A Muhaimin Iskandar
Dalam Islam, anak adalah amanah (titipan) Tuhan yang harus dijaga sebaik-baiknya. Bisa menjaga amanah adalah salah satu sifat utama manusia beriman. Namun menjaga amanah yang satu ini di dalam kehidupan masyarakat saat ini bukan hal yang mudah. Di tengah zaman yang sudah demikian maju, namun cenderung konsumtif dan permisif, pendidikan adalah kunci dan jawaban untuk menjaga amanah itu: membentuk kepribadian yang tangguh, punya etos, optimis, berakhlaq mulia dan memiliki jiwa peduli pada sesama.
Ali Shariati dalam bukunya On the Sociology of Islam (1979) mengatakan ada lima faktor yang yang membentuk kepribadian (anak). Pertama, ibu yang memberikan kepadanya struktur dan dimensi ruhaniah. Ibu yang memelihara ruhani serta menanamkan pendidikan awal kepadanya. Kedua, ayah yang memberi dimensi lain pada ruhani sang anak. Ketiga, sekolah. Keempat, masyarakat dan lingkungan. Kelima, kebudayaan umum masyarakat atau pun kebudayaan umum dunia secara keseluruhan.
Adalah menjadi kewajiban orang tua untuk memberikan dasar-dasar pendidikan karakter pada anak yang akan mengarahkannya menjadi pribadi yang mempunyai etos spiritual dan juga kepekaan sosial. Dalam al-Quran dikisahkan ketika Luqman memberi nasihat kepada anaknya: "Hai anakku, dirikanlah salat, suruhlah (manusia) berbuat kebaikan, dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu" (QS. Luqman: 17).
Dalam Hadis disebutkan: "Hak seorang anak atas orang tuanya ialah diberi nama dan pendidikan akhlak yang baik" (HR. Baihaqi). Dalam Hadis lain dinyatakan: "meninggalkan anak-anakmu dalam keadaan kaya atau berkecukupan, lebih baik daripada membiarkan mereka tergantung kepada kedermawanan orang lain" (HR. Bukhari).
Pendidikan adalah kunci untuk menjaga amanah Tuhan berupa anak, baik pendidikan di lingkungan keluarga, masyarakat maupun pendidikan formal di sekolah. Kepedulian kita pada pendidikan, dengan demikian, merupakan kepedulian kita kepada masa depan bangsa, karena anak-anak kita adalah penerus dan pemimpin di masa depan.
Lebih dari itu, seperti dikatakan Tariq Ramadan dalam Muhammad Rasul Zaman Kita (2007), seperti halnya malaikat, anak-anak adalah milik Tuhan. Mereka adalah isyarat-isyarat Tuhan. Dari mereka kita bisa belajar untuk melihat manusia dan dunia di sekitarnya dengan kepolosan dan ketakjuban. Hatinya bersih, tidak ada prasangka buruk, dan selalu cenderung kepada kebaikan.
Anak-anak kita bukan sekadar amanah. Tetapi juga isyarat Tuhan di mana kita bisa belajar kehidupan kepada mereka. Jika dalam kehidupan dan beragama kita bisa berhati dan berpikiran seperti anak-anak: penuh cinta, riang, bersih dan terbuka, tentu kehidupan ini akan menjadi lebih positif dan produktif. Puasa juga mendidik manusia untuk menjadi pribadi yang bersih, optimis dan peduli. Karena itu, di ujung Ramadhan, orang yang berpuasa kembali suci (idul fitri), layaknya anak-anak.
Dalam Islam, anak adalah amanah (titipan) Tuhan yang harus dijaga sebaik-baiknya. Bisa menjaga amanah adalah salah satu sifat utama manusia beriman. Namun menjaga amanah yang satu ini di dalam kehidupan masyarakat saat ini bukan hal yang mudah. Di tengah zaman yang sudah demikian maju, namun cenderung konsumtif dan permisif, pendidikan adalah kunci dan jawaban untuk menjaga amanah itu: membentuk kepribadian yang tangguh, punya etos, optimis, berakhlaq mulia dan memiliki jiwa peduli pada sesama.
Ali Shariati dalam bukunya On the Sociology of Islam (1979) mengatakan ada lima faktor yang yang membentuk kepribadian (anak). Pertama, ibu yang memberikan kepadanya struktur dan dimensi ruhaniah. Ibu yang memelihara ruhani serta menanamkan pendidikan awal kepadanya. Kedua, ayah yang memberi dimensi lain pada ruhani sang anak. Ketiga, sekolah. Keempat, masyarakat dan lingkungan. Kelima, kebudayaan umum masyarakat atau pun kebudayaan umum dunia secara keseluruhan.
Adalah menjadi kewajiban orang tua untuk memberikan dasar-dasar pendidikan karakter pada anak yang akan mengarahkannya menjadi pribadi yang mempunyai etos spiritual dan juga kepekaan sosial. Dalam al-Quran dikisahkan ketika Luqman memberi nasihat kepada anaknya: "Hai anakku, dirikanlah salat, suruhlah (manusia) berbuat kebaikan, dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu" (QS. Luqman: 17).
Dalam Hadis disebutkan: "Hak seorang anak atas orang tuanya ialah diberi nama dan pendidikan akhlak yang baik" (HR. Baihaqi). Dalam Hadis lain dinyatakan: "meninggalkan anak-anakmu dalam keadaan kaya atau berkecukupan, lebih baik daripada membiarkan mereka tergantung kepada kedermawanan orang lain" (HR. Bukhari).
Pendidikan adalah kunci untuk menjaga amanah Tuhan berupa anak, baik pendidikan di lingkungan keluarga, masyarakat maupun pendidikan formal di sekolah. Kepedulian kita pada pendidikan, dengan demikian, merupakan kepedulian kita kepada masa depan bangsa, karena anak-anak kita adalah penerus dan pemimpin di masa depan.
Lebih dari itu, seperti dikatakan Tariq Ramadan dalam Muhammad Rasul Zaman Kita (2007), seperti halnya malaikat, anak-anak adalah milik Tuhan. Mereka adalah isyarat-isyarat Tuhan. Dari mereka kita bisa belajar untuk melihat manusia dan dunia di sekitarnya dengan kepolosan dan ketakjuban. Hatinya bersih, tidak ada prasangka buruk, dan selalu cenderung kepada kebaikan.
Anak-anak kita bukan sekadar amanah. Tetapi juga isyarat Tuhan di mana kita bisa belajar kehidupan kepada mereka. Jika dalam kehidupan dan beragama kita bisa berhati dan berpikiran seperti anak-anak: penuh cinta, riang, bersih dan terbuka, tentu kehidupan ini akan menjadi lebih positif dan produktif. Puasa juga mendidik manusia untuk menjadi pribadi yang bersih, optimis dan peduli. Karena itu, di ujung Ramadhan, orang yang berpuasa kembali suci (idul fitri), layaknya anak-anak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar