Selasa, 26 April 2011

Rupiah bisa tembus Rp8.500 per dolar AS

JAKARTA: Pelemahan mata uang dolar AS diperkirakan akan terus berlanjut dan dapat mendorong penguatan rupiah hingga menembus level Rp8.500 per dolar AS sebelum triwulan IV/2011.

Fauzi Ichsan, Ekonom Senior Standard Chartered Bank, mengatakan The Federal Reserve kemungkinan akan mempertahankan suku bunga overnight pinjaman antar bank di yang mendekati 0% pada pertemuan pekan ini.

Dia memperkirakan bank sentral AS akan terpaksa mengambil kebijakan mempertahankan suku bunga acuan di level rendah sampai dengan 2012 karena kondisi perekonomian yang masih rentan.

"Ekonomi AS masih rentan. Dampak terhadap pertumbuhan ekonomi akan negatif jika bank sentral mengambil kebijakan menaikkan suku bunga," katanya, hari ini.


Dia melanjutkan kebijakan itu mendorong ekses likuiditas dari negara tersebut pergi mencari pasar keuangan di negara lain yang dapat memberikan imbal hasil lebih tinggi. Dia menyebutkan tiga negara yang menjadi pasar utama tujuan aliran dana (capital inflow) global saat ini adalah Indonesia, Brazil, dan Korea.

"Dalam menempatkan dana obligasi, pasar global mengacu ke Government Bond Index-Emerging Market [GBI-EM]. Saat ini GBI-EM mengalokasikan 10% portofolio ke obligasi pemerintah Indonesia," katanya.

Hari ini nilai tukar rupiah menguat menyusul spekulasi bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga acuan di level level 0%-0,25% pada pertemuan 27 April mendatang dan meningkatkan arus dana ke pasar negara berkembang yang berimbal hasil lebih tinggi.

Rupiah menguat 4,4% pada tahun ini dan menjadi mata uang dengan kinerja kedua terbaik di antara 10 mata uang Asia yang paling aktif diperdagangkan. Suku bunga acuan bank sentral Indonesia sebesar 6,75% menarik masuknya aliran dana asing.

Rupiah menguat 0,11% menjadi Rp8.608 per dolar AS pada pukul 14:16 di Jakarta, menguat dibandingkan Rp8.629 per dolar AS pada sesi sebelumnya 21 April 2011. Pasar keuangan di Indonesia ditutup pada 22 April untuk libur umum. Sebelumnya rupiah menyentuh Rp8.600 per dolar AS yang merupakan level tertinggi sejak April 2004.

Berdasarkan data perdagangan, pengelola dana asing melakukan pembelian lebih dari US$145,5 juta saham di dalam negeri, lebih tinggi dibandingkan nilai saham yang dijual pada bulan ini.

Berdasarkan data yang dilansir Kementerian Keuangan, kepemilikan asing terhadap obligasi pemerintah naik 11% dari posisi akhir Desember 2010 menjadi Rp217,29 triliun atau setara dengan US$25,2 miliar pada 20 April. (bsi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar