PEMERINTAH Thailand kemarin mengenakan pajak atas investasi asing pada instrumen obligasi pemerintah. Jepang menilai ini bisa mendongkrak nilai tukar yen dan mengendurkan tekanan atas perlunya percepatan penguatan yuan.
“Kabinet Thailand sepakat mengenakan pajak 15% atas keuntungan dan bunga pendapatan dari investasi asing di obligasi PemerintahThailand. Kebijakan bertujuan meredam penguatan baht yang telah menyentuh level tertinggi sejak krisis keuangan Asia di 1997,” kata Pemerintah Thailand, seperti dikutip Reuters,kemarin. Pengumuman Pemerintah Thailand hanya berselang satu minggu setelah Brasil menggandakan pajak pada investasi asing di obligasi dan instrumen keuangan lainnya menjadi 4%. Langkah ini juga dikeluarkan Pemerintah Brasil untuk meredakan penguatan mata uangnya. Mata uang baht telah menguat 11% tahun ini dan menjadi mata uang terkuat kedua setelah yen.Penguatan baht sebagian besar didorong oleh aliran dana asing yang masuk untuk membeli aset-aset di Thailand.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Jepang Yoshihiko Noda menyatakan telah menjelaskan kebijakan yen kepada kelompok negara maju (G-7) di Washington akhir pekan lalu.Pada 15 September lalu, Jepang telah mengintervensi yen. “G-7 menilai intervensi akan merusak stabilitas ekonomi dan sistem keuangan.Pada titik ini,kita akan mengambil langkah penting, termasuk intervensi jika dibutuhkan,” papar Noda. Banyaknya pemerintah di dunia yang mengeluarkan kebijakan antiapresiasi mata uang, para ekonom khawatir akan terjadi “perlombaan menjadi terendah”. Ini bisa memicu proteksi berupa tarif perdagangan sehingga bisa mengganggu pertumbuhan global. Media besar China menilai ini merupakan potensi konflik.
“Krisis keuangan bisa mengarah pada krisis nilai tukar.Tidak akan ada pemenang dalam krisis ini,”kata China Securities Journal, dalam editorialnya. Sementara ini, banyak negara sedang menunggu prospek Bank Sentral AS (Fed) untuk mencetak uang lebih banyak.Kebijakan ini sama dengan membanjiri ekonomi Paman Sam dengan lebih banyak likuiditas sehingga dolar melemah. Berikutnya, investor akan memindah investasinya ke negara berkembang karena suku bunga di negara maju terlalu rendah sehingga tidak menarik. (Rtr/ahmad senoadi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar