Oleh: Dewi Astuti
WASHINGTON: Cadangan devisa China kembali menyentuh rekor baru sepanjang sejarah dan diperkirakan mencapai US$2,5 triliun pada kuartal II/2010, sehingga permintaan apresiasi yuan menguat.
Rekor baru cadangan devisa China ini menjadikan negara itu sebagai pemilik buffer terbesar dalam mengatasi dampak perang kurs, tetapi di sisi lain akan meningkatkan protes dari negara-negara di dunia karena dinilai menghambat pemulihan ekonomi global.
Berdasarkan nilai rata-rata survei Bloomberg News terhadap delapan ekonom, cadangan devisa China diperkirakan bertambah US$48 miliar dalam kuartal terakhir, melonjak dari penambahan pada kuartal sebelumnya yang hanya sebesar US$7 miliar.
Dalam sebuah rangkaian acara Sidang Tahunan IMF dan Bank Dunia 2010, kemarin, Gubernur bank sentral China (People\'s Bank of China/PBOC) Zhou Xiaochuan menjelaskan China membukukan surplus dagang US$145 miliar dengan AS selama 8 bulan pertama tahun ini.
Angka itu, lebih tinggi dari defisit dagang AS secara total dengan tujuh mitra dagang besar lain. Sebaliknya, China mengalami defisit US$36,3 miliar dengan Jepang dan US$45,3 miliar dengan Korsel pada 8 bulan pertama tahun ini.
Di lain sisi, Biro Sensus AS mencatat defisit dagang dengan China meningkat hingga US$25,9 miliar pada Juli dari US$20,4 miliar pada bulan yang sama tahun lalu. Data realisasi cadangan devisa China dijadwalkan diumumkan pada pekan ini.
"Rekor cadangan devisa ini akan menjadi amunisi bagi pihak lain yang ingin mempercepat apresiasi nilai tukar yuan," jelas Tom Orlik, analis Stone & McCarthy Research Associates berbasis di Beijing dan mantan pejabat Depkeu Inggris, seperti dikutip Bloomberg, kemarin.
Joseph Stiglitz, ekonom peraih nobel yang juga guru besar Columbia University, Amerika Serikat mengatakan negara-negara di dunia perlu melakukan penyesuaian nilai tukar, tetapi apresiasi yuan secara paksa dapat mengganggu stabilitas ekonomi dunia.
Alihkan perhatian
Menurut dia, isu nilai tukar mengalihkan perhatian para pembuat kebijakan dunia. Padahal, masih banyak persoalan fundamental yang harus diperhatikan dan dicarikan jalan keluarnya agar penyeimbangan ekonomi dunia dapat berfungsi.
"Di satu sisi, penyesuaian nilai tukar memang perlu, tetapi jika dilakukan dengan cara tidak mulus, akan ada banyak jutaan orang kehilangan pekerjaan di China. Itu tidak bagus untuk ekonomi dunia, tidak bagus untuk stabilitas ekonomi global," tuturnya dalam acara World Debate di markas besar IMF, akhir pekan lalu.
Stiglitz menegaskan meskipun yuan akhirnya terapresiasi lebih cepat, neraca dagang AS dengan mitra dagang multilateralnya masih tetap akan mengalami defisit. Defisit akan terus terjadi, kecuali jika pemerintah negeri Paman Sam mengubah kebijakan fiskal dan nilai tukarnya.
Di tempat yang sama, Zhou Xiaochuan mengatakan reformasi dalam kebijakan nilai tukar China sudah dimulai sejak lama. Setelah krisis global melanda, China memakai rezim kurs berbasis bulanan dengan referensi paket mata uang.
"Kami [otoritas China] memang perlu melanjutkan reformasi yuan, tetapi bukan seperti shock therapy," tegasnya.
Kurs yuan, tambahnya, dijalankan berdasarkan hubungan penawaran dan permintaan di pasar. Karena hubungan permintaan dan penawaran itulah, ada ketidakpastian dalam neraca transaksi berjalan. Surplus dapat terjadi pada suatu waktu, dan dapat juga mengalami defisit.
Pada 19 Juni, bank sentral China telah mengumumkan akan melepas yuan ke pasar, setelah hampir 2 tahun mengendalikan kurs yuan terhadap dolar AS. Yuan menguat 1,9% sejak dilepas ke pasar, tetapi pemerintah AS masih tidak puas dengan penguatan tersebut dan meminta China mengakselerasi apresiasinya.
Bahkan, Parlemen AS meloloskan RUU tentang Mata Uang yang memungkinkan pemberian sanksi bea impor lebih tinggi terhadap China sebagai kompensasi efek pelemahan yuan. RUU yang diberi nama Currency Reform for Fair Trade Act. (esu)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar