Senin, 18 Oktober 2010

Pasar Keuangan Dinilai Rentan

JAKARTA(SINDO) – Kondisi likuiditas di pasar keuangan Indonesia dinilai mengkhawatirkan. Likuiditas tersebut hanya ditopang oleh dana asing yang masuk (capital inflow) yang bersifat sementara.

Kondisi tersebut dikhawatirkan karena saat asing tiba-tiba keluar dari Indonesia akan terjadi pembalikan (sudden reversal). ”Sebenarnya kondisi likuiditas kita saat ini tidak likuid-likuid amat.Ini hanya gara-gara asing,” ungkap pengamat pasar uang Mirza Adityaswara saat dihubungi Seputar Indonesia (SINDO) di Jakarta kemarin. Persoalannya, kata dia, jika perekonomian Amerika Serikat (AS) dan Eropa semakin pulih, dana asing tersebut dapat hengkang dari Indonesia.

Kondisi tersebut bisa terjadi bila AS dan Eropa mulai menaikkan suku bunga acuannya sehingga akan kembali menarik minat investor yang telah menaruh investasinya di emerging market. Sementara itu, pengamat perbankan David Samual mengatakan, jika BI tidak melakukan intervensi, nilai tukar rupiah bisa mencapai Rp8.500 pada akhir tahun. Penguatan nilai tukar terjadi karena derasnya modal asing (capital inflow) yang masuk ke Indonesia. Ini lantaran bunga yang cukup besar menjadi daya tarik bagi para investor asing.

”Kalau dibanding negara lain, Indonesia cenderung menarik karena menawarkan suku bunga yang tinggi,”kata dia. Menurut David,nilai tukar yang ideal adalah mengikuti pergerakan nilai tukar mata uang regional.Dengan demikian, nilai tukar rupiah akan cenderung stabil dengan mata uang negara-negara lain.

Ekonom Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Latief Adam mengatakan, sepanjang BI masih bisa menjaga apresiasi nilai tukar tidak naik atau turun terlalu tajam, penguatan rupiah masih bisa ditoleransi. ”Saya yakin BI juga melakukan pengawasan dan menjaga agar apresiasi rupiah tidak terlalu cepat. Jadi Rp8.500 tidak masalah,” katanya di Jakarta kemarin. (didik purwanto/bernadette lilia nova)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar