A Muhaimin Iskandar
Salah satu perempuan besar yang kisahnya diabadikan dalam al-Quran adalah Putri Bilqis, Ratu Kerajaan Saba. Ia seorang Ratu penganut agama yang menyembah Matahari. Sang Ratu hidup pada zaman Nabi Sulaiman AS, yang juga seorang raja. Tentu Putri Bilqis bukan sembarang Ratu, karenanya al-Quran memasukkan kepemimpinannya sebagai hal yang patut untuk dijadikan teladan.
Setidaknya ada tiga sisi kelebihan Ratu Bilqis yang diuraikan dalam al-Quran. Pertama, Ratu Bilqis adalah adalah pemimpin yang sukses dan berhasil membangun kerajaannya menjadi negara yang makmur. Disebutkan dalam al-Quran: "Sesungguhnya aku (Hud-hud) menjumpai seorang perempuan (Ratu Bilqis) yang memerintah mereka (kerajaan Saba) dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar" (QS. An-Naml: 23). Dengan ayat ini al-Quran seakan ingin menegaskan bahwa pemimpin besar dan berhasil juga ada yang berasal dari kaum perempuan.
Kedua, Ratu Bilqis adalah pemimpin yang bijak dan demokratis. Ketika ia mendapat surat dari Nabi Sulaiman AS yang berisi ajakan untuk menyembah Allah, Ratu Bilqis tidak memutuskan sendiri apa yang akan dilakukannya untuk menjawab surat itu, tetapi terlebih dahulu bermusyawarah dengan para pembantu dan pembesar kerajaan. Ratu Bilqis mengatakan: "Aku tidak akan memutuskan sesuatu persoalan sebelum kalian - memberi pertimbangan terhadap masalah tersebut" (QS. An-Naml: 32).
Ketiga, Ratu Bilqis adalah pemimpin yang cerdas dan bijak, suatu sifat yang lahir dari dan menyatu dengan jiwa feminin-nya. Ketika bermusyawarah dengan para pembantu dan pembesar kerajaan, sebagian besar dari mereka mengusulkan agar Sang Ratu menjawab surat Nabi Sulaiman dengan kekuatan, karena "kami adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan keberanian yang sangat dalam peperangan" (QS. An-Naml: 33).
Namun jiwa feminin Ratu Bilqis dan juga kecerdasannya menolak untuk menggunakan kekerasan. Ia memilih strategi kebudayaan tertentu untuk menjawab surat Nabi Sulaiman, yaitu dengan memberi hadiah kepada Nabi Sulaiman. Namun Nabi Sulaiman menolak hadiah itu, dan akhirnya Ratu Bilqis memutuskan untuk mengadakan kunjungan ke kerajaan Nabi Sulaiman. Di sana Ratu Bilqis mendapati singgasananya dan seluruh isi istananya. Di tengah ketakjuban itu, Ratu Bilqis menyadari bahwa kekuasaan dan kekuatan begitu lemah dibandingkan dengan kekuasaan dan karunia Allah. Ia pun menyatakan pasrah kepada Nabi Sulaiman dan beriman kepada Allah.
Ratu Bilqis, seperti dikatakan Amina Wadud Muhsin dalam Wanita di Dalam al-Quran (1994), cenderung memilih untuk mengirim hadiah ketimbang memperlihatkan kekuatan yang kasar sebagai politik yang "feminin". Ia memiliki pengetahuan politik damai sekaligus pengetahuan spiritual mengenai pesan unik Nabi Sulaiman, dan hal itu menunjukkan ia memiliki kemampuan yang independen untuk memerintah secara bijaksana. Al-Quran memperlihatkan bahwa Ratu Bilqis lebih baik dibanding norma di sekelilingnya. Jiwa feminin telah mengantarkannya kepada kearifan, kecerdasan dan juga kebenaran spiritual.
Salah satu perempuan besar yang kisahnya diabadikan dalam al-Quran adalah Putri Bilqis, Ratu Kerajaan Saba. Ia seorang Ratu penganut agama yang menyembah Matahari. Sang Ratu hidup pada zaman Nabi Sulaiman AS, yang juga seorang raja. Tentu Putri Bilqis bukan sembarang Ratu, karenanya al-Quran memasukkan kepemimpinannya sebagai hal yang patut untuk dijadikan teladan.
Setidaknya ada tiga sisi kelebihan Ratu Bilqis yang diuraikan dalam al-Quran. Pertama, Ratu Bilqis adalah adalah pemimpin yang sukses dan berhasil membangun kerajaannya menjadi negara yang makmur. Disebutkan dalam al-Quran: "Sesungguhnya aku (Hud-hud) menjumpai seorang perempuan (Ratu Bilqis) yang memerintah mereka (kerajaan Saba) dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar" (QS. An-Naml: 23). Dengan ayat ini al-Quran seakan ingin menegaskan bahwa pemimpin besar dan berhasil juga ada yang berasal dari kaum perempuan.
Kedua, Ratu Bilqis adalah pemimpin yang bijak dan demokratis. Ketika ia mendapat surat dari Nabi Sulaiman AS yang berisi ajakan untuk menyembah Allah, Ratu Bilqis tidak memutuskan sendiri apa yang akan dilakukannya untuk menjawab surat itu, tetapi terlebih dahulu bermusyawarah dengan para pembantu dan pembesar kerajaan. Ratu Bilqis mengatakan: "Aku tidak akan memutuskan sesuatu persoalan sebelum kalian - memberi pertimbangan terhadap masalah tersebut" (QS. An-Naml: 32).
Ketiga, Ratu Bilqis adalah pemimpin yang cerdas dan bijak, suatu sifat yang lahir dari dan menyatu dengan jiwa feminin-nya. Ketika bermusyawarah dengan para pembantu dan pembesar kerajaan, sebagian besar dari mereka mengusulkan agar Sang Ratu menjawab surat Nabi Sulaiman dengan kekuatan, karena "kami adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan keberanian yang sangat dalam peperangan" (QS. An-Naml: 33).
Namun jiwa feminin Ratu Bilqis dan juga kecerdasannya menolak untuk menggunakan kekerasan. Ia memilih strategi kebudayaan tertentu untuk menjawab surat Nabi Sulaiman, yaitu dengan memberi hadiah kepada Nabi Sulaiman. Namun Nabi Sulaiman menolak hadiah itu, dan akhirnya Ratu Bilqis memutuskan untuk mengadakan kunjungan ke kerajaan Nabi Sulaiman. Di sana Ratu Bilqis mendapati singgasananya dan seluruh isi istananya. Di tengah ketakjuban itu, Ratu Bilqis menyadari bahwa kekuasaan dan kekuatan begitu lemah dibandingkan dengan kekuasaan dan karunia Allah. Ia pun menyatakan pasrah kepada Nabi Sulaiman dan beriman kepada Allah.
Ratu Bilqis, seperti dikatakan Amina Wadud Muhsin dalam Wanita di Dalam al-Quran (1994), cenderung memilih untuk mengirim hadiah ketimbang memperlihatkan kekuatan yang kasar sebagai politik yang "feminin". Ia memiliki pengetahuan politik damai sekaligus pengetahuan spiritual mengenai pesan unik Nabi Sulaiman, dan hal itu menunjukkan ia memiliki kemampuan yang independen untuk memerintah secara bijaksana. Al-Quran memperlihatkan bahwa Ratu Bilqis lebih baik dibanding norma di sekelilingnya. Jiwa feminin telah mengantarkannya kepada kearifan, kecerdasan dan juga kebenaran spiritual.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar