Mata Uang , Apresiasi Rupiah Tergolong Rendah di Asia Tenggara
JAKARTA – China dinilai mulai melunak dan bersedia mengendurkan intervensi terhadap mata uang yuan agar bisa terapresiasi. Namun, langkah tersebut akan dilakukan secara bertahap, tidak drastis. Demikian dikemukakan oleh Menteri Keuangan (Menkeu) Agus DW Martowardojo di Jakarta, Selasa (12/10).
“Dalam pertemuan tahunan Bank Dunia dan IMF (Dana Moneter Internasional) lalu, paling banyak dibahas mengenai nilai tukar, terutama terkait China dengan kebijakan yuan,” jelas Agus. Menurut dia, pembahasan mengenai kebijakan nilai tukar China tidak lagi dilakukan dalam forum terbatas.
“Sudah ada harapan secara politik bahwa beberapa negara besar mengharapkan China mulai memperkuat yuan. Kalau yuan tidak terapresiasi, maka akan dianggap menyulitkan negara-negara mitra dagangnya,” kata Menkeu. Negara yang paling gencar menekan China adalah Amerika Serikat (AS) karena yuan yang terus dibuat melemah akan mempermudah penetrasi produk China.
Oleh karena itu, AS bahkan berencana mengenakan sanksi formal kepada China apabila nilai tukar yuan terus melemah. Dengan tekanan yang semakin besar, China kemudian berusaha sedikit melunak dengan mulai mengendurkan intervensi terhadap yuan.
Ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih mengatakan pertemuan Bank Dunia dan IMF justru gagal mencapai kesepatakatan mengenai nilai tukar. “Pertemuan di Washington pada akhir pekan lalu gagal mencapai kesepakatan untuk mencegah pelemahan mata uang yang sedang berlangsung pada saat ini. Bahkan ada kecenderungan saling menyalahkan,” tegas dia.
AS, lanjut Lana, terus menyudutkan China karena pelemahan yuan menyebabkan defi sit perdagangan AS membengkak. “Selain itu, penetrasi produk China di AS mengakibatkan daya saing industri melemah sehingga berujung pada peningkatan pengangguran,” kata dia.
Sementara itu, China, tambah Lana, ingin merevaluasi yuan secara bertahap untuk melindungi industri dalam negerinya. “Sedangkan emerging markets juga cenderung menyalahkan AS. Pelambatan ekonomi AS menyebabkan aliran dana jangka pendek terus membanjir sehingga perekonomian menjadi rentan,” kata dia.
Belum adanya kesepakatan yang jelas, menurut Lana, membuat masalah kurs ini penuh ketidakpastian. “Sementara negara berkembang diperkirakan cenderung melakukan kontrol devisa untuk meredam derasnya aliran dana asing. Indonesia termasuk negara yang kebanjiran likuiditas asing ini.
Bank Indonesia (BI) mencatat, dalam sembilan bulan pertama 2010, dana asing yang mengalir ke Tanah Air mencapai 115 triliun rupiah. Dana manca negara itu paling mayoritas masuk ke Surat Utang Negara (SUN), sebesar 74 triliun rupiah, dan sebagian masuk ke pasar saham.
Hal itu telah menyebabkan nilai tukar rupiah terus menguat, sementara indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia terus mencetak rekor terbaru. Aliran modal yang sangat masif tersebut menimbulkan kekhawatiran terjadinya gelembung atau bubble harga instrumen investasi seperti yang dikemukakan oleh Kepala Bank Pembangunan Asia (ADB) Haruhiko Kuroda.
(Koran Jakarta, 12/10) Kurs Rupiah Sementara itu, Bank Indonesia (BI) mencatat penguatan rupiah dari awal tahun sampai September 2010 (year to date) 5,01 persen, berada di bawah penguatan mata uang negara lain di kawasan Asia Tenggara.
“Penguatan rupiah masih di bawah penguatan mata uang regional seperti baht Thailand 10,25 persen, ringgit Malaysia 9,04 persen, dollar Singapura 7,02 persen, dan peso Filipina 6,04 persen,” kata Kepala Biro Humas Bank Indonesia, Difi A Johansyah, Selasa.
Pengamat pasar uang, Irfan Kurniawan, memperkirakan BI mengintervensi pasar untuk menahan penguatan rupiah setelah muncul isu positif bahwa posisi Indonesia dalam peta perekonomian dunia menduduki urutan ke-19. Isu itu sebenarnya memicu rupiah kembali menguat, namun BI masuk pasar dengan melepas rupiah dan membeli dollar AS yang didukung pula dengan aksi ambil untung oleh pelaku pasar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar