JAKARTA(SINDO) – Bank Indonesia (BI) berupaya menjaga tren positif pertumbuhan ekonomi pada tahun mendatang.Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah mewaspadai ancaman laju inflasi pada 2011 agar tidak melampaui target.
Gubernur BI Darmin Nasution menjelaskan, BI merumuskan tiga hal untuk sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter.Yakni pengendalian inflasi agar tidak melampaui target seperti tahun ini, melakukan koordinasi yang baik antara pemerintah dan BI untuk mengantisipasi banjir dana asing yang masuk (capital inflow), dan menyiapkan kemampuan untuk menghindari penarikan modal yang terjadi tiba-tiba. ”Kita harus punya kemampuan diri sendiri,seperti yang kita punya seperti cadangan devisa yang sudah baik.
Ini sudah kita koordinasikan tadidenganMenkeudanMenkoPerekonomian dan menteri lainnya,” jelasnya seusai menghadiri rapat terbatas bidang ekonomi di Kantor Kepresidenan Jakarta kemarin. Selain melakukan koordinasi kebijakan, BI juga akan menerbitkan serangkaian peraturan dan kebijakan dalam sektor perbankan. Tujuan koordinasi itu, antara lain untuk mendorong efisiensi di sektor perbankan sehingga sektor kredit bisa didorong turun secara perlahan.
Ke depan, BI juga telah menyiapkan sejumlah kegiatan yang disebut sebagai financial inclusion, yang mengikutsertakan masyarakat untuk menggunakan jasa-jasa perbankan dan keuangan pada umumnya, baik menabung atau kredit. Darmin menjelaskan, pada 2010 pertumbuhan ekonomi akan mencapai 6%. Pertumbuhan ini terpengaruh dengan pertumbuhan kwartal III yang sedikit lebih tinggi,namun tetap mencapai 6% pada akhir tahun.
Sedangkan cadangan devisa akhir tahun ini bisa mencapai USD95 miliar.Angka tersebut berasal dari neraca pembayaran yang berkaitan dengan ekspor, impor, dan arus modal yang masuk ke Indonesia serta cadangan devisa yang meningkat, sehubungan meningkatnya arus investasi dan arus modal dari luar. Sementara itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingatkan adanya peluang dan momentum bagus untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahuntahun mendatang yang tak boleh disia-siakan.
Presiden menegaskan, peluang pertumbuhan ekonomi tetap terbuka di wilayah Asia, termasukdiIndonesia.” Karenaitu,kita tidak boleh sekali lagi menyia-nyiakan peluang dan momentum sejarah seperti ini,” tutur Presiden saat memimpin rapat kabinet terbatas. Rapat itu digelar untuk mendengarkan paparan Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution tentang pergerakan perekonomian dan kebijakan BI.Rapat juga dihadiri Wakil Presiden Boediono dan menteri-menteri ekonomi Kabinet Indonesia Bersatu II.
Dalam pengantarnya di awal rapat, Presiden juga mengatakan bahwa evaluasi dan refleksi akhir tahun perlu dilakukan untuk membuat perkiraan,proyeksi,sekaligus menetapkan agenda utama.Hal itu sebagai kelanjutan dari tugas pemerintah pada tahun-tahun mendatang.
Presiden mengingatkan agar kebijakan fiskal dan moneter harus terpaut sama lain. Dengan demikian, ini akan menghasilkan pencapaian terbaik untuk pertumbuhan ekonomi yang tinggi, sekaligus stabil dan kondusif.Kebijakan makroekonomi yang tepat berdasarkan pengalaman telah menjadi penyangga sekaligus pergerakan sektor riil dan sektor keuangan. ”Tidak hanya kita lihat dari sisi pertumbuhan semata, tapi juga dari sejauh kita bisa menciptakan lapangan kerja yang baru,menjaga inflasi,serta fundamental ekonomi yang lain agar makroekonomi kita stabil dan kondusif bagi peningkatan pertumbuhan itu sendiri,” paparnya.
Sementara itu, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu sebelum awal rapat mengatakan,menjaga inflasi dan kestabilan harga adalah salah satu tugas berat yang harus dilakukan pada tahun mendatang. Terlebih lagi,akhir-akhir ini masalah gangguan iklim semakin nyata mengganggu produksi pertanian yang pada ujungnya dapat memengaruhi pergerakan harga. ”Salah satu tugas utama kita tahun depan cara menjaga kestabilan harga dan menjaga inflasi.
Tahun depan kita harus bekerja lebih keras dan semoga gangguangangguan iklim bisa kita atasi dengan lebih baik. Itu salah satu pekerjaan rumah yang harus kita antisipasi,”tandas Mari. Menko Perekonomian Hatta Rajasa memastikan pertumbuhan perekonomian pada 2011 akan tumbuh pesat dan membaik.
”Dari beberapa catatan, terlihat bahwa pertumbuhan kita lebih berimbang di mana ekspor dan investasi kita cukup kuat pertumbuhannya, bahkan investasi kita yang dicatat oleh BKPM mengalami satu angka yang tertinggi sejak krisis 1998,” ujar Hatta seusai mengikuti rapat. Dalam kesempatan terpisah, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan, pemerintah harus memberikan perlindungan kepada dunia usaha dalam negeri agar mereka bisa berbisnis lebih baik.
”Pemerintah saat ini belum memberikan perlindungan yang berarti kepada dunia usaha dalam negeri, bahkan lebih suka membuka peluang kepada investor asing,”katanya di Jakarta,kemarin.Akibatnya, menurut dia, kemandirian ekonomi nasional masih belum dapat terwujud dengan baik. (rarasati syarief/ant)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar