JAKARTA (SINDO) – Kebijakan pemerintah menaikkan tarif dasar listrik (TDL) per Juli 2010 lalu berperan besar mendongkrak peningkatan laju inflasi pada Agustus 2010 yang mencapai 0,76%.
Badan Pusat Statistik (BPS) melansir, kenaikan TDL menyumbang 0,35% terhadap laju inflasi Agustus 2010. ”TDL yang naik Juli lalu dan ditagih pada Agustus memiliki andil cukup besar dari kelompok komoditas yang lain.Awalnya kami memprediksi andil TDL sebesar 0,22%.Tapi,setelah mendapat peraturan menteri dan skema perhitungan berdasar konsumen, andil kenaikan TDL yang kami hitung mencapai 0,35%,” papar Deputi Bidang Statistik Produksi Subagio Dwijosumono di Jakarta kemarin.
BPS mencatat, angka bobot kenaikan TDL di masing-masing kota juga berbeda berdasarkan jumlah konsumen pengguna listrik dan daya yang dipakai. Berdasar perhitungan BPS, daerah yang mengalami tingkat kenaikan TDL terendah adalah Pematang Siantar dengan kenaikan hanya 1,59%. Sedangkan Palu merupakan daerah yang mengalami kenaikan TDL tertinggi sebesar 33,63%.
Sementara Jakarta mengalami kenaikan TDL rata-rata 25,73% dan Bandung mengalami kenaikan TDL 13,59%. ”Persentase kenaikan TDL yang kami hitung juga berbeda dengan yang disampaikan pemerintah. Persentase perubahan harga kenaikan TDL secara nasional ratarata 15,07% bukan 18% seperti yang disampaikan pemerintah,” katanya. Inflasi Agustus 2010 yang mencapai 0,76% masih lebih rendah jika dibandingkan laju inflasi pada Juli 2010 yang menembus angka 1,57%.
Namun, kenaikan inflasi pada Agustus 2010 tetap dinilai cukup signifikan. Secara kalender (Januari–Agustus 2010) inflasi mencapai 4,82%. Sedangkan secara tahunan (year on year/yoy) inflasi telah mencapai 6,44%. Sementara itu, inflasi inti pada Agustus 2010 mencapai 0,52%, lebih tinggi dibanding Juli 2010 yang hanya mencapai 0,49%. Secara kalender (Januari– Agustus), akumulasi inflasi inti mencapai 2,89% dan yoy mencapai 4,53%.
Peningkatan laju inflasi juga disumbangkan kelompok bahan makanan yang memberikan andil 0,09%; kelompok makanan jadi, rokok, tembakau, dan minuman menyumbang 0,11%; kelompok sandang 0,01%; kelompok kesehatan 0,01%; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,09%; dan kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,06%.
Subagio menuturkan, dari kelompok bahan makanan yang menjadi sorotan adalah andil dari beras yang menyumbangkan 0,20% untuk subkelompok padipadian dan umbi-umbian yang inflasinya mencapai 3,89%. Inflasi beras tertinggi terjadi di Cirebon yang merupakan lumbung padi nasional dengan kenaikan 13% dan Sukabumi sebesar 11%. ”Sektor lain yang menyumbang dan mengalami inflasi tertinggi adalah sektor pendidikan yang mencapai 2,45%.
Ini dipengaruhi ada kenaikan uang sekolah untuk pendidikan dasar atau SD sampai SLTA,” katanya. Sedangkan komoditas yang mengalami penurunan harga atau deflasi adalah kelompok bahan makanan dan sayur-sayuran. BPS memprediksi, laju inflasi ke depan masih akan berlanjut. Namun, inflasi diharapkan tidak terlalu tinggi karena Lebaran yang jatuh pada pekan kedua September masih bisa tertutupi dengan penurunan harga pasca- Lebaran pada pekan ketiga dan keempat.
”Puncak inflasi memang pada Agustus ini. Tapi, kita masih ada hari raya lain yakni Natal dan Tahun Baru. Pengalaman tahun lalu pasti ada kenaikan, tapi tidak terlalu tinggi,”ujarnya. Sementara itu, pengamat ekonomi Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa menilai, tekanan inflasi akan tetap tinggi dalam enam bulan mendatang. Hal ini turut memengaruhi sentimen konsumen terhadap inflasi yang naik sebesar 0,03% pada Agustus 2010.
”Pada survei terakhir, indeks yang mengukur sentimen konsumen terhadap inflasi naik sebesar 0,3% menjadi 192,5 pada Agustus. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak September 2008,”ungkap Purbaya melalui keterangan tertulisnya kemarin. Menurut hasil survei yang dilakukan Danareksa Research Institute, 94% konsumen yang disurvei merasa yakin bahwa harga barang akan naik dalam enam bulan ke depan.
Hal itu disebabkan meningkatnya kekhawatiran konsumen terhadap kenaikan harga bahan pangan sebagai imbas dari kenaikan TDL. ”Ekspektasi ini bisa jadi disebabkan oleh ekspektasi kenaikan harga selama bulan puasa pada Agustus dan perayaan Lebaran pada September,”katanya. (wisnoe moerti)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar