Pemerintah akan membicarakan masalah pendanaan dengan Jepang terkait pengembangan infrastruktur pada enam koridor ekonomi. Sejak pemberitaan enam koridor tersebut ditawarkan kepada Jepang, Januari lalu, belum ada langkah nyata untuk mewujudkannya.
"Saya menginginkan ada suatu yang konkret dalam masalah pendanaan. Kalau studi-studi saja sih sudah selesai, tinggal bagaimana implementasinya," kata Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, saat ditemui di kantornya, Jakarta, Selasa (12/10).
Kendati demikian, dia belum bisa menyebut besaran dana yang dibutuhkan untuk pengembangan itu. Enam koridor ekonomi merupakan satu misi utama yang akan dibawa tim ekonomi Indonesia, di bawah koordinasi Hatta Rajasa, dalam pertemuan dengan pemerintah dan pengusaha Jepang, Kamis (14/10) sampai Sabtu (16/10). "Nanti kita lihat desain program apa yang mereka akan tawarkan," kata Hatta.
Enam koridor ekonomi tersebut adalah Pantai Utara Jawa, Pantai Timur Sumatera-Banten, Lintas Kalimantan dan Barat Sulawesi. Kemudian, Jawa Timur-Bali-Nusa Tenggara Timur dan Papua.
Berdasarkan studi kelayakan yang dilakukan bersama pemerintah Jepang, pengembangan enam koridor ekonomi tersebut diyakini bakal menggerakan ekonomi Indonesia. Sebagai prioritas pertama, pemerintah akan fokus untuk mengembangkan dulu koridor Pantai Utara Jawa.
"Kita ambil modelnya Jawa dulu deh, terutama wilayah Jabodetabek, (makanya) nanti akan dibicarakan juga soal pengembangan Mass Rapid Transit (MRT) dan pelabuhan," kata Hatta.
Dalam pertemuan terdahulu, menteri Perekonomian, Perdagangan dan Industri Jepang, Masayuki Naoshima menegaskan, bakal mendukung pengembangan infrastruktur di enam koridor ekonomi. Soalnya, hal tersebut dinilai bakal memberikan keuntungan juga bagi dunia usaha Jepang. "Ini sudah disepakati dengan baik dan akan didalami secara berkala," katanya.
Dukungan tersebut bisa berbentuk bantuan teknis dan finansial. Soalnya, Jepang memiliki pengalaman dalam membantu peningkatan perekonomian suatu negara pasca Perang Dunia II, melalui pengembangan koridor ekonomi. Semisal koridor industri New Delhi-Mumbai di India. "Di mana, zona ini terintegrasi industrinya sehingga menciptakan pengalihan barang dan informasi. Pemikiran ini yang ingin kita pakai untuk pengembangan ekonomi Indonesia," kata Masayuki.
Adapun bantuan finansial dalam bentuk penanaman modal yang berasal dari kalangan dunia usaha Jepang. "Tentang pendanaan, saya belum mengetahui tentu dari kalangan swasta diharapkan," katanya. Mochammad Wahyudi
"Saya menginginkan ada suatu yang konkret dalam masalah pendanaan. Kalau studi-studi saja sih sudah selesai, tinggal bagaimana implementasinya," kata Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, saat ditemui di kantornya, Jakarta, Selasa (12/10).
Kendati demikian, dia belum bisa menyebut besaran dana yang dibutuhkan untuk pengembangan itu. Enam koridor ekonomi merupakan satu misi utama yang akan dibawa tim ekonomi Indonesia, di bawah koordinasi Hatta Rajasa, dalam pertemuan dengan pemerintah dan pengusaha Jepang, Kamis (14/10) sampai Sabtu (16/10). "Nanti kita lihat desain program apa yang mereka akan tawarkan," kata Hatta.
Enam koridor ekonomi tersebut adalah Pantai Utara Jawa, Pantai Timur Sumatera-Banten, Lintas Kalimantan dan Barat Sulawesi. Kemudian, Jawa Timur-Bali-Nusa Tenggara Timur dan Papua.
Berdasarkan studi kelayakan yang dilakukan bersama pemerintah Jepang, pengembangan enam koridor ekonomi tersebut diyakini bakal menggerakan ekonomi Indonesia. Sebagai prioritas pertama, pemerintah akan fokus untuk mengembangkan dulu koridor Pantai Utara Jawa.
"Kita ambil modelnya Jawa dulu deh, terutama wilayah Jabodetabek, (makanya) nanti akan dibicarakan juga soal pengembangan Mass Rapid Transit (MRT) dan pelabuhan," kata Hatta.
Dalam pertemuan terdahulu, menteri Perekonomian, Perdagangan dan Industri Jepang, Masayuki Naoshima menegaskan, bakal mendukung pengembangan infrastruktur di enam koridor ekonomi. Soalnya, hal tersebut dinilai bakal memberikan keuntungan juga bagi dunia usaha Jepang. "Ini sudah disepakati dengan baik dan akan didalami secara berkala," katanya.
Dukungan tersebut bisa berbentuk bantuan teknis dan finansial. Soalnya, Jepang memiliki pengalaman dalam membantu peningkatan perekonomian suatu negara pasca Perang Dunia II, melalui pengembangan koridor ekonomi. Semisal koridor industri New Delhi-Mumbai di India. "Di mana, zona ini terintegrasi industrinya sehingga menciptakan pengalihan barang dan informasi. Pemikiran ini yang ingin kita pakai untuk pengembangan ekonomi Indonesia," kata Masayuki.
Adapun bantuan finansial dalam bentuk penanaman modal yang berasal dari kalangan dunia usaha Jepang. "Tentang pendanaan, saya belum mengetahui tentu dari kalangan swasta diharapkan," katanya. Mochammad Wahyudi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar