JAKARTA: Untuk bisa sukses dalam mengekspor produknya ke luar negeri, sebuah perusahaan harus memperhatikan lingkungan kerja di pabriknya, apakah sudah ramah lingkungan, melakukan program yang sesuai standar inisiatif industri internasional, dan lainnya.
"Apalagi Indonesia masih dianggap sebagai negara yang security high risk dalam bidang industri consumer goods di pasar dunia. Untuk menghilangkan citra buruk di pasar global tersebut, pengusaha harus memperhatikan betul-betul setiap langkah dalam proses produksinya," kata David Horlock, Vice President Global Inspection & Auditing, Consumer Goods Intertek Hong Kong, di Jakarta, kemarin.
Menurut dia, perusahaan yang bergerak dalam industri consumer goods dan mengekspor hasil produknya ke negara lain, perlu memperhatikan Global Security Verification (GSV) dalam menjalankan usahanya.
Dia menuturkan indikator GSV bisa dijabarkan a.l. ketika proses penerimaan karyawan pada industry, yang harus menyertakan surat keterangan berkelakuan baik dari pihak kepolisian, adanya kamera CCTV di pabrik, dan gedung pabrik ada pagar berkawat.
"Begitu juga saat melakukan loading [pengisian barang] dari pabrik ke atas truk container, harus jelas. Petugas harus mengenakan name tag sebagai indikasi bahwa dia tersebut benar-benar legal. Tempatnya di area yang tertutup dan tidak mudah diakses orang dari luar pabrik," ungkapnya.
Menurut dia, jika GSV tersebut sudah diimplementasikan oleh perusahaan, maka bisa dipastikan produk dari Indonesia aman. Konsumen di negara maju, lanjutnya, benar-benar dilindungi hak-haknya, sehingga produk yang mereka beli harus aman.
"Misalnya, mereka mengimpor kopi. Maka yang dikirim benar-benar kopi, bukan kopi yang tercampur bahan berbahaya seperti narkotika," tambahnya.
Di negara maju, katanya, untuk mengenali produk yang benar-benar aman, bagi konsumen sudah dilakukan secara sistematis. Bahkan ada agensi internasional yang melakukan rating terhadap produk-produk consumer goods yang masuk pasar mereka.
Horlock menuturkan saat ini isu mengenai lingkungan juga menguat di pasar global. Oleh Karena itu, tambahnyta, industri yang tidak menerapkan standar produk ramah lingkungan akan sulit masuk di pasar global.
Ada beberapa keuntungan yang didapatkan oleh perusahaan yang menrapkan ramah lingkungan, dan sesuai standar ini, a.l. akan hemat air, hemat energi, tidak mencemari lingkungan dengan polutan. Selain itu perusahaan tersebut juga memberikan promosi kepada masyarakat tentang produk ramah lingkungan.
Nina Tjen, General Manager PT Intertek Utama Services, mengatakan untuk memberikan pemahaman kepada industri tentang pentingnya masalah tersebut, pihaknya mendatangkan David Horlock dalam seminar Think Green Initiative dan Workplace ConditionsAssessment yang dilaksanakannya.
Tujuan seminar ini untuk membantu meningkatkan daya saing perusahaan dalam standar inisiatif industri, serta melakukan perbaikan kinerja berkelanjutan. Seminar ini memberikan manfaat untuk mengetahui standar industri yang sesuai dengan peraturan praktik bisnis yang berkelanjutan.
"Selain itu juga memberikan solusi bagaimana memperbaiki kondisi kerja agar lebih sehat, sehingga bisa meningkatkan produktivitas tenaga kerja," ujar Nina. Seminar tersebut diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai industri yang selama ini menjadi mitra kerja Intertek. (ts)
"Apalagi Indonesia masih dianggap sebagai negara yang security high risk dalam bidang industri consumer goods di pasar dunia. Untuk menghilangkan citra buruk di pasar global tersebut, pengusaha harus memperhatikan betul-betul setiap langkah dalam proses produksinya," kata David Horlock, Vice President Global Inspection & Auditing, Consumer Goods Intertek Hong Kong, di Jakarta, kemarin.
Menurut dia, perusahaan yang bergerak dalam industri consumer goods dan mengekspor hasil produknya ke negara lain, perlu memperhatikan Global Security Verification (GSV) dalam menjalankan usahanya.
Dia menuturkan indikator GSV bisa dijabarkan a.l. ketika proses penerimaan karyawan pada industry, yang harus menyertakan surat keterangan berkelakuan baik dari pihak kepolisian, adanya kamera CCTV di pabrik, dan gedung pabrik ada pagar berkawat.
"Begitu juga saat melakukan loading [pengisian barang] dari pabrik ke atas truk container, harus jelas. Petugas harus mengenakan name tag sebagai indikasi bahwa dia tersebut benar-benar legal. Tempatnya di area yang tertutup dan tidak mudah diakses orang dari luar pabrik," ungkapnya.
Menurut dia, jika GSV tersebut sudah diimplementasikan oleh perusahaan, maka bisa dipastikan produk dari Indonesia aman. Konsumen di negara maju, lanjutnya, benar-benar dilindungi hak-haknya, sehingga produk yang mereka beli harus aman.
"Misalnya, mereka mengimpor kopi. Maka yang dikirim benar-benar kopi, bukan kopi yang tercampur bahan berbahaya seperti narkotika," tambahnya.
Di negara maju, katanya, untuk mengenali produk yang benar-benar aman, bagi konsumen sudah dilakukan secara sistematis. Bahkan ada agensi internasional yang melakukan rating terhadap produk-produk consumer goods yang masuk pasar mereka.
Horlock menuturkan saat ini isu mengenai lingkungan juga menguat di pasar global. Oleh Karena itu, tambahnyta, industri yang tidak menerapkan standar produk ramah lingkungan akan sulit masuk di pasar global.
Ada beberapa keuntungan yang didapatkan oleh perusahaan yang menrapkan ramah lingkungan, dan sesuai standar ini, a.l. akan hemat air, hemat energi, tidak mencemari lingkungan dengan polutan. Selain itu perusahaan tersebut juga memberikan promosi kepada masyarakat tentang produk ramah lingkungan.
Nina Tjen, General Manager PT Intertek Utama Services, mengatakan untuk memberikan pemahaman kepada industri tentang pentingnya masalah tersebut, pihaknya mendatangkan David Horlock dalam seminar Think Green Initiative dan Workplace ConditionsAssessment yang dilaksanakannya.
Tujuan seminar ini untuk membantu meningkatkan daya saing perusahaan dalam standar inisiatif industri, serta melakukan perbaikan kinerja berkelanjutan. Seminar ini memberikan manfaat untuk mengetahui standar industri yang sesuai dengan peraturan praktik bisnis yang berkelanjutan.
"Selain itu juga memberikan solusi bagaimana memperbaiki kondisi kerja agar lebih sehat, sehingga bisa meningkatkan produktivitas tenaga kerja," ujar Nina. Seminar tersebut diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai industri yang selama ini menjadi mitra kerja Intertek. (ts)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar