JAKARTA. Meski sudah mati suri, namun daya tarik PT Kertas Kraft Aceh (KKA) tidak pernah padam. Buktinya, saat ini sudah ada tiga calon investor yang menyatakan minatnya menjalin kerjasama operasional (KSO) dengan KKA.
Ketiga investor tersebut terdiri dari dua investor asing asal Timur Tengah dan China, serta satu investor lokal. “Kami masih membuka kesempatan seluas-luasnya untuk investor yang berminat KSO dengan KKA,” ujar Boyke Mukijat, Direktur Utama PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA), Rabu (20/4).
Seperti diketahui, untuk menghidupkan kembali KKA, PPA sibuk mengundang investor melalui beauty contest. KKA sudah melakukan dua kali pertemuan dengan calon investor. Pertemuan pertama dilakukan di Aceh bersama dengan Gubernur Aceh dan pengusaha lokal. Lalu, pertemuan kedua dilakukan di Jakarta.
Menurut Renny O. Rorong, Sekretaris Perusahaan PPA, dalam pertemuan di Jakarta, ada sekitar enam calon investor asing dan 12 investor lokal yang diundang. Beberapa calon investor lokal yang diundang PPA, di antaranya PT Riau Andalan Pulp and Paper, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk dan PT Fajar Surya Wisesa Tbk. Namun dari sederet calon investor tersebut, baru tiga calon investor yang menyatakan serius ingin menjalin KSO dengan KKA.
Proses beauty contest ini akan berlangsung hingga Juni mendatang. “Diharapkan Juli pabrik sudah bisa persiapan beroperasi,” kata Renny.
Butuh Rp 900 miliar
Direktur Operasi KKA Andriano Baharudin mengatakan, ketiga calon investor tersebut harus menyiapkan dana sebesar Rp 800 miliar hingga Rp 900 miliar. Kebutuhan dana itu akan digunakan untuk mengganti bahan bakar gas ke batubara. "Ini adalah investasi utama saat ini karena harga gas semakin tidak ekonomis,” kata Andriano.
Sebetulnya wajar saja bila ada banyak investor yang ingin meminang KKA. Sebab, hingga tahun 2016 permintaan kertas kraft nasional diprediksi akan tumbuh 4,6% per tahun. Jika KKA hidup kembali, impor kertas kraft bisa berkurang. Maklum, “Jika beroperasi penuh tahun 2012 nanti, KKA akan menjadi pabrik kertas kraft terbesar kedua di Asia,” tutur Andriano.
Kapasitas produksi KKA ditargetkan akan mencapai 114.000 ton. Padahal, kebutuhan kertas kraft nasional tidak lebih dari sekitar 100.000 ton. Dus, KKA bisa melempar produksi ke pasar dalam dan luar negeri.
Tahun 2012 nanti KKA mengharapkan bisa memproduksi 100.000 ton kertas. Di tahun yang sama, kebutuhan kraft nasional yang diprediksi cuma sekitar 120.700 ton. Dengan begitu, KKA bisa mendominasi pasar kertas kraft di Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar