http://nasional.kontan.co.id/v2/read/1324461204/85845/Inilah-lima-risiko-eksternal-yang-diantisipasi-pemerintah-
JAKARTA. Ancaman krisis keuangan global masih besar. Direktur Perencananaan Makro Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Prijambodo menyebutkan ada lima risiko eksternal yang harus dihadapi dalam menghadapi ancaman krisis global tersebut.
Risiko pertama adalah kekhawatiran terhadap utang Eropa. Bambang menjelaskan, kondisi perekonomian Eropa belum menunjukkan gejala perbaikan. "Kekhawatiran krisis utang Eropa berpotensi mengakibatkan krisis keuangan global dan pada gilirannya resesi global," katanya saat ditemui KONTAN, Selasa (20/12) malam.
Bambang menilai jika Italia mengalami gagal bayar maka perekonomian dunia akan terguncang. Pasalnya, Italia adalah pasar terbesar surat utang tang pemerintah di Eropa dan ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Jepang. Catatan saja, utang Italia 2010 adalah 1,84 triliun euro. Pada akhir 2010, utang Italia mencapai 119% dari PDB. Di zona Euro menduduki peringkat kedua setelah Yunani.
Risiko yang kedua adalah perlambatan ekonomi dunia. Bambang mengatakan, pertumbuhan ekonomi Eropa yang mencerminkan kemampuan membayar utang hanya 0,2% pada triwulan tiga 2011 sama dengan triwulan sebelumnya. Nah, kalau perlambatan ekonomi ini merembet ke Asia dan menyentuh China maka dia bilang ekspor Indonesia juga akan terganggu.
Rembetan yang lain adalah akan terjadi ketidakpastian arus modal dan fluktuasi nilai tukar. Menurutnya, risiko ini akan menyebabkan pergerakan saham menjadi melemah.
Bambang mengatakan, risiko yang ketiga adalah soal perubahan iklim. Menurutnya, risiko ini tidak bisa disepelekan karena akan mengganggu perekonomian global. Dia mencontohkan, bencana banjir yang terjadi di Thailand. Katanya, pemerintah harus bisa menjaga ketahanan pangan dan mengantisipasi risiko ini.
Risiko keempat adalah krisis politik di Timur Tengah dan Afrika. Bambang mengatakan, krisis politik yang terjadi di Timur Tengah dan Afrika akan memicu kenaikan harga minyak dan komoditi non migas."Krisis di negara Timur juga tidak bisa disepelekan karena berkaitan dengan harga minyak," imbuh Bambang.
Risiko terakhir adalah ketidakpastian suplai bahan makanan dan bencana alam yang akan membuat harga komoditas primer tetap naik meskipun ekonomi sedang melambat. Tahun depan, dia meramalkan harga beras nasional naik karena ketidakpastian itu. “Harusnya, kalau ekonomi lambat, komoditas akan turun, tetapi dalam kondisi ini harga bahan-bahan pokok diperkirakan akan tetap naik, karena suplai yang tidak tentu," tandasnya.
Pemerintah menyatakan sudah mengantisipasi dan menyiapkan sejumlah langkah untuk memitigasi krisis tersebut. Kebijakan itu tersebut telah tertuang dalam APBN 2012. “Selain cadangan risiko fiskal, dalam APBN, pemerintah dapat menggunakan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) atas persetujuan DPR,” ungkap Wakil Menteri Keuangan Anny Ratnawati.
Anny merinci, alokasi dana mitigasi krisis APBN 2012 berupa dana cadangan resiko fiskal sebesar Rp 15,8 triliun naik dari tahun 2011 yang hanya Rp 4,7 triliun, anggaran batuan sosial Rp 64,9 triliun, subsidi pangan Rp 15,6 triliun, cadangan beras pemerintah Rp 2 triliun, dan keperluan mendesak Rp 5,5 triliun.
JAKARTA. Ancaman krisis keuangan global masih besar. Direktur Perencananaan Makro Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Prijambodo menyebutkan ada lima risiko eksternal yang harus dihadapi dalam menghadapi ancaman krisis global tersebut.
Risiko pertama adalah kekhawatiran terhadap utang Eropa. Bambang menjelaskan, kondisi perekonomian Eropa belum menunjukkan gejala perbaikan. "Kekhawatiran krisis utang Eropa berpotensi mengakibatkan krisis keuangan global dan pada gilirannya resesi global," katanya saat ditemui KONTAN, Selasa (20/12) malam.
Bambang menilai jika Italia mengalami gagal bayar maka perekonomian dunia akan terguncang. Pasalnya, Italia adalah pasar terbesar surat utang tang pemerintah di Eropa dan ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Jepang. Catatan saja, utang Italia 2010 adalah 1,84 triliun euro. Pada akhir 2010, utang Italia mencapai 119% dari PDB. Di zona Euro menduduki peringkat kedua setelah Yunani.
Risiko yang kedua adalah perlambatan ekonomi dunia. Bambang mengatakan, pertumbuhan ekonomi Eropa yang mencerminkan kemampuan membayar utang hanya 0,2% pada triwulan tiga 2011 sama dengan triwulan sebelumnya. Nah, kalau perlambatan ekonomi ini merembet ke Asia dan menyentuh China maka dia bilang ekspor Indonesia juga akan terganggu.
Rembetan yang lain adalah akan terjadi ketidakpastian arus modal dan fluktuasi nilai tukar. Menurutnya, risiko ini akan menyebabkan pergerakan saham menjadi melemah.
Bambang mengatakan, risiko yang ketiga adalah soal perubahan iklim. Menurutnya, risiko ini tidak bisa disepelekan karena akan mengganggu perekonomian global. Dia mencontohkan, bencana banjir yang terjadi di Thailand. Katanya, pemerintah harus bisa menjaga ketahanan pangan dan mengantisipasi risiko ini.
Risiko keempat adalah krisis politik di Timur Tengah dan Afrika. Bambang mengatakan, krisis politik yang terjadi di Timur Tengah dan Afrika akan memicu kenaikan harga minyak dan komoditi non migas."Krisis di negara Timur juga tidak bisa disepelekan karena berkaitan dengan harga minyak," imbuh Bambang.
Risiko terakhir adalah ketidakpastian suplai bahan makanan dan bencana alam yang akan membuat harga komoditas primer tetap naik meskipun ekonomi sedang melambat. Tahun depan, dia meramalkan harga beras nasional naik karena ketidakpastian itu. “Harusnya, kalau ekonomi lambat, komoditas akan turun, tetapi dalam kondisi ini harga bahan-bahan pokok diperkirakan akan tetap naik, karena suplai yang tidak tentu," tandasnya.
Pemerintah menyatakan sudah mengantisipasi dan menyiapkan sejumlah langkah untuk memitigasi krisis tersebut. Kebijakan itu tersebut telah tertuang dalam APBN 2012. “Selain cadangan risiko fiskal, dalam APBN, pemerintah dapat menggunakan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) atas persetujuan DPR,” ungkap Wakil Menteri Keuangan Anny Ratnawati.
Anny merinci, alokasi dana mitigasi krisis APBN 2012 berupa dana cadangan resiko fiskal sebesar Rp 15,8 triliun naik dari tahun 2011 yang hanya Rp 4,7 triliun, anggaran batuan sosial Rp 64,9 triliun, subsidi pangan Rp 15,6 triliun, cadangan beras pemerintah Rp 2 triliun, dan keperluan mendesak Rp 5,5 triliun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar