Senin, 23 Agustus 2010

Enam Koridor Ekonomi Diperkuat

Pemerintah tengah memperkuat koordinasi kelembagaan dan penyempurnaan keterhubungan antar wilayah (domestic connectivity) untuk mendukung enam koridor ekonomi.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Armida Alisjahbana menuturkan, pemerintah akan mengoptimalkan enam koridor ekonomi agar mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.Caranya, menyingkronkan koridor ini dengan kebijakan sistem transportasi nasional (sistranas) dan sistem logistik nasional (sislognas). “Singkronisasi sislognas dan sistranas hanya dengan satu cara yakni domestic connectivity. Kita tengah membahas dengan kementerian lain seperti Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perhubungan,” ungkap Armida di Jakarta kemarin.

Enam koridor tersebut antara lain Sumatera Timur,Pantai Utara Jawa, Kalimantan, Sulawesi Barat, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat (NTB),dan Papua.Enam koridor ekonomi ditentukan berdasarkan hasil riset bantuan Jepang yang disebut Economic Riset Institute for ASEAN dan East Asia (ERIA). Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun mendukung pengembangan enam koridor hasil studi tersebut. Armida menjelaskan, optimalisasi dan efektivitas enam koridor terutama berkaitan dengan arus distribusi dan transportasi orang, barang dan jasa. “Untuk mendukung perekonomian maka harus menghilangkan kendala dalam pendistribusian agar arusnya lebih lancar dan tanpa hambatan,”katanya.

Dari sisi perencanaan, domestic connectivity mengikuti letak geografis Indonesia yang terdiri dari kepulauan.Konsepnya berupa antar pulau (inter island) dan didalam pulau (intra island). Kedua konsep tersebut sudah dimasukkan dalam cetak biru.“Modelnya untuk intra islanddibuatTrans, jadi ada Trans Jawa,Trans Sumatera, Trans Kalimantan,Trans Papua, Trans Sulawesi,”jelasnya.Masing- masing trans, disesuaikan juga dengan geografis pulau dan moda transportasi yang efektif dioperasikan. Armida memaparkan, wilayah pulau Jawa terbilang lebih mudah untuk percepatan Trans Jawa. Sebab,pulau Jawa sudah memiliki jalur utama baik di utara maupun selatan.

Sehingga pemerintah hanya tinggal memikirkan penghubung antar keduanya. Untuk moda transportasinya, dimaksimalkan perbaikan untuk mendukung transportasi darat dan udara. Sementara untuk transportasi laut, masih harus memikirkan infrastruktur pendukungnya, seperti perluasan pelabuhan atau penambahan pelabuhan. Sementara di Sumatera,kecenderungannya menggunakan kereta api.Sebab,efektif untuk mendistribusikan potensi alam daerah tersebut yakni perkebunan.Trans Kalimantan nantinya akan berbentuk menyerupai huruf U, yang dikoneksikan dengan Jembatan Kayan untuk menghubungkan antar jalur.

“ Untuk hinterland atau feadernya dengan transportasi sungai karena di sana karakteristik wilayahnya seperti itu dan itu yang kita pertahankan,”paparnya. Sedangkan di Papua atau wilayah Indonesia Timur lainnya, pusat- pusat kegiatan ekonomi akan dibentuk di titik-titik tertentu yang dihubungkan dengan memaksimalkan transportasi laut dan udara. Pengamat Ekonomi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Latif Adam mengatakan keterhubungan antar pulau di Indonesia, ataupun keterhubungan Indonesia dengan negara-negara lainnya di dunia sangat penting untuk menunjang perekonomian dalam negeri.

“Inter connectivity penting, ekonomi dalam negeri tidak akan bergerak merata jika inter connectivity tidak maksimal,” katanya. Latif Adam menambahkan, perekonomian dalam negeri tidak akan bergerak maksimal, jika Indonesia menutup diri dari perekonomian dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar