Mata Uang , Kenaikan Nilai Tukar RI karena Imbas Perang Kurs
JAKARTA – Sinyal mulai menguatnya mata uang China, yuan, dinilai bisa menjadi momentum bagi mata uang RI, rupiah, untuk terdepresiasi sehingga menuju nilai wajar dibandingkan dengan kurs utama dunia lain.
Dengan dukungan surplus perdagangan dan cadangan devisa terbesar di dunia, yuan dianggap pantas terapresiasi sementara rupiah yang kini dalam tren menguat akibat dampak perang kurs negara ekonomi maju dan aliran dana panas asing sudah selayaknya terdepresiasi.
Bank Sentral China (People’s Bank of China), Rabu (13/10), mengumumkan rekor baru cadangan devisa negara itu di angka 2,65 triliun dollar AS pada akhir September lalu. Ini berarti meningkat 16,5 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.
Saat ini, cadangan devisa China merupakan terbesar di dunia. Cadangan devisa China terus menggelembung dalam beberapa tahun terakhir karena didorong oleh derasnya aliran investasi asing, surplus perdagangan.
Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik UGM, Tony A Prasetiantono, belum lama ini mengatakan dengan latar belakang perang kurs antara China, AS, dan negara Eropa lain dapat dipahami jika rupiah belakangan ini terus menguat, meski indikator ekonomi makro Indonesia, misalnya inflasi, dalam waktu yang sama kurang menggembirakan.
“Ternyata menguatnya rupiah bukan semata-mata disebabkan kekuatan fundamental, namun juga karena diuntungkan oleh keinginan negara-negara besar untuk memperlemah mata uangnya demi neraca perdagangan,” jelas Tony. Sambil menunggu lobi Dana Moneter Internasional (IMF) agar negara besar mau mengerem hasrat melakukan perang kurs, menurut dia, Bank Indonesia sebaiknya mengambil sikap sampai seberapa jauh bisa menoleransi penguatan rupiah.
“Masalahnya daya tahan perekonomian kita terbatas. Misalnya, rupiah terus menguat hingga 8.000 per dollar AS, akan ada korban, yakni neraca perdagangan yang akan tertekan hebat, bahkan bisa mengalami defisit seperti pada Juli 2010,” tegas Tony.
Menurut Tony, BI semestinya sudah memiliki asumsi pada rentang kisaran berapakah rupiah akan diizinkan berfl uktuasi. “Tidak boleh BI diam saja ketika rupiah terus menguat karena dampak negatif akan segera dituai,” jelas dia. Sejak diberlakukannya kesepakatan perdagangan bebas ASEANChina, awal tahun ini, impor Indonesia dari China meningkat pesat.
Neraca perdagangan Indonesia- China pun tercatat terus defi sit. Dengan pola hubungan dagang seperti ini, langkah China melepaskan yuan menjadi lebih fl eksibel sangat menguntungkan Indonesia. Kebijakan China diharapkan berdampak positif pada ekspor dan impor Indonesia.
Apresiasi yuan yang lebih cepat dibandingkan rupiah akan membuat barang China lebih mahal, sementara harga barang Indonesia ke China lebih murah.
Perang Dagang
Sementara itu, ekonom Bank Danamon, Anton Hendranata, me nilai perang kurs sudah mulai mengarah kepada indikasi perang dagang. Indikasi ini terlihat dari surplus neraca perdagangan China yang begitu besar dan di sisi lain AS dan Eropa mencatatkan defisit yang tinggi.
Pada Agustus 2010, surplus perdagangan China mencapai 20 miliar dollar AS, sementara AS defisit di atas 40 miliar dollar AS. “Perkembangan ini tidak lepas dari barang-barang asal China yang relatif murah akibat depresiasi yuan yang cukup signifikan terhadap dollar AS sejak semester I-2005,” kata Anton, Rabu.
Menurut dia, AS berupaya menyelamatkan kinerja ekspor dan perekonomian mereka. “AS juga diperkirakan melakukan quantitative easing, yaitu kebijakan pembelian obligasi pemerintah oleh bank sentral. Inti dari kebijakan ini adalah pencetakan uang yang bisa melemahkan nilai tukar dollar AS terhadap mata uang utama dunia dan Asia,” papar dia.
Kebijakan ini, kata Anton, segera meluas dan diikuti oleh negara-negara Asia. “Jepang memberikan sinyal akan melakukan quantitative easing, selain dari pemotongan suku bunga acuan menjadi 0–0,1 persen pekan lalu,” kata dia.
Setelah Jepang, Thailand baru saja menghilangkan fasilitas pembebasan pajak 15 persen bagi pembelian obligasi oleh investor asing dengan tujuan menahan penguatan nilai tukar baht. India pun melakukan intervensi di pasar valas jika perekonomiannya mulai terganggu dengan penguatan rupee yang terlalu tajam.
Sementara itu, pertumbuhan perdagangan China selama September melambat dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan surplus itu diduga akibat desakan AS dan Eropa agar China mengendurkan pengekangan terhadap yuan.
aji/mad/AFP/Rtr/WP
Tidak ada komentar:
Posting Komentar