Pemerintah mengklaim kinerja ekspor dan impor periode Januari-Agustus 2010 menggambarkan kondisi perdagangan Indonesia yang terus menguat setelah mengalami kontraksi di tahun 2009. Terbukti, total perdagangan rata-rata bulanan hampir mencapai 23 miliar dollar AS, bahkan mencapai 26 miliar dollar AS di bulan Agustus.
Itulah sebab neraca perdagangan pada Agustus 2010 surplus sebesar 1,5 miliar dollar AS setelah di bulan sebelumnya, Juli, mengalami defi sit. Namun, secara kumulatif, selama Januari- Agustus 2010 surplus neraca perdagangan Indonesia mencapai 11 miliar dollar, terdiri dari nonmigas surplus 11,4 miliar dollar AS, sementara neraca migas defi sit 452,5 juta dollar AS.
Tak dapat dimungkiri, peningkatan ekspor terutama didorong oleh kuatnya permintaan dari China dan India serta meningkatnya harga komoditas internasional. Selain itu, sejalan dengan kuatnya konsumsi dan ekspor, investasi mulai meningkat sebagaimana tecermin pada peningkatan impor mesin, bahan baku, dan meningkatnya kredit modal kerja.
Meningkatnya permintaan impor bahan baku dan barang modal merupakan respons terhadap meningkatnya investasi selama semester I-2010 yang naik sebesar 7,9 persen. Peningkatan investasi akan berpengaruh terhadap impor barang modal dan bahan baku yang pada gilirannya akan meningkatkan ekspor sektor industri. Itu artinya, peningkatan impor sebenarnya juga tidak perlu terlalu dikhawatirkan karena masih didominasi oleh bahan baku dan barang modal.
Kenaikan impor juga sepertinya tidak terlalu berhubungan dengan apresiasi nilai tukar rupiah. Selain itu, impor bahan baku dan barang modal menandakan aktivitas sektor riil yang menggeliat. Kondisi ini diharapkan berujung pada peningkatan kapasitas produksi industri dalam negeri, sehingga mengurangi impor barang konsumsi dan tekanan inflasi.
Sementara itu, ekonom Bank Danamon Anton Hendranata mengingatkan sentimen perang kurs sudah mulai mengarah kepada indikasi perang dagang. Hal ini terlihat dari surplus neraca perdagangan China yang begitu besar, sementara di sisi lain AS dan Eropa masih mencatatkan defisit perdagangan yang tinggi. Oleh karena itu, tambah Anton, nilai tukar rupiah masih akan mengalami tren apresiasi dalam beberapa waktu ke depan.
“Dalam hemat kami, kerelaan BI dalam membiarkan penguatan rupiah akan bergantung pada seberapa cepat mata uang regional lainnya menguat terhadap dollar AS. Selain itu, juga melihat perkembangan kinerja pertumbuhan ekspor produkproduk manufaktur Indonesia,” kata dia.
Sedangkan Chief Financial Officer Bank Mandiri Pahala N Mansury mengatakan saat ini BI memang terus melakukan intervensi ke pasar untuk menahan laju penguatan nilai tukar rupiah. “Sebetulnya kalau BI melakukan sterilisasi agar apresiasi tidak terjadi terlalu cepat, pasti ada cost.
Namun, itu tetap dilakukan karena rupiah yang terapresiasi pun tidak bagus,” kata dia. Apresiasi nilai tukar rupiah, akan memengaruhi kinerja ekspor manufaktur. “Kalau komoditas tidak begitu masalah karena bergantung harga internasional,” tegas dia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar