Selasa, 19 Oktober 2010

Undisbursed loan melonjak karena sektor riil lamban

Oleh: Hendri T. Asworo
JAKARTA: Lambannya ekspansi pada sektor riil membuat komitmen kredit yang belum dicairkan melonjak dalam delapan bulan pertama tahun ini. Sejumlah regulasi diduga menghambat akselerasi sejumlah proyek sektor riil.


Direktur Bisnis Bank CIMB Niaga Handoyo Soebali mengatakan kenaikan undisbursed loan membuktikan permintaan kredit tinggi, tetapi membutuhkan proses pencairan yang disesuikan dengan tahap pembangunan proyek.

“Investasi kan dibangunnya bertahap, maka kreditnya ditariknya juga bertahap,” ujarnya kepada Bisnis, kemarin.

Berdasarkan data Bank Indonesia per Agustus 2010, fasilitas kredit yang belum dicairkan nasabah atau undisbursed loan mencapai Rp512,26 triliun.

Angka tersebut naik sebesar Rp229,76 triliun atau 44,85% jika dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya Rp282,5 triliun. Lonjakan undisbursed loan tertinggi terjadi pada delapan bulan pertama tahun ini karena mencapai Rp188,54 triliun atau 36,8%.

Handoyo menjelaskan kenaikan fasilitas kredit nasabah yang belum dicairkan terutama berasal dari dua jenis pembiayaan, yakni kredit investasi dan kredit modal kerja.

Untuk kredit investasi, begitu plafon kredit disetujui, tidak seluruhnya bisa ditarik karena hal ini terkait dengan jadwal dan syarat penarikan yang sudah ditentukan sebelumnya.

Sedangkan untuk kredit modal kerja, secara umum wajar jika debitur tidak langsung menggunakan seluruh plafon kreditnya, karena hal itu terkait dengan struktur kreditnya, seperti revolving credit versus on liquidation dan syarat lainnya.

Revolving credit adalah plafon yang bisa digunakan kembali setelah dilunasi, sedangkan liquidation adalah plafon yang menurun sesuai pelunasannya,” tuturnya. (yus)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar