Senin, 04 Juli 2011

Pertumbuhan Semestinya di Atas 7 Persen

Oleh Umar Juoro

Dalam asumsi ekonomi makro RAPBN 2012, pemerintah menetapkan pertumbuhan ekonomi pada kisaran 6,5 persen sampai 6,9 persen. Banyak pengamat yang mempertanyakan mengapa pertumbuhan tidak lebih tinggi dari 7 persen. Padahal, banyak yang berpendapat pertumbuhan di atas 7 persen tidak sulit untuk dicapai.

Dari sumber pertumbuhan ekonomi yang terdiri atas konsumsi, pengeluaran pemerintah, investasi, serta ekspor dikurangi impor, sayangnya pengeluaran pemerintah masih jauh dari optimal. Padahal, selama ini konsumsi sudah cukup tinggi. Investasi dan eskpor mulai memperlihatkan pertumbuhan yang tinggi. Jika saja peran pemerintah dapat lebih baik, pertumbuhan akan dapat lebih tinggi. Namun, di sinilah masalahnya. Pemerintah belum dapat memanfaatkan belanja modalnya dengan efektif. Proyek-proyek pemerintah, terutama dalam pembangunan infrastruktur, masih belum berjalan.

Jadi, jika pertumbuhan diharapkan lebih tinggi dari 7 persen, fokusnya adalah memperbaiki kinerja pemerintah. Minat untuk investasi di Indonesia demikian besar tinggal difasilitasi. Dengan permasalahan ekonomi di Eropa dan lambatnya pemulihan ekonomi di AS, tujuan investasi adalah ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dengan semakin mahalnya biaya tenaga kerja di Cina, industri manufaktur juga mulai meninggalkan Cina dan mencari tempat investasi yang lebih sesuai, di antaranya Indonesia. Memang tampak ironis jika sebelumnya pergeseran lokasi industri manufaktur dari Jepang, kemudian dari Korea, dan sekarang dari Cina, menunjukkan bahwa kemampuan Indonesia di industri manufaktur tidak mengalami peningkatan. Hal ini harus diakui sebagai kekurangmampuan meningkatkan daya saing industri pada tingkatan dengan kandungan teknologi yang lebih tinggi yang mernyebabkan Indonesia mempunyai daya saing yang rendah di industri manufaktur.

Dari pandangan ekonomi, memfasilitasi peralihan industri manufaktur dari Cina adalah baik dalam kaitannya dengan penciptaan kesempatan kerja dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Sektor manufaktur pertumbuhannya masih mengecewakan hanya sekitar 4,5 persen. Jika sektor manufaktur dapat tumbuh lebih tinggi, pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan juga akan lebih tinggi.

Pertumbuhan ekonomi sekitar 6 persen sekarang ini tidak banyak menciptakan kesempatan kerja di sektor formal. Data resmi penurunan pengangguran, terutama karena pekerjaan di sektor informal. Hanya dengan pertumbuhan yang tinggi di sektor manufaktur, kesempatan kerja di sektor formal dapat lebih besar.

Mengharapkan pertumbuhan yang lebih tinggi di sektor manufaktur tentu saja membutuhkan dukungan infrastruktur, listrik, jalan, dan pelabuhan. Pembangunan pembangkit listrik mengalami perkembangan sekalipun masih jauh dari optimal. Tetapi, pembangunan jalan dan pelabuhan tampak berjalan di tempat sehingga kemacetan dan kongesti semakin buruk. UU Pembebasan Tanah untuk infrastruktur tidak kunjung disahkan. Perluasan Pelabuhan Tanjung Priok belum ditenderkan. Apalagi, pelabuhan lainnya. Akibatnya, biaya transportasi semakin mahal.

Jadi, membuat pertumbuhan lebih tinggi dari 7 persen sebenarnya tidaklah sulit. Tinggal bagaimana eksekusi untuk pembangunan infrastruktur dilakukan dan bagaimana memfasilitasi investasi, terutama di sektor manufaktur. Pertumbuhan ekonomi Indonesia semestinya adalah 7 persen sampai dengan 7,5 persen.

Pertumbuhan di atas 7 persen juga akan sangat membantu dalam upaya menurunkan angka kemiskinan. Dengan pertumbuhan sekitar 6 persen, kemiskinan hanya turun sekitar 1 juta jiwa. Agar kemiskinan dapat turun lebih besar, pertumbuhan harus lebih tinggi yang didukung oleh kegiatan ekonomi yang banyak menyerap tenaga kerja.

Pengembangan industri padat karya dan pertanian, terutama pangan, akan sangat membantu penurunan angka kemiskinan dengan cara yang baik, yaitu melalui penciptaan kesempatan kerja. Momentumnya ada bagi Indonesia untuk tumbuh tinggi dalam menciptakan kesempatan kerja dan menurunkan kemiskinan. Semestinya kita dapat memanfaatkan momentum ini dan tidak membiarkannya berlalu begitu saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar