Mengonsumsi obat bebas ter nyata juga butuh kehatihatian.
Kunjungan Amin Solikhah (54 tahun) ke dokter boleh dihitung dengan jari. Bukan karena tak pernah sakit. Ia menganggap tak semua penyakit perlu dibawa ke dokter. Pusing, pilek, batuk bisa ditangani sendiri.Obat yang dijual bebas di warung sudah cukup manjur untuk menyembuhkan penyakit semacam itu. Amin mengaku tak pernah pergi ke dokter jika kondisinya tak parah. "Paling kalau sudah tiga hari tak juga sembuh dan kondisi badan semakin buruk, saya baru pergi ke dokter," kata Amin kepada Republika, Rabu (28/9).
Untuk mengobati diri, Amin mengaku tak pernah berganti-ganti merek. Ia sudah menemukan obat yang cocok sejak puluhan tahun silam. Obat pusing yang sering ia konsumsi, sebut saja merek X. Namun, ia mengonsumsi sekali sehari, padahal dalam dosis yang tertera dianjurkan untuk minum sehari tiga kali. Alasan Amin, takut menggunakan obat dengan dosis terlalu banyak.
Bebas dan bebas terbatas
Menurut ahli farmasi, Rosa Ika Wijayanti, masyarakat awam memang diperbolehkan mengonsumsi obat bebas. Cara mengenali obat bebas adalah dengan melihat kemasan, ada label berbentuk lingkaran berwarna hijau.
Selain itu, ada pula obat yang disebut dengan "obat bebas terbatas", yaitu obat berlabel lingkaran biru. "Obat bebas terbatas" awalnya merupakan obat keras namun banyak dikonsumsi orang sehingga dijadikan obat bebas terbatas. "Contohnya obat batuk. Orang tidak boleh menggunakan secara sembarangan karena ada beberapa kandungan yang menimbulkan efek tertentu," kata Rosa kepada Republika.
Sering kali, pengguna obat hanya melihat fungsi obat saja tanpa melihat kandungan maupun efek sampingnya. Padahal, kandungan obat yang tak tepat sering kali menimbulkan efek yang justru lebih berbahaya bagi tubuh. "Misalnya saja penderita jantung yang sedang batuk. Jika tidak jeli, ada beberapa obat yang mempunyai efek jantung berdebar. Sehingga, jika dikonsumsi oleh penderita jantung, justru akan membuat kondisi jantungnya semakin parah," kata Rosa.
Alumnus Ilmu Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) itu mengingatkan, yang harus diperhatikan dalam membeli obat bebas adalah dengan membaca info dalam kemasan. Seperti, indikasi/tujuan penggunaan obat dan efek samping. Selain itu, pengguna obat juga harus membaca kontradiksi di mana obat tidak boleh digunakan pada penderita penyakit tertentu karena dapat memperparah penyakit atau membahayakan pasien.
Tiga hari
Pemakaian obat bebas tidak boleh lebih dari tiga hari. Jika selama tiga hari mengonsumsi obat bebas dan tak kunjung sembuh juga, pasien wajib berkonsultasi ke dokter. Ditakutkan, pasien mengalami efek samping yang justru semakin memperparah kondisi kesehatan. Selain tak boleh lebih dari tiga hari, pasien juga tak boleh menggunakan obat tertentu dalam jangka waktu yang lama tanpa petunjuk dokter atau apoteker. "Kejadian yang paling sering terjadi adalah penggunaan obat maag. Penggunaan jangka panjang tanpa pengawasan berakibat dengan kerusakan ginjal," katanya.
Selain obat maag, Rosa mengingatkan agar mewaspadai penggunaan obat analgesik secara berkepanjangan. Analgetik yang merupakan obat penghilang rasa sakit di antaranya ada dalam kandungan obat asma. Obat penghilang rasa sakit semacam ini memang memberikan efek yang sangat nyaman bagi penderita asma, yaitu membuat napas lega. Namun, obat analgesik jika dikonsumsi secara terus-menerus akan menimbulkan efek samping berupa moon face, yaitu penyakit yang membuat muka bengkak.
Harus waspada
Ketika mengonsumsi obat bebas dan tak juga sembuh, terkadang si sakitlah yang malas pergi ke dokter. Mereka memilih untuk mengganti merek obat. Menurut Rosa, hal tersebut diperbolehkan, namun sebisa mungkin dihindari. Mengapa? "Gonta-ganti obat bisa menyebabkan kondisi penyakit bertambah parah dan membuat penyakit semakin kebal," kata dia.
Selain itu, dengan berganti-ganti obati, si sakit ditakutkan justru mengalami efek samping berlebih. Sehingga, menurut Rosa, walaupun ingin berganti merek obat, sebaiknya dikonsultasikan dulu ke apoteker yang ada di apotek ataupun dokter untuk memilih obat yang tepat.
Rosa mengingatkan agar tidak menyepelekan penyakit yang terkesan ringan. Sebut saja batuk. Batuk, jelas dia, bisa jadi hanya merupakan gejala, bukan penyakit. Penyakit sebenarnya bisa jadi TBC ataupun asma. "Sehingga, sangat perlu untuk segera berkonsultasi ke dokter."
Walaupun obat bebas boleh dikonsumsi tanpa konsultasi kepada dokter, Rosa menggarisbawahi bahwa pengobatan semacam itu hanya sebagai pertolongan pertama. Lebih lanjut, sebaiknya tetap dikonsultasikan kepada dokter atau apoteker agar mendapat penanganan yang tepat. c09 ed: nina chairani
Kesalahan Umum Seputar Obat Bebas
Apoteker Rosa Ika Wijayanti melihat, pada praktiknya orang-orang sering kali mengabaikan banyak hal saat mengonsumsi obat. Berikut beberapa kesalahan yang kerap dilakukan:
- Obat antibiotik adalah obat yang harus dikonsumsi sampai habis. Sering kali orang yang mengonsumsi obat antibiotik tidak mau menghabiskan. Saat merasa kon disi sudah lebih baik dan obat belum habis, ia biasanya menghentikan konsumsi obat. Pa dahal, jika obat antibiotik tidak dikonsumsi sampai habis, maka penyakit akan kebal dan jika kambuh lagi akan sulit disembuhkan.
- Si sakit sering mengabai kan waktu konsumsi obat. Semi sal, dalam dosis ada aturan penggunaan 3 x sehari. Karena dalam sehari ada 24 jam, maka pasien ha rus meminum obat dengan dosis tersebut selama delapan jam sekali. Namun, pasien sering salah dalam estimasi waktu. Yang paling sering adalah antara waktu sarapan dan makan siang, di mana saat sarapan pukul 07.00 dan makan siang pukul 12.00. Pada saat itu, jangka wak tu baru lima jam namun pa sien sudah mengonsumsi obat lagi. Pada jangka waktu yang le bih panjang, bisa jadi bakteri jus tru membentuk pertahanan diri sehingga penya kit menjadi lebih kebal dan semakin sulit disembuhkan.
- Banyak orang tak memerhatikan cara penyimpanan obat. Mereka menyimpan di tempat panas sehingga menyebabkan kandungan obat rusak. Ada pula penyimpanan obat berbentuk sirup. Sebaiknya, obat berbentuk sirup, setelah dibuka segel disimpan di dalam kulkas. Perlu diperhatikan pula adalah jangka waktu obat sirup setelah dibuka segelnya. Untuk obat sirup yang sudah dibuka segelnya dan tidak disimpan di dalam kulkas, hanya boleh dikonsumsi tujuh hari setelah obat dibuka. Sedangkan untuk obat sirup yang disimpan di dalam kulkas, obat sirup bisa bertahan selama satu bulan setelah segel dibuka. Selebihnya, obat jangan dikonsumsi lagi karena ditakutkan sudah tercemar bakteri dan kandungan obatnya telah rusak. c09 ed: nina ch
Tidak ada komentar:
Posting Komentar