Kamis, 02 Februari 2012

Harga Timah di Indonesia Lebih Tinggi dari LME

http://www.indonesiafinancetoday.com/read/21704/Harga-Timah-di-Indonesia-Lebih-Tinggi-dari-LME

JAKARTA (IFT) - Perdagangan perdana komoditas timah di Bursa Komoditi dan Derivatif yang berlangsung pada Rabu masih sepi peminat yang ditandai dengan tipisnya volume transaksi. Kendati demikian, harga timah dengan kode perdagangan INATIN tersebut ditutup pada US$ 24.500 per ton, lebih tinggi dari harga di London Metal Exchange (LME) yang sebesar US$ 24.290 per ton.
Wachid Usman, Direktur Utama PT Timah Tbk (TINS), mengatakan harga penutupan itu menunjukan Bursa Komoditi sebagai pasar spot mampu menyaingi London Metal Exchange. "Harga timah di Bursa Komoditi harus dijaga kredibilitasnya agar Indonesia mampu bersaing dengan pasar komoditas di luar negeri," ujarnya.

Menurut Wachid, harga timah saat ini memperlihatkan gejala rebound yang dipicu menipisnya persediaan (inventory) di
London Metal Exchange. "Persedian semakin menipis menjadi sekitar 9.300 ton dari biasanya 16 ribu ton," ucapnya.

Peluncuran kontrak perdagangan fisik timah ditandai dengan masuknya 13 perusahaan sebagai anggota baru Bursa Komoditi, yang mencakup tujuh penjual (seller) dan enam pembeli (buyer), antara lain PT Timah Tbk (TINS), 3H CO Ltd, Gold Matrix Resources Ltd, Purple Products Pvt Ltd, PT Tambang Timah, PT Mitra Stania Prima, PT Comexindo International, PT Timah Industri, dan PT Refined Bangka Tin.

Megain Widjaja, Direktur Utama Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia, mengakui volume transaksi masih sangat kecil, yaitu dua lot. Sebelumnya Bursa Komoditi menargetkan transaksi harian sebesar 50-100 lot.

Kontrak perdagangan fisik timah diluncurkan setelah sempat dua kali tertunda, yaitu pada 15 Desember 2011 dan 12 Januari 2012. Penundaaan ini agar pihak-pihak yang berkepentingan memiliki waktu lebih panjang untuk mempersiapkan diri.

Kontrak pertagangan timah menggunakan satuan lot yang setara 5 metrik ton. Harga menggunakan dolar Amerika Serikat dengan kelipatan US$ 5 per metrik ton. Mutu timah yang diperdagangkan berkadar kemurnian minimum 99,85%. Sementara pasar fisik berada di Pelabuhan Muntok dan Pelabuhan Pangkal Pinang, Pulau Bangka, serta pelabuhan lain yang sewaktu-waktu bisa ditetapkan oleh Bursa Komoditi.

Kontrak perdagangan timah hadir karena Indonesia sebagai pengekspor timah terbesar di dunia dengan kontribusi lebih dari 30% harus memiliki daya tawar yang lebih tinggi di pasar internasional. Perdagangan ini akan menjadi sarana lindung nilai, sekaligus jalur pembentukan harga yang efektif dan transparan. "Indonesia harus menjadi price leader. Artinya, harga di Indonesia menjadi acuan untuk harga komoditas timah di pasar internasional," ujar Megain.

Menurut data Kementerian Perdagangan, nilai ekspor timah Indonesia sepanjang 2011 mencapai US$ 2,37 miliar, naik 38% dibandingkan 2010 sebesar US$ 1,71 miliar. Toto Rusbianto, Kepala Sub-Direktorat Ekspor Produk Pertambangan Kementerian Perdagangan, mengatakan selain faktor harga, kenaikan nilai ekspor juga ditopang peningkatan volume penjualan, meski di kuartal terakhir ada gerakan moratorium ekspor yang dilakukan sejumlah produsen akibat turunnya harga. Volume ekspor timah pada 2011 mencapai 95.969 ton atau naik 3,7% dibandingkan tahun sebelumnya 92.486 ton.
Mengacu pada volume dan nilai ekspor, harga jual rata-rata timah Indonesia tahun lalu mencapai US$ 24.695 per ton atau naik 33,5% dibandingkan 2010 sekitar US$ 18.489 per ton. Sementara harga rata-rata logam timah di London Metal Exchange sepanjang 2011 tercatat US$ 25.956 per ton, lebih tinggi 27% dibandingkan tahun sebelumnya US$ 20.408 per ton. Harga timah di bursa itu  sempat menyentuh US$ 17 ribu per ton pada kuartal III 2011  akibat aksi spekulan yang memanfaatkan sentimen krisis utang Eropa.



Emas

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), badan usaha milik negara di bidang pertambangan, mengestimasikan pendapatan dari penjualan emas sepanjang tahun lalu mencapai Rp 3,7 triliun, naik 56% dari 2010 sebesar Rp 2,37 triliun. Peningkatan itu terutama disebabkan kenaikan harga jual rata-rata sebesar 32% menjadi US$ 1.620,44 per troy ounce. Penjualan emas berkisar 36% dari total pendapatan Aneka Tambang tahun lalu yang diestimasikan Rp 10,3 triliun.

Bimo Budi Satriyo, Sekretaris Perusahaan Aneka Tambang mengatakan, volume produksi emas pada 2011 tercatat sebesar 2.667 kilogram. Rinciannya, dari tambang Pongkor 1.987 kilogram dan tambang Cibaliung 680 kilogram. "Volume produksi emas tahun lalu turun 4% karena turunnya produksi emas Pongkor seiring dengan penurunan kadar bijih emas yang ditambang," ujarnya.

Meski produksi turun, volume penjualan emas naik 22% mencapai 8.009 kilogram dari 6.561
kilogram. Volume penjualan itu mencakup penjualan yang berasal dari pemurnian emas pihak ketiga."Capaian volume penjualan emas melebihi target yang dipatok sebesar 5.820 kg," kata Bimo.
Tahun ini, Aneka Tambang menargetkan peningkatan produksi emas tambang Pongkor menjadi 3.109 kilogram. Begitu juga tambang Cibaliung yang produksinya ditargetkan naik menjadi 1.100 kilogram. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar