Rabu, 13 Oktober 2010

Dimulai dari Melemahkan Nilai Tukar

Dunia khawatir dengan terjadinya upaya saling melemahkan mata uang antarnegara. Tak aneh pula jika Menteri Perekonomian Jerman Rainer Bruederle mengingatkan potensi perang perdagangan global seiring dengan melebarnya perbedaan soal kebijakan nilai tukar mata uang.
“Bahaya perang dagang mulai tampak. Bahaya itu adalah keluhan tentang kebijakan memperlemah nilai tukar mata uang dari masing-masing negara penting yang dapat berubah menjadi sebuah perang dagang,” kata Bruederle saat berkunjung ke Beijing, Selasa (12/10).

Sebelumnya, Presiden Korsel Lee Myung-bak mengingatkan bahwa kegagalan negara ekonomi G20 mengatasi perang valuta asing (valas) akan berdampak cukup signifi kan pada perekonomian dunia. Lee berharap tercapai kesepakatan pada KTT G20 di Seoul, 11-12 November mendatang.

“Bila negara-negara bersikeras mempertahankan kepentingan masing-masing selama periode pemulihan (ekonomi), ini akan membawa dunia dalam praktik-praktik proteksi perdagangan sehingga masalah perekonomian dunia bertambah berat,” tandas Lee.

Sementara itu, pemerintahan Presiden AS Barack Obama menghadapi batas waktu hingga Jumat (15/10) mendatang untuk menyatakan kali pertama apakah China sengaja memanipulasi nilai tukar mata uangnya atau tidak.

Berdasarkan undang- undang yang berlaku di AS, Departemen Keuangan diharuskan mengeluarkan laporan setiap enam bulan mengenai gerakan nilai tukar mata uang dari negara yang menjadi mitra dagang utamanya.

Sejak berkuasa pada Januari 2009 lalu, Pemerintahan Obama telah menolak menyebut China melakukan manipulasi nilai tukar yuan meskipun beberapa negara yakin bahwa yuan sengaja dilemahkan sebesar 25-40 persen.

Perselisihan soal pelemahan yuan terhadap dollar AS saat ini menjadi krisis utama hubungan antara AS dan China. “Ketika negara-negara maju bertindak untuk mempertahankan pengekangan dari apresiasi yuan, maka tindakan itu akan memancing negara-negara lain untuk melakukan hal serupa,” kata Menteri Keuangan AS Timothy Geithner.

Fred Bergsten, presiden dari lembaga think-tank, Peterson Institute for International Economics, mengaku tak percaya Geithner tidak mencantumkan China sebagai pelaku manipulasi nilai tukar mata uang dalam laporan Jumat mendatang. Bergsten memperkirakan Geithner akan menunda pelaporan itu hingga pascapemilu sela pada November mendatang.

Direktur Eksekutif IMF Dominique Strauss-Kahn dalam waktu dekat akan mempresentasikan inisiatif baru untuk mengatasi perselisihan akibat nilai tukar dalam jangka menengah (systemic statibity initiative).

“Saya tidak yakin bila langkah untuk mengantisipasi dapat dilakukan secara sepihak ketimbang jalan kerja sama,” kata Strauss-Kahn, pekan lalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar