Kamis, 02 Februari 2012

Empat Bank Besar Miliki CASA di Atas Rata-rata Industri

http://www.indonesiafinancetoday.com/read/21701/Empat-Bank-Besar-Miliki-CASA-di-Atas-Rata-rata-Industri

JAKARTA (IFT) – Empat dari sepuluh bank dengan aset terbesar di Indonesia memiliki porsi dana murah atau current account saving account (CASA) di atas rata-rata industri yang sebesar 54,13%, menurut Departemen Riset IFT. Bank-bank tersebut juga dapat memberikan bunga kredit lebih rendah dibandingkan bank-bank lain.


Bank yang mempunyai porsi CASA tertinggi adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Hingga September 2011, dari total dana pihak ketiga (DPK) perseroan sebesar Rp 301,25 triliun, porsi CASA mencapai 77,7% atau Rp 234,07 triliun. Porsi CASA BCA pada September 2011 tersebut meningkat 270 basis poin dibandingkan periode yang sama tahun 2010 di level 75%.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menempati posisi kedua dengan porsi CASA 59,57% atau Rp 190,8 triliun hingga September 2011, naik tipis dibanding periode yang sama 2010 di level 58,01%.

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) memiliki porsi CASA terbesar ketiga di level 58,7% hingga September 2011 dari level 57% pada periode yang sama 2010. Produk tabungan Bank Mandiri meningkat 22,7% menjadi Rp 148 triliun, sedangkan giro naik 16,9% menjadi Rp 73,4 triliun. Produk deposito naik 12,5% menjadi Rp 155 triliun.

Pada posisi keempat adalah PT BNI Tbk (BBNI) dengan porsi CASA 59% hingga September 2011. Level CASA BNI naik 17% atau kurang lebih Rp 17,8 triliun dibanding periode yang sama tahun 2010 yang tercatat 56%.

Dari sepuluh bank dengan aset terbesar, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) yang memiliki porsi CASA terendah. Hingga September 2011, porsi CASA BTN berada di level 36,6%, naik signifikan 320 basis poin dibanding periode yang sama 2010 di level 33,1%.

Pemberian Hadiah

Menurut Suwignyo Budiman, Direktur BCA, perseroan membukukan dana pihak ketiga sekitar Rp 323 triliun hingga Desember 2011, naik 16,38% dibanding tahun 2010 sebesar Rp 277,53 triliun. Dari porsi tersebut, hampir 80% atau Rp 258,4 triliun adalah porsi dana murah berupa tabungan dan giro.

Perusahaan ke depan tetap akan mempertahankan porsi dana murah sebesar 80% dari total dana nasabah. Pada 2012, perseroan menargetkan pertumbuhan dana nasabah 10% atau lebih rendah dibanding rencana pertumbuhan kredit sebesar 20%-22%. “Rencana pertumbuhan dana nasabah memang lebih rendah dibanding kredit karena kalau lebih tinggi, loan to deposit ratio (LDR) kami tidak akan pernah naik,” jelas Suwignyo kepada IFT.

Untuk mempertahankan porsi dana murah, perseroan akan memberikan kemudahan-kemudahan bagi nasabah, seperti fasilitas internet banking, pemberian layanan belanja secara online kepada nasabah, serta pemberian hadiah. “Selama belum ada larangan dari Bank Indonesia, pemberian hadiah tetap akan dilakukan untuk menambah porsi tabungan. Porsinya juga kecil dari total biaya operasional jadi masih memungkinkan,” tutur Suwignyo.


Irman A Zahiruddin, Managing Director BTN, mengungkapkan sepanjang 2011 membukukan kenaikan dana pihak ketiga sebesar 33% menjadi Rp 60,28 triliun dibanding periode yang sama 2010 sebesar Rp 45,32 triliun. Peningkatan dana tersebut ditopang penambahan dana murah sebesar 37% menjadi Rp 21,66 triliun dibanding 2010 sebesar Rp 15,81 triliun.

Peningkatan dana murah tersebut disebabkan beberapa program BTN. "Ada beberapa program baru yang sebelumnya tidak ada, seperti layanan nasabah prima. Dulu kami tidak mempunyai program untuk menahan dana, sekarang kami fokus pada pembenahan layanan," jelas Irman.

Selain itu, perseroan melakukan kerja sama business to business, seperti kerja sama dengan PT Pos Indonesia. Dana murah perseroan dari kerja sama dengan PT Pos meningkat 40% menjadi Rp 1,8 triliun pada 2011 dibanding 2010 sekitar Rp 1,3 triliun.

Tahun ini, perseroan memperkirakan porsi CASA akan mendekati 40% dari total DPK. "Peningkatan dana murah bukan sesuatu yang mudah dilakukan karena selain tabungan yang meningkat, dana deposito juga naik," tuturnya.

Tahun ini, BTN akan melanjutkan beberapa program yang sebelumnya berhasil meningkatkan dana murah. Secara total, perseroan menargetkan peningkatan DPK sebesar 30% menjadi sekitar Rp 78,36 triliun.

Bunga Rendah

Menurut Departemen Riset IFT, bank dengan CASA lebih rendah dapat memberikan bunga kredit yang rendah. Tingginya porsi CASA akan membuat cost of fund bank kecil sehingga bunga kredit yang dikenakan kepada debitor bisa rendah.

Berdasarkan data Bank Indonesia, per November 2011 rata-rata suku bunga dasar kredit untuk kredit korporasi di level 10,36%. Rata-rata bunga dasar kredit untuk kredit ritel di level 11,78% sedangkan untuk kredit konsumsi khusus kredit pemilikan rumah (KPR) 10,82%. Rata-rata bunga dasar kredit untuk kredit konsumsi non-KPR di level 11,68%.

Bank yang memiliki CASA tinggi memiliki bunga dasar kredit lebih rendah dibanding rata-rata industri. Contohnya BCA yang pada November 2011 memiliki bunga dasar kredit korporasi di level 9%, kredit ritel 10,50%, KPR 7,50%, dan kredit konsumsi non-KPR 8,64%.

Bank yang mampu menurunkan bunga dasar kredit cukup signifikan adalah Bank Mandiri dan BRI. Pada Desember 2011, Bank Mandiri menurunkan suku bunga dasar kredit untuk masing-masing kategori sebesar 50 basis poin.

Hal yang sama juga dilakukan BRI. Sofyan Basir, Direktur Utama BRI, mengatakan pada Januari 2012 perseroan menurunkan bunga dasar kredit untuk masing-masing kategori sebesar 100 basis poin. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar