JAKARTA. Ketidakpastian ekonomi global berimbas ke lelang Surat Utang Negara (SUN). Tawaran penempatan dana yang mengalir ke lelang SBN terakhir yang berlangsung Selasa (19/4), lebih kecil dibandingkan nilai yang masuk di lelang terdahulu.
Aliran dana yang masuk di lelang kemarin Rp 14,84 triliun, jauh di bawah tawaran yang diterima di lelang 5 April, yaitu Rp 26,03 triliun. Lana Soelistianingsih, Ekonom Samuel Sekuritas, menyebut kondisi pasar obligasi memang sedang tidak baik.
Para pemilik dana tidak percaya diri masuk ke pasar. "Jika porsi asing berkurang, saya kira kekhawatiran inflasi mulai tecermin," kata dia. Investor tengah mencermati rencana otoritas moneter di China menaikan bunga.
Faktor negatif lain di pasar global adalah penurunan prospek utang Amerika Serikat (AS) dari stabil jadi negatif. Yang terjadi kemudian, investor mulai khawatir.
Seri SBN yang ditawarkan pemerintah dinilai I Made Adi Saputra Analis Obligasi NC Securities, tidak sesuai dengan selera investor. "Tiga dari lima seri yang ditawarkan adalah berseri pendek," jelas dia. Padahal investor mengincar yield tinggi.
Dana pensiun
Maklum yield surat utang tenor pendek seperti Surat Perbendaharaan Negara (SPN) berjangka 3 bulan, SPN 12 bulan dan FR0055 memang mini. Namun dalam lelang kali ini, pemerintah memberikan yield yang lebih besar dibandingkan lelang sebelumnya.
Ambil contoh untuk SPN seri SPN20110720 yang bertenor 3 bulan, yield dalam lelang kemarin adalah 5,193%. Bandingkan dengan yield di lelang sebelumnya yang hanya 5,02%. "Bahkan yield terendah ada yang 4%," ucap Made.
Made menduga investor banyak yang menyerap penawaran SUN FR0057. "Fluktuasi yield terjadi untuk obligasi tenor pendek," papar dia.
Lana menilai, pemerintah lebih suka menyerap dana dengan obligasi jangka panjang dibanding jangka pendek. "Pembeli SUN jangka panjang dari domestik seperti dana pensiun (dapen) dan asuransi," papar dia. Likuiditas dapen memang sedang banyak.
Sedangkan peminat obligasi jangka pendek biasanya bank atau investor asing. Tapi, menurut Made, investor khawatir dengan inflasi dan kemungkinan kenaikan BI rate dalam 12 bulan ke depan. Tak heran, investor meminta yield lebih tinggi pada SPN20120406.
Made menilai, tawaran dana yang masuk di lelang kemarin cukup besar. Alasan dia, likuiditas di pasar terbilang tinggi, mengingat perubahan holding period Sertifikat Bank Indonesia segara berlaku. "Tapi investor menghitung ulang yield," ujar Made.
Aliran dana yang masuk di lelang kemarin Rp 14,84 triliun, jauh di bawah tawaran yang diterima di lelang 5 April, yaitu Rp 26,03 triliun. Lana Soelistianingsih, Ekonom Samuel Sekuritas, menyebut kondisi pasar obligasi memang sedang tidak baik.
Para pemilik dana tidak percaya diri masuk ke pasar. "Jika porsi asing berkurang, saya kira kekhawatiran inflasi mulai tecermin," kata dia. Investor tengah mencermati rencana otoritas moneter di China menaikan bunga.
Faktor negatif lain di pasar global adalah penurunan prospek utang Amerika Serikat (AS) dari stabil jadi negatif. Yang terjadi kemudian, investor mulai khawatir.
Seri SBN yang ditawarkan pemerintah dinilai I Made Adi Saputra Analis Obligasi NC Securities, tidak sesuai dengan selera investor. "Tiga dari lima seri yang ditawarkan adalah berseri pendek," jelas dia. Padahal investor mengincar yield tinggi.
Dana pensiun
Maklum yield surat utang tenor pendek seperti Surat Perbendaharaan Negara (SPN) berjangka 3 bulan, SPN 12 bulan dan FR0055 memang mini. Namun dalam lelang kali ini, pemerintah memberikan yield yang lebih besar dibandingkan lelang sebelumnya.
Ambil contoh untuk SPN seri SPN20110720 yang bertenor 3 bulan, yield dalam lelang kemarin adalah 5,193%. Bandingkan dengan yield di lelang sebelumnya yang hanya 5,02%. "Bahkan yield terendah ada yang 4%," ucap Made.
Made menduga investor banyak yang menyerap penawaran SUN FR0057. "Fluktuasi yield terjadi untuk obligasi tenor pendek," papar dia.
Lana menilai, pemerintah lebih suka menyerap dana dengan obligasi jangka panjang dibanding jangka pendek. "Pembeli SUN jangka panjang dari domestik seperti dana pensiun (dapen) dan asuransi," papar dia. Likuiditas dapen memang sedang banyak.
Sedangkan peminat obligasi jangka pendek biasanya bank atau investor asing. Tapi, menurut Made, investor khawatir dengan inflasi dan kemungkinan kenaikan BI rate dalam 12 bulan ke depan. Tak heran, investor meminta yield lebih tinggi pada SPN20120406.
Made menilai, tawaran dana yang masuk di lelang kemarin cukup besar. Alasan dia, likuiditas di pasar terbilang tinggi, mengingat perubahan holding period Sertifikat Bank Indonesia segara berlaku. "Tapi investor menghitung ulang yield," ujar Made.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar