Pembiayaan mikro akan terus ditingkatkan.
JAKARTA-- Bank DKI bakal menggenjot pertumbuhan unit usaha syariah (UUS) hingga 100 persen. Menurut Head of Syariah Bank DKI, Harjanto, pihaknya bakal memacu aset menjadi Rp 1,2 triliun dari sebelumnya Rp 600 miliar.
Ia mengatakan pembiayaan mikro dan ritel bakal diintensifkan. “Dalam waktu dekat kami ingin keduanya meningkat hingga 70 sampai 80 persen,” katanya kepada Republika di Jakarta, pekan lalu. Di sektor mikro, pihaknya bakal membuka sejumlah unit di bawah cabang untuk memperluas jaringan. Hal ini akan dilakukan di lima wilayah Jakarta secara merata, baik di Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Timur, Jakarta Barat, maupun Jakarta Selatan.
Selain itu, beberapa kantor kas juga akan diubah fungsi menjadi kantor pembantu. “Namun, jumlahnya masih dikaji lebih lanjut oleh manajemen,” katanya.Diakuinya, pedagang pasar dan pelaku usaha produktif bakal menjadi target utama. Ia mengatakan sektor ini memiliki potensi yang amat besar.
“Kita melihat ini, dari pertumbuhan pengusaha mikro yang ada. Di 2010 lalu, angka menunjukkan mereka tumbuh signifikan hingga 220 ribu orang,” katanya. Sebenarnya, pembiayaan mikro sudah ada sebelumnya di unit syariah Bank DKI ini. Namun sayangnya, pembiayaan tersebut belum memiliki porsi signifikan.
“Kami akan tingkatkan terus pembiayaan ini, karena kami anggap ini amat cocok untuk menyejahterakan masyarakat,” ungkap Harjanto. Menurutnya, di mikro unit syariah Bank DKI tidak menginginkan laba, tetapi break even point atau kembalinya modal.Untuk pembiayaan ini unit syariah Bank DKI menerapkan plafon Rp 50 juta ke bawah. “Kalau sudah settle perlahan kami akan tingkatkan hingga Rp 500 juta,” ujarnya.
Dari segi ritel, Harjanto mengatakan pihaknya masuk ke perusahaan masyarakat dengan memberi pembiayaan berskala menengah hingga besar. Ia mengatakan pembiayaan dikucurkan dengan plafon Rp 500 juta hingga Rp 5 miliar. Unit syariah Bank DKI membiayai industri rumahan, seperti tahu dan bakso. “Kita lakukan sosialisasi terus agar banyak didatangi calon nasabah,” katanya.
Hingga kini, pembiayaan di unit syariah Bank DKI mencapai Rp 600 miliar. Diutarakannya, pembiayaan konsumer masih mendominasi. “Untuk meningkatkan pembiayaan ke depan kita juga bakal mengeluarkan produk baru berupa gadai emas. Sekarang sedang dalam proses finishing,” katanya. Ia mengaku kemungkinan besar, bisnis rahn ini bakal diluncurkan April ini.
Sementara itu, dari segi dana pihak ketiga (DPK), unit syariah Bank DKI hampir mencapai target peningkatan yang diinginkan. Di bulan ini, unit syariah Bank DKI mencatat kenaikan aset hingga Rp 498 miliar, dari sebelumnya Rp 360 miliar.
Meski demikian, kantor cabang pembantu (KCP) dan kas tetap akan ditambah, masing-masing, empat dan tiga buah. “Untuk KCP kita bakal dirikan di antaranya di Ciledug dan BSD, sementara kas akan ada di Ciputat dan Bandara,” katanya. ed: firkah fansuri
nisbah
Melirik Pertanian
Pembiayaan perbankan syariah terhadap sektor pertanian baru mencapai 5,15 persen dari total pembiayaan di sektor ini. Padahalperbankan syariah dinilai memiliki produk yang paling cocok untuk mengembangkan pembiayaan di sektor pertanian. Hal itu karena pertanian memiliki karakter berbeda dengan sektor lain akibat adanya faktor cuaca dan musim tanam.
JAKARTA-- Bank DKI bakal menggenjot pertumbuhan unit usaha syariah (UUS) hingga 100 persen. Menurut Head of Syariah Bank DKI, Harjanto, pihaknya bakal memacu aset menjadi Rp 1,2 triliun dari sebelumnya Rp 600 miliar.
Ia mengatakan pembiayaan mikro dan ritel bakal diintensifkan. “Dalam waktu dekat kami ingin keduanya meningkat hingga 70 sampai 80 persen,” katanya kepada Republika di Jakarta, pekan lalu. Di sektor mikro, pihaknya bakal membuka sejumlah unit di bawah cabang untuk memperluas jaringan. Hal ini akan dilakukan di lima wilayah Jakarta secara merata, baik di Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Timur, Jakarta Barat, maupun Jakarta Selatan.
Selain itu, beberapa kantor kas juga akan diubah fungsi menjadi kantor pembantu. “Namun, jumlahnya masih dikaji lebih lanjut oleh manajemen,” katanya.Diakuinya, pedagang pasar dan pelaku usaha produktif bakal menjadi target utama. Ia mengatakan sektor ini memiliki potensi yang amat besar.
“Kita melihat ini, dari pertumbuhan pengusaha mikro yang ada. Di 2010 lalu, angka menunjukkan mereka tumbuh signifikan hingga 220 ribu orang,” katanya. Sebenarnya, pembiayaan mikro sudah ada sebelumnya di unit syariah Bank DKI ini. Namun sayangnya, pembiayaan tersebut belum memiliki porsi signifikan.
“Kami akan tingkatkan terus pembiayaan ini, karena kami anggap ini amat cocok untuk menyejahterakan masyarakat,” ungkap Harjanto. Menurutnya, di mikro unit syariah Bank DKI tidak menginginkan laba, tetapi break even point atau kembalinya modal.Untuk pembiayaan ini unit syariah Bank DKI menerapkan plafon Rp 50 juta ke bawah. “Kalau sudah settle perlahan kami akan tingkatkan hingga Rp 500 juta,” ujarnya.
Dari segi ritel, Harjanto mengatakan pihaknya masuk ke perusahaan masyarakat dengan memberi pembiayaan berskala menengah hingga besar. Ia mengatakan pembiayaan dikucurkan dengan plafon Rp 500 juta hingga Rp 5 miliar. Unit syariah Bank DKI membiayai industri rumahan, seperti tahu dan bakso. “Kita lakukan sosialisasi terus agar banyak didatangi calon nasabah,” katanya.
Hingga kini, pembiayaan di unit syariah Bank DKI mencapai Rp 600 miliar. Diutarakannya, pembiayaan konsumer masih mendominasi. “Untuk meningkatkan pembiayaan ke depan kita juga bakal mengeluarkan produk baru berupa gadai emas. Sekarang sedang dalam proses finishing,” katanya. Ia mengaku kemungkinan besar, bisnis rahn ini bakal diluncurkan April ini.
Sementara itu, dari segi dana pihak ketiga (DPK), unit syariah Bank DKI hampir mencapai target peningkatan yang diinginkan. Di bulan ini, unit syariah Bank DKI mencatat kenaikan aset hingga Rp 498 miliar, dari sebelumnya Rp 360 miliar.
Meski demikian, kantor cabang pembantu (KCP) dan kas tetap akan ditambah, masing-masing, empat dan tiga buah. “Untuk KCP kita bakal dirikan di antaranya di Ciledug dan BSD, sementara kas akan ada di Ciputat dan Bandara,” katanya. ed: firkah fansuri
nisbah
Melirik Pertanian
Pembiayaan perbankan syariah terhadap sektor pertanian baru mencapai 5,15 persen dari total pembiayaan di sektor ini. Padahalperbankan syariah dinilai memiliki produk yang paling cocok untuk mengembangkan pembiayaan di sektor pertanian. Hal itu karena pertanian memiliki karakter berbeda dengan sektor lain akibat adanya faktor cuaca dan musim tanam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar