BEIJING(SINDO) – Pemerintah China menyatakan surplus perdagangan Negeri Panda bulan September anjlok menjadi USD16,88 miliar dari Agustus sebesar USD20,03 miliar.
Data baru tersebut merupakan surplus terendah dalam lima bulan terakhir. Kinerja perdagangan diumumkan setelah Pemerintah China menetapkan paritas ratarata kurs yuan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) –nilai tengah yang diperbolehkan untuk perdagangan yuan– sebesar 6,6693 yuan. Ini merupakan nilai terkuat sejak Juni saat China menerapkan reformasi yuan secara terbatas. Data baru dinilai tidak akan meredakan kemarahan pengambil kebijakan di Washington dan Eropa, yang meminta China mengizinkan nilai tukar yuan terhadap dolar AS menguat secara cepat. “Saya menilai tekanan tetap sama.
Saya melihat fakta bahwa ekspor mereka (China) tetap sangat kuat sehingga masih banyak ruang bagi mereka untuk berbuat lebih banyak pada mata uang,” kata Senior strategi Royal Bank of Canada Brian Jackson, di Hong Kong,kemarin. Beberapa kritikus mengklaim nilai tukar yuan terhadap dolar AS terlalu murah 40%.Akibatnya,eksportir Negeri Tirai Bambu mendapatkan keuntungan tidak adil karena barang produksinya lebih murah. Bulan Juni lalu, pengambil kebijakan di China mengizinkan perdagangan nilai tukar yuan terhadap dolar AS lebih bebas. Sejak kebijakan itu keluar, nilai tukar yuan terhadap dolar AS menguat sekitar 2%. Ekspor China September secara tahunan (year on year/yoy) naik 25,1% menjadi USD133,99 miliar.
Kinerja September lebih rendah dibandingkan Agustus, di mana ekspor melonjak 34,4%.Impor September juga naik 24,1% yoy menjadi USD128,11.Secara nilai,impor merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah tapi secara pertumbuhan lebih rendah dibandingkan Agustus yang tercatat tumbuh 35,2%. “Pelemahan pertumbuhan lebih disebabkan tingginya pencapaian tahun lalu dibandingkan akibat pelemahan ekonomi global,” ungkap analis Bank of America- Merrill Lynch Lu Ting dalam laporan risetnya. Sementara itu, ekonom Citigroup di Beijing,Ken Peng ,berpendapat di samping pertumbuhan ekspor dan impor lambat, data tetap sangat kuat sehingga tidak meredakan desakan apresiasi atas yuan.
“Dunia tidak akan mendapatkan manfaat apa-apa dari krisis ekonomi di China,”ujar Wen. Saat ini, China ingin mengurangi ketergantungan perekonomiannya terhadap ekspor. Namun, sektor ekspor tetap menjadi penyedia lapangan kerja terbesar bagi negara berpenduduk 1,3 miliar jiwa tersebut. Di Washington, Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Timothy Geithner menyatakan bahwa dirinya tidak melihat adanya perang mata uang global.AS berjanji akan memberikan insentif besar kepada China, jika membiarkan yuan menguat. “Saya sangat yakin ini (penguatan yuan secara signifikan) akan terjadi. Kami ingin memastikan penguatan akan terjadi secara bertahap, tapi tetap dalam tingkat yang besar,”kata Geithner.
Ketika ditanya risiko perang mata uang global, Geithner berkata, tidak ada risiko hal itu terjadi. Soal aliran modal ke negara berkembang, Geithner berpendapat bahwa ketidakadilan terjadi, jika China tetap merendahkan nilai yuan sementara mata uang negara berkembang lain terus menguat. Akibatnya, negara berkembang harus bekerja keras agar setara dengan China. “Inilah isu sebenarnya, ini bukan hanya masalah AS tapi juga masalah riil global,”ujarnya. Sementara itu,Bank Sentral AS (Fed) menyiapkan stimulus tambahan untuk mendongkrak pemulihan ekonomi. Ini dimasukkan dalam agenda rapat dewan gubernur Fed.
Dalam rapat dewan gubernur dalam Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) digelar 21 September lalu, para gubernur sepakat adanya aksi yang bisa mengubah kondisi ekonomi. “Kebijakan akomodatif mungkin perlu diperpanjang, tapi juga jelas bahwa keputusan apapun akan sangat bergantung pada informasi situasi dan outlook di masa mendatang ”kata Fed Selasa lalu. Pengumuman Fed ditangkap sebagai sinyal bahwa Bank Sentral AS tersebut segera mengguyur perekonomian dengan uang segar.Fed diprediksi akan melakukan pembelian aset besar-besaran atau dikenal dengan kebijakan quantitative easing(QE).
Berdasarkan hasil pertemuan 21 September, Fed berpendapat pembelian obligasi Pemerintah AS jangka panjang akan menurunkan biaya pinjaman sehingga memicu inflasi.Tujuannya,konsumen akan meningkatkan belanja. (AFP/Rtr/ahmad senoadi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar