Sabtu, 21 Agustus 2010

Puasa Memanusiawikan Manusia

Tak disangkal lagi manusia adalah makhluk super. Ia merupakan kreasi Illahi tertinggi dan sempurna. Bilamana misi menanusiaan itu dilaksanakan sebagaimana mestinya maka manusia bisa melebihi malaikat. Sebaliknya, manakala manusia sudah tidak manusiawi lagi, derajatnya lebih rendah dari hewan. Manusia sejatinya berusaha mempertajam akal serta mendengarkan kata hati. Ini perlu karena dalam diri manusia ada dimensi jasmaniah dan rohaniah.

Andai kata terjadi ketidakseimbangan dimensi ini maka berakibat fatal. Sebab selain membuatnya menjadi brutal, kehilangan benteng moral yang pada gilirannya mendatangkan kesialan.
Itulah sebabnya saat ini diperlukan sistem pendidikan yang berbasis moral atau integrasi antara pendidikan umum dan agama. Ini perlu sebab apa gunanya kita mampu menghasilkan orang pandai tapi moral dan agamanya sangat jelek.
Apalah artinya ilmu tinggi menggapai kawasan samawi manakala
tidak sanggup mengendalikan diri. Lenyaplah arti dan manfaat ilmu apabila pemiliknya sudah ditunggangi nafsu.
Kata Thomas Merton, dunia sekarang lebih memerlukan seorang manusia suci daripada seribu manusa berprestasi seribu nalar.
Lalu siapakah manusia suci itu? Alquran memberi jawaban, itulah orang-orang yang benar-benar bertakwa. Orang bertakwa itu tidak bisa diukur dengan penampilannya saja. Sebab penampilan dapat direkayasa.
Bukankah tidak sedikit orang yang berlagak alim, padahal kerjanya berbuat zalim. Sebaliknya, ada orang yang terlihat seperti preman padahal dia sangat beriman.
Allah berfirman dalam Surat Yunus ayat 62-64: Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada khawatiran baginya, kegundahan, bersedih hati maupun resah gelisah. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira itu di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat.
Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang  demikian itu adalah kemenangan yang besar".
Melalui firman-Nya, Allah menyatakan bahwa orang benar-benar beriman dan bertakwa itu --seperti halnya para wali Allah-- tak pernah waswas, khawatir atau berkeluh kesah dalam hidup dan kehidupannya. Mereka selalu tegas dalam segala situasi dan kondisi, tetap berada di jalan yang lurus secara konsekuen dan konsisten.
Banyak sarana muhasaba, muraqobah dan mujahadah yang bisa ditempuh untuk menjadikan diri sebagai hamba yang beriman dan bertakwa. Salah satunya puasa. Allah dengan tegas menyatakan puasa yang benar dan istiqamah akan membentuk pribadi yang takwa. Malah Rasulullah bersabda, apabila puasa dilakukan dengan penuh keimanan dan keikhlasan maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya.
Puasa menjadikan seseorang steril dari dosa dan noda, sebab  hakikat puasa memang menahan diri serta mengendalikan nafsu dari segala perkataan, sifat, sikap, kebijakan dan perbuatan yang dilarang agama. Dalam konteks ini apakah antara manusa dan Allah, manusia dan manusia atau manusia dan lingkungan.
Pendek kata, puasa yang benar akan membentuk pribadi yang berakhlakul karimah, bermoral terpuji, bermartabat tinggi beretika santun. Inilah sesungguhnya potret manusia yang manusiawi.
Manusia yang manusiawi adalah tipe orang yang senantiasa berusaha menebarkan rahmatan lil alamin, memberikan yang terbaik kepada orang lain, terlebih sesama muslim.

Drs Masdari MSi, Dosen Fakultas Dakwah IAIN Antasari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar