan semakin dalam
posisi membahayakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar