Senin, 03 Januari 2011

Komitmen Menuju Bank Ramah Lingkungan

PEDULI LINGKUNGAN, Peserta safari sepeda BNI secara serentak membuat lubang resapan biopori di Jakarta beberapa waktu lalu.           

Hingga saat ini belum ada satu pun bank di Indonesia yang mendeklarasikan diri sebagai bank ramah lingkungan (green bank).Padahal,aspek keberlanjutan yang merupakan napas green bank sangat penting bagi kelangsungan bisnis masa depan. Bank Dunia mendefinisikan green bank sebagai bank yang menempatkan aspek keberlanjutan pada prioritas utama bisnisnya.Konsep bank ramah lingkungan mengamanatkan kepada setiap lembaga keuangan untuk mempertimbangkan kelangsungan generasi penerus dalam perencanaan bisnis jangka panjang mereka.

Pembangunan berkelanjutan (sustainable development) akhirakhir ini menjadi salah satu isu global yang sangat populer, tak terkecuali di Indonesia.Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk serius menerapkan konsep pembangunan berkelanjutan yang mendasarkan diri pada filosofi triple bottom line, yakni profit,planet,dan people(3P). Sebagai salah satu agen pembangunan, BNI bertekad mendukung pembangunan berkelanjutan dengan mengintegrasikan isu lingkungan ke dalam setiap perencanaan bisnis maupun nonbisnis, secara eksternal maupun internal.

Inilah positioning BNI ke depan yang menjadi pembeda dengan bank lain di Indonesia. ”Sejak 2005 secara implisit BNI mulai berfokus pada isu lingkungan dan sosial.Untuk itu,sejak 2009 BNI mereformulasi salah satu misinya, yakni meningkatkan kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan dan sosial,” ungkap Group Head Corporate of Sustainability BNI Sakariza Qori Hemawan kepada harian Seputar Indonesia (SINDO) di Jakarta belum lama ini.

Menurut Riza––sapaan akrab Sakariza––, pemilihan tema lingkungan didasarkan pada identifikasi potensi hot issueke depan.Salah satu isu global yang menjadi sorotan tajam dalam beberapa tahun terakhir adalah perubahan iklim (climate change).Kesadaran masyarakat terhadap potensi bahaya akibat perubahan iklim dan perubahan lingkungan yang ekstrem pun meningkat. Bahkan,kepedulian terhadap lingkungan diprediksi menjadi tren gaya hidup (lifestyle) globaldimasadepan.

”Banksebagai institusi bisnis seyogianya merespons fenomena tersebut dengan mengubah paradigma berbisnis, yaitu dengan melakukan bisnis hijau atau green business,”ujarnya. Riza berpandangan,saat ini kontribusi perbankan nasional masih relatif rendah dalam hal penerapan bisnis hijau. Dalam konteks perbankan, bisnis hijau dipersepsikan dengan penyaluran kredit yang ramah lingkungan atau dikenal dengan istilah kredit hijau (green lending). Kredit hijau dapat diartikan sebagai fasilitas pinjaman dari lembaga keuangan kepada debitor yang bergerak di sektor bisnis yang tidak berdampak pada penurunan kualitas lingkungan maupun kondisi sosial masyarakat.

”Bank yang menerapkan bisnis hijau inilah yang disebut green bank. Sayangnya, saat ini belum ada satu pun bank di Indonesia yang mendeklarasikan diri sebagai green bank dan regulasi formalnya pun belum ada,”bebernya. Menurut Riza, meskipun tidak ada peraturan di Indonesia yang mendorong bank-bank untuk berfokus pada penyaluran kredit di sektor green lending, BNI berupaya menginisiasi diri sendiri melalui dua hal, yakni bersifat tangible (berwujud nyata) dan intangible (tidak kasatmata).

Hal ini ditempuh antara lain melalui upaya meningkatkan portofolio kredit di sektor ramah lingkungan, misalnya sektor energi terbarukan seperti geotermal, biofuel, minihydro, industri kreatif, agroindustri, dan kehutanan. ”Kita juga sudah melakukan kerja sama dengan berbagai pihak terkait untuk melakukan kemitraan strategis (strategic partnership)”ungkapnya. Riza menambahkan, saat ini BNI memang belum bisa disebut green bank karena belum sepenuhnya menerapkan prinsip-prinsip sustainability.

Kendati demikian, embrio menuju green bank ditunjukkan melalui komitmen yang tercantum dalam salah satu misi BNI serta road map sustainability yang mulai digarap serius sejak 2009. Sebagai tindak lanjut, BNI juga membentuk corporate sustainability team atau CST yang bertugas mengawal supaya BNI on the right trackmenuju green bank. ”Saat ini BNI merupakan satusatunya bank di Indonesia yang memiliki sustainability report atau SR sebagai pelengkap annual report atau AR. SR 2009 memberikan nilai jual bagi BNI karena bisa meyakinkan pemegang saham bahwa BNI peduli terhadap lingkungan dan berorientasi jangka panjang.

Alhasil sejak 2009 BNI termasuk di antara 25 perusahaan dalam daftar Sustainable and Responsible Investment (SRI – Kehati),” paparnya. Lebih lanjut Riza mengungkapkan, strategi untuk menjadikan BNI sebagai greenbankdilakukan dengan mengadopsi teori empat penjuru mata angin, yakni north (selatan) yang dikonversi menjadi nature (alam) sebagai cerminan strategi untuk berkontribusi terhadap konservasi lingkungan. South (selatan) yang dikonversi menjadi social mengacu pada program BNI dalam memberdayakan komunitas dan masyarakat.

West (barat) dikonversi menjadi well being yang dimaksudkan sebagai upaya BNI dalam meningkatkan kesadaran pegawai terhadap lingkungan serta mengedukasi karyawan supaya berperilaku hidup hijau (green attitude) melalui internalisasi prinsipprinsip keberlanjutan (principles of sustainability). ”Yang paling berat adalah east yang kami konversi sebagai economy. Inilah penyeimbang dari tiga arus utama lainnya. Artinya, secara ekonomi strategi dari ketiga stream lainnya juga harus memberi kontribusi positif terhadap peningkatan bisnis BNI,”tuturnya.

Riza menambahkan, strategi empat penjuru mata angin tersebut juga selaras dengan logika pembangunan berkelanjutan yang berbasis 3P, yakni profit, planet, people. Artinya, setiap program yang digulirkan BNI diupayakan menyentuh tiga hal tersebut. Sebagai contoh, proyek Hutan Kota ataupun Kampoeng BNI sebagai salah satu wujud pemberdayaan masyarakat sekaligus mendukung upaya konservasi alam. ”Jangan sampai yang kita kasih ke masyarakat ternyata justru mengeksploitasi alam secara berlebihan. Artinya antara people dan planet harus bersinergi.

Dan yang terpenting di masa mendatang kita harus yakin bahwa program tersebut mampu memberdayakan dan membuat masyarakat lebih mandiri dalam berwirausaha,”tandasnya. Saat ini perbankan di sejumlah negara maju telah memosisikan diri sebagai green bank dengan implementasi program ”hijau” baik secara internal dan eksternal maupun yang terkait dengan bisnis dan nonbisnis. Tidak hanya di negara maju, di negara berkembang pun banyak bermunculan green bank seperti Industrial and Commercial Bank of China (ICBC), Development Bank of the Philippines (DBP), dan Banco Real of Brasil yang mendapat sustainable bank award pada 2008. (inda susanti)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar