JAKARTA (SINDO) – Rencana pemerintah membatasi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi mulai kuartal I/2011 diperkirakan akan mengganggu pertumbuhan ekonomi nasional.
KementrianPerencanaanPembangunan Nasional/Bappenas menilai dampak dari rencana tersebut berkaitan langsung dengan kondisi perekonomian nasional. Staf Khusus Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Bappenas Dedi Masykur Riyadi menuturkan, Bappenas ditunjuk sebagai salah satu ketua kelompok kerja (pokja) untuk menyikapi dampak sosial ekonomi dari pelaksanaan kebijakan pembatasan BBM bersubsidi. ”Yang jelas pengaruhnya ke inflasi.
Karena itu, kami sedang mengkaji itu,” ungkap Dedi di Jakarta kemarin. Saat ini proses menelaah dampak dari kebijakan tersebut sedang berjalan. Meski belum final, Dedi menyebutkan kebijakan besar kemungkinan akan mengganggu pertumbuhan ekonomi nasional yang saat ini tengah menanjak. Sebab, berkaca dari pengalaman yang ada, kebijakan terkait BBM turut serta menurunkan laju pertumbuhan ekonomi nasional. Dia mencontohkan, pada 2005 saat pemerintah menerapkan kenaikan harga BBM.
Hasilnya, laju inflasi meningkat dan memengaruhi tingkat kemiskinan dari sebelumnya 16% menjadi 17,7%.Tidak hanya itu, pertumbuhan ekonomi pada 2006 juga turut melorot dari sebelumnya 5,7% pada 2005 menjadi 5,5% pada 2006. Menurutnya,kondisi tahun depan tidak akan jauh berbeda.”Bisa berpengaruh pada penurunan pertumbuhan ekonomi.Namun, tidak ada cara lain.Apalagi,saat ini harga minyak naik dan kita butuh penyesuaian,” paparnya. Dia mengakui, pusaran dampak dari kebijakan tersebut memang sangat besar.
Dedi tidak menyebutkan besaran pertumbuhan ekonomi akibat kebijakan tersebut. Namun, jika tidak ada penyesuaian terhadap harga minyak dunia,akan berat ke depannya bagi perekonomian nasional. Pengamat ekonomi Indef,Ahmad Erani Yustika juga mengungkapkan hal yang sama. Menurutnya, ada korelasi antara kenaikan harga BBM atau pengurangan BBM bersubsidi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
”Inflasi akan meningkat diikuti suku bunga pinjaman dan otomatis akan mengurangi investasi. Kalau investasi turun,akan menggerogoti pertumbuhan,” ungkap Erani kepada SINDO kemarin. (wisnoe moerti)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar