DENPASAR: Ekonom menilai Indonesia memperoleh berkah ekonomi di tengah
resesi yang melanda sejumlah negara maju, a.l. tekanan inflasi yang
berkurang.
Laju inflasi September diprediksi berkisar 0,3%-0,5% jika dibandingkan bulan sebelumnya atau di bawah 5% jika dibandingkan periode yang sama 2010.
Ahmad Erani Yustika, Guru Besar Universitas Brawijaya, memperkirakan laju inflasi bulan ini sekitar 0,3% sehingga laju tahunannya akan di kisar an 4%. Rendahnya inflasi bulan lalu disebabkan kecenderungan harga-harga barang yang menurun setelah puasa dan lebaran, seperti komoditas pangan, sandang, transportasi, dan lain-lain. Selain itu, resesi ekonomi di negara maju menjadi pemicu turunnya harga emas dan minyak.
"Ini blessing in disguise buat kita karena kedua komoditas itu penyumbang inflasi yang cukup tinggi, sehingga penurunan harga keduanya juga turut menurunkan inflasi September ini," ujar dia, hari ini.
Kendati demikian, lanjut dia, sejak Oktober kewaspadaan harus ditingkatkan karena musim kemarau mengganggu target produksi beras dan beberapa komoditas pertanian lain. Hal itu bisa terlihat dari banyaknya sawah yang gagal panen sehingga kenaikan harga beras hanya dapat dikendalikan dengan impor dan manajemen pasokan dan distribusi yang baik.
"Tantangan ini yang harus dipanggul pemerintah, khusunya Menteri Pertanian dan Menteri Perdagangan untuk pengendalian inflasi bulan-bulan mendatang," katanya.
Terkait pelemahan Rupiah, Erani mengatakan pengaruhnya belum terlalu berpengaruh terhadap imported inflation karena produsen masih punya stok bahan baku di gudang. Namun, untuk impor bahan jadi tentu menyumbang inflasi meski tidak terlalu signifikan.
"Pengaruh depresiasi itu akan terasa pada bulan-bulan mendatang karena pada saat itu stok bahan baku sudah habis dan produsen harus menyesuaikan harga."(api)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar