JAKARTA: Dunia telah menanggung kerugian yang begitu besar akibat perubahan iklim karena lebih memilih eksplorasi sumber daya alam secara besar-besaran guna mencapai target pertumbuhan ekonomi dibandingkan dengan melakukan konservasi.Bagaimana Inggris menerapkan pembangunan berkelanjutan (berwawasan lingkungan), serta apa pandangan negara itu terhadap kebijakan ekonomi Indonesia dan negara berkembang lain dalam merespons perubahan iklim?
Berikut petikan wawancara Bisnis dengan Utusan Khusus Pemerintah Inggris Bidang Perubahan Iklim John Ashton, akhir bulan lalu.
Apa tujuan yang ingin dicapai Pemerintah Inggris dari Indonesia dalam kampanye perubahan iklim?
Tujuannya sederhana. Indonesia memilih model pertumbuhan de ngan menjadikan pekerjaan dan pertumbuhan sebagai sumber dari ke tahanan ekonomi. Tentu saja itu pen ting bagi Indonesia, tapi juga pen ting bagi dunia.
Uni Eropa menilai Indonesia tidak cukup signifikan. Kami cenderung me mikirkan sejumlah ekonomi ne gara berkembang lain, yang lebih be sar, sebelum kami berpikir tentang Indonesia. Jadi, kedatangan saya un tuk mendapat pandangan yang lebih dekat mengenai isu-isu lingkungan.
Dalam politik pertumbuhan ekonomi, dunia perlu mengetahui apakah bisa berhasil pada isu perubahan iklim atau justru gagal. Namun, jika pertumbuhan tidak mampu merespons perubahan iklim, ekonomi akan rusak. Inilah yang perlu dipikirkan negara-negara di dunia pada saat ini.
Kunci untuk berhasil sangat sederhana, yaitu berusaha membangun model pertumbuhan yang tahan terhadap beberapa tekanan dalam tahap globalisasi. Dunia mungkin bisa berhasil dengan menggunakan model pertumbuhan low carbon.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menargetkan pengurangan emisi Indonesia 26% pada 2020 dari produksi. Bagaimana anda melihat target ini?
Saya rasa, dunia akan melihat seberapa sulit mencapai target emisi atau apakah target itu suatu kesempatan melakukan restrukturisasi pembangunan. Tantangannya bukan mengurangi emisi berapa persen per tahun, tapi akhirnya adalah membangun ekonomi low carbon.
Ekonomi low carbon adalah karakteristik ekonomi alamiah. Bagaimana sebuah negara bisa menghilangkan emisi jika tidak dapat memberi m akan 9 miliar penduduk dunia dari pe makaian lahan [land use]. Target itu akan tercapai dengan dukungan internasional.
Dengan melihat isu-isu struktural, kami banyak berbicara soal kebijakan energi, bagaimana membangun ekonomi dengan menggunakan energi yang lebih efisien agar mampu bertahan jika terjadi kenaikan harga minyak dunia, seperti geotermal.
Ada isu menarik soal carbon capture storage (CCS/tempat penyimpanan karbon) di sini. Kalau Anda ingin membakar banyak bahan ba kar fosil untuk mendapatkan listrik, Anda tidak bisa melakukannya secara alamiah bersama, kecuali memiliki CCS.
Bagaimana dengan subsidi energi?
Saya juga terkejut dengan debat soal penarifan energi, penarifan listrik dan bensin. Apakah subsidi saat ini harus dihilangkan?. Memang lebih mudah memberikan subsidi daripada menghilangkannya. Kalau menghilangkannya, nanti ada masalah politis.
Namun, kalau terus di pertahankan, ada beban yang tidak nyaman, terutama subsidi bensin, jika harga naik. Subsidi juga mentransfer kekayaan dari penduduk miskin ke kelompok kaya. Ini disayangkan apalagi terjadi di negara yang ingin mengentaskan kemiskinan.
Sejauh mana konsolidasi fiskal Inggris memengaruhi investasi Pemerintah Inggris mewujudkan ekonomi rendah karbon?
Pengurangan defisit fiskal yang sedang kami tempuh itu belum pernah kami alami sebelumnya. Kami belum pernah mengurangi defisit begitu banyak dengan cepat. Jadi, kami belajar sambil jalan, tetapi juga ada beberapa risiko.
Namun, pembangunan hijau bukan slogan. Jadi sulit dilakukan selama konsolidasi fiskal, tetapi masih ada jalan yang kami sebut kesepakatan hijau (green deal), yaitu bagaimana memperbaiki efisiensi energi, terutama swasta dan industri.
Green deal adalah mekanisme di mana kami bekerja sama dengan perusahaan jasa keuangan.
Inggris memiliki beberapa bangunan yang sangat tidak efisien di Eropa.
Inggris memiliki beberapa bangunan yang sangat tidak efisien di Eropa.
Bagaimana mengantisipasi dampak hubungan perubahan iklim terhadap ketahanan pangan?
Kalau ingin memiliki ketahanan pangan, harus ada ketahanan iklim. Tekanan iklim sangat buruk bagi ketahanan pangan dan bukan proposisi teoretis bahwa sesuatu yang sudah terjadi.
Di Rusia pada musim panas 2010, ada gelombang panas berkepanjangan dan kekeringan yang memicu penurunan produksi gandum sebesar 50% dan kemudian mendorong pemerintahnya untuk melarang ekspor dan dengan cepat mengerek naik harga gandum dunia.
Hal ini juga memicu demonstrasi di sejumlah kota. Itu contoh hubungan ketahanan iklim dan ketahanan pangan.
Pada 2008, ada lonjakan harga pangan yang lebih rumit karena dipengaruhi sejumlah faktor secara bersama, sebagian karena kenaikan harga minyak, substitusi produksi biofuel, dan juga akibat kekeringan di Australia yang disebabkan oleh perubahan fundamental di dalam pola hujan.
Perubahan pola hujan sekarang bisa membuat Australia kurang produktif untuk biji-bijian dan ini berkontribusi pada kenaikan harga pangan di kemudian hari. Hubungannya memang sangat brutal.
Apa kontribusi Pemerintah Inggris untuk mengatasi persoalan tersebut?
Kami banyak berupaya melalui diplomasi untuk mencoba pembangunan, bukan hanya untuk Inggris melainkan juga secara global, yaitu model pertumbuhan rendah karbon yang akan mengatasi persoalan itu.
Kami banyak melakukan upaya yang didesain untuk memberikan dampak secara langsung pada daya tahan pangan dan air terutama di negara-negara miskin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar