JAKARTA--MICOM: Kementerian Keuangan mencatat penggunaan volume Bahan Bakar Minyak (BBM) hingga Maret 2011 mencapai angka 9,6 juta kiloliter dari asumsi APBN sebesar 38,6 juta kiloliter.
"Realisasi konsumsi BBM subsidi lebih tinggi dari perkiraan. Realisasi mencapai 9,7 juta kilo liter, 6,85 persen lebih tinggi dari tahun lalu 9,06 juta kiloliter," ujar pelaksana tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Bambang Brodjonegoro di Jakarta, Kamis (14/4).
Pemerintah juga telah memberikan subsidi sebesar Rp32,4 triliun yang meliputi subsidi energi untuk BBM mencapai Rp18,1 triliun, listrik Rp6,5 triliun, dan nonenergi pangan Rp7,6 triliun. Realisasi konsumsi BBM bersubsidi tersebut menunjukkan peningkatan akibat bertambahnya volume kendaraan di Indonesia.
Terkait perkembangan harga minyak dunia yang meningkat dan situasi perkonomian global, Bambang menjelaskan realisasi ICP minyak hingga Maret mencapai US$104,5 dan lifting minyak hanya mencapai 906.000 barel per hari. Padahal, asumsi dalam APBN ICP minyak ditetapkan sebesar US$80 per barel dan lifting sebesar 970.000 barel per hari.
"Kami tetap melakukan review dan menjaga agar sesuai dengan asumsi APBN, karena pergerakan harga minyak selalu unik dan 95 persen peluang terjadinya harga minyak selalu bergerak pada angka US$35-120 seperti 2009," ujar Bambang. (Ant/OL-5)
"Realisasi konsumsi BBM subsidi lebih tinggi dari perkiraan. Realisasi mencapai 9,7 juta kilo liter, 6,85 persen lebih tinggi dari tahun lalu 9,06 juta kiloliter," ujar pelaksana tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Bambang Brodjonegoro di Jakarta, Kamis (14/4).
Pemerintah juga telah memberikan subsidi sebesar Rp32,4 triliun yang meliputi subsidi energi untuk BBM mencapai Rp18,1 triliun, listrik Rp6,5 triliun, dan nonenergi pangan Rp7,6 triliun. Realisasi konsumsi BBM bersubsidi tersebut menunjukkan peningkatan akibat bertambahnya volume kendaraan di Indonesia.
Terkait perkembangan harga minyak dunia yang meningkat dan situasi perkonomian global, Bambang menjelaskan realisasi ICP minyak hingga Maret mencapai US$104,5 dan lifting minyak hanya mencapai 906.000 barel per hari. Padahal, asumsi dalam APBN ICP minyak ditetapkan sebesar US$80 per barel dan lifting sebesar 970.000 barel per hari.
"Kami tetap melakukan review dan menjaga agar sesuai dengan asumsi APBN, karena pergerakan harga minyak selalu unik dan 95 persen peluang terjadinya harga minyak selalu bergerak pada angka US$35-120 seperti 2009," ujar Bambang. (Ant/OL-5)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar