BANDUNG: Beberapa unit usaha syariah (UUS) milik bank pembangunan daerah (BPD) siap memisahkan usaha (spin off) unit usaha syariah (UUS) untuk mengembangkan bisnis bank syariahnya pada 2011.
Syafi'i Antonio, Direktur Utama Tazkia Group—konsultan perbankan syariah, mengatakan pihaknya sedang menangani aksi korporasi spin off UUS beberapa BPD yang akan dilakukan tahun ini.
“Salah satunya ialah BPD Aceh yang sudah siap spin off. Aksi korporasi itu sudah disetujui rapat umum pemegang saham [RUPS] dan masuk rencana bisnis,” katanya di sela-sela peluncuran gerakan santri menanam di Bandung Barat, akhir pekan lalu.
Menurut dia, proses pemisahan usaha untuk BPD lebih cocok menggunakan pola menyuntik modal pada UUS dibandingkan dengan akuisisi bank lain. Alasannya, bank umum syariah (BUS) baru yang nantinya beroperasi bisa menjadi lebih bersih.
“Kalau akuisisi kan harus cuci piring lagi. Sementara itu, kalau suntik modal kondisinya sudah clean,” ujarnya.
Dia mengatakan banyak keuntungan BPD melakukan spin off UUS, antara lain lebih mudah melakukan eksekusi pembiayaan, lebih mudah dalam pengaturan gaji karyawan.
“Setelah Bank Jabar Banten Syariah menjadi BUS, banyak BPD yang juga ingin melakukan spin off,” ujarnya.
Di sisi lain, Antonio memrediksikan pangsa pasar perbankan syariah tahun ini baru bisa mencapai 4% terhadap bank umum konvensional.
“Sekarang posisi market share bank syariah baru sekitar 3,2%. Bisa tumbuh menjadi 5%, tetapi harus ada percepatan,” katanya.
Bank syariah, kata dia, harus mampu mencatatkan pertumbuhan usaha hingga 100%--200% untuk merealisasikan pangsa pasar menjadi 5%.
Sementara itu, kenyataannya pertumbuhan industri perbankan syariah selama ini berkisar antara 40%--60%.
Artinya, industri perbankan syariah, lanjutnya, harus bekerja keras untuk berupaya mencapai pangsa pasar 4%--5% pada 2011.
“Tetapi, industri perbankan syariah sangat bergantung kepada pertumbuhan sektor riil. Oleh karena itu butuh infrastruktur dan birokrasi yang mudah agar sektor riil dan industri perbankan syariah bisa terus bergerak,” ujarnya.
Dia mencotohkan perbankan syariah akan sulit membiayai invetasi pabrik atau ekspor apabila tidak ada infrastruktur dan kebijakan birokrasi yang mendukung.
“Bagaimana orang mau mendirikan pabrik kalau infrastrukturnya tidak mendukung? Akibatnya, pembiayaan perbankan syariah pun menjadi terlambat,” ujarnya.
Selain itu, kata dia, perbankan syariah harus lebih siap bersaing dengan bank umum konvensional yang mengiming-imingi suku bunga simpanan tinggi.
“Kesadaran masyarakat [menyimpan dana di bank syariah] tidak bisa hanya hanya mengedepankan ini surga dan ini neraka. Bank syariah harus bisa menunjukkan angka, sehingga bisa bersaing dari sisi itu,” katanya.(k35/ln)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar