JAKARTA -- PT Pertamina telah menyampaikan komitmen pengelolaan Blok West Madura Offshore di lepas pantai utara Jawa Timur ke pemerintah sejak dua tahun lalu. Tetapi, hingga saat ini, BUMN sektor migas tersebut belum menerima jawaban atas komitmen mengelola blok migas yang akan berakhir masa kontraknya pada 6 Mei 2011.
Juru bicara Pertamina, M Harun, menuturkan berlarutnya keputusan perpanjangan kontrak menyebabkan produksi minyak di Blok West Madura Offshore terus menurun dari 19 ribu barel per hari menjadi hanya 14 ribu barel per hari. “Kami telah sampaikan komitmen kepada pemerintah sejak dua tahun lalu sebelum berakhirnya kontrak 6 Mei 2011, tetapi hingga saat ini belum ada keputusan pasti tentang pengelolaan blok tersebut,” katanya dalam siaran pers kepada Republika, Senin (18/4).
Guna meyakinkan pemerintah akan komitmen menjadi operator di West Madura Offshore, Harun menyampaikan Pertamina telah menyiapkan sumber daya manusia untuk masa transisi pengelolaan blok di Jawa Timur tersebut. Termasuk juga persiapan untuk pengembangan lapangan tersebut. “Pertamina menawarkan target perolehan produksi hingga 30 ribu barel per hari,” ujarnya.
Di samping itu, kata Harun, Pertamina juga telah mengalokasikan sebagian dari total belanja modal sektor hulu senilai Rp 28,4 triliun untuk pengembangan lapangan West Madura Offshore dengan skema pengelolaan 100 persen.
Pengelolaan dan pengembangan Blok West Madura Offshore, tambah Harun, tidak berbeda dengan konsep pengembangan yang dilakukan Pertamina untuk Lapangan Offshore North West Java (ONWJ) di lepas pantai utara Jawa bagian barat, yang setelah diambil alih Pertamina mengalami kenaikan produksi dari 21 ribu barel per hari menjadi 30 ribu barel per hari dan 200 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) gas pada saat ini.
Sebelumnya, Menteri ESDM, Darwin Zahedy Saleh, mengatakan pemerintah meminta keseriusan dan kesungguhan Pertamina terlebih dahulu sebelum ditunjuk sebagai pengelola Blok West Madura Offshore. “Pemerintah dalam posisi mengedepankan peranan nasional dalam hal ini Pertamina. Sejak awal itu, yang jadi prinsip pemerintah dalam hal ini melalui Menteri ESDM, sekarang prosesnya sudah hampir final. Tapi, saya ingin dapatkan dulu komitmen dari Pertamina,” kata Darwin.
Ditegaskannya, jika Pertamina ingin memiliki 100 persen saham di West Madura Offshore, tidak cukup menyatakan keinginan saja, tapi juga komitmen kesanggupan. “Kalau Pertamina ingin 100 persen, tidak cukup (menyatakan) ingin, tapi sanggup dengan segala konsekuensinya, pemerintah akan dukung,” kata Darwin.
Jadi, lanjutnya, saya kembalikan kepada Dirjen Migas Kementerian ESDM, Evita Legowo, Komisaris Utama dan Komisaris Pertamina, berapa yang dikehendaki dan harus ada kesanggupan. “Biar publik sama-sama tahu. Tidak hanya keinginan, tapi juga kesanggupan dan jaga komitmen,” tutur Darwin.
Belum diputuskan
Dirjen Migas Kementerian ESDM, Evita Legowo, mengatakan sampai saat ini belum diputuskan siapa yang akan menjadi operator West Madura Offshore setelah kontrak habis pada 7 Mei 2011. “Belum kita putuskan,” ungkapnya.
Ketika ditanyakan apakah kesempatan Pertamina menjadi operator West Madura Offshore masih terbuka, Evita mengaku kemungkinan itu ada. “Ya ada. Kemungkinan itu ada. Tapi, kapannya kita tidak tahu. Apakah langsung sekarang, setahun lagi, atau dua tahun lagi,” katanya.
West Madura Offshore yang terletak di perairan Madura dengan luas 6.246 kilometer (KM) ini kepemilikan sahamnya sebesar 50 persen dipegang Pertamina, sementara sisanya dimiliki oleh Kodeco Energy dan CNOOC Madura dengan komposisi kepemilikan masing-masing sebesar 25 persen.
Namun, menjelang dua bulan berakhirnya kontrak, kedua mitra kerja Pertamina di lapangan minyak ini diketahui telah menjual sebagian kepemilikan saham mereka kepada investor baru. Pengalihan sebagian saham Kodeco dan CNOOC ini ternyata telah mendapat persetujuan dari Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) selaku regulator.
Dalam persetujuan tertanggal 31 Maret 2011, BP Migas menyetujui pengalihan sebagian saham Kodeco ke PT Sinergindo Citra Harapan dan CNOOC ke Pure Link Investment, masing-masing sebesar 12,5 persen. Sehingga, menjelang berakhirnya masa kontrak West Madura Offshore tersebut, komposisi kepemilikan saham di lapangan minyak ini berubah menjadi Pertamina 50 persen, Kodeco Energy, CNOOC Madura, Sinergindo Citra Harapan, dan Pure Link Investment, masing-masing 12,5 persen. ed: nidia zuraya
Juru bicara Pertamina, M Harun, menuturkan berlarutnya keputusan perpanjangan kontrak menyebabkan produksi minyak di Blok West Madura Offshore terus menurun dari 19 ribu barel per hari menjadi hanya 14 ribu barel per hari. “Kami telah sampaikan komitmen kepada pemerintah sejak dua tahun lalu sebelum berakhirnya kontrak 6 Mei 2011, tetapi hingga saat ini belum ada keputusan pasti tentang pengelolaan blok tersebut,” katanya dalam siaran pers kepada Republika, Senin (18/4).
Guna meyakinkan pemerintah akan komitmen menjadi operator di West Madura Offshore, Harun menyampaikan Pertamina telah menyiapkan sumber daya manusia untuk masa transisi pengelolaan blok di Jawa Timur tersebut. Termasuk juga persiapan untuk pengembangan lapangan tersebut. “Pertamina menawarkan target perolehan produksi hingga 30 ribu barel per hari,” ujarnya.
Di samping itu, kata Harun, Pertamina juga telah mengalokasikan sebagian dari total belanja modal sektor hulu senilai Rp 28,4 triliun untuk pengembangan lapangan West Madura Offshore dengan skema pengelolaan 100 persen.
Pengelolaan dan pengembangan Blok West Madura Offshore, tambah Harun, tidak berbeda dengan konsep pengembangan yang dilakukan Pertamina untuk Lapangan Offshore North West Java (ONWJ) di lepas pantai utara Jawa bagian barat, yang setelah diambil alih Pertamina mengalami kenaikan produksi dari 21 ribu barel per hari menjadi 30 ribu barel per hari dan 200 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) gas pada saat ini.
Sebelumnya, Menteri ESDM, Darwin Zahedy Saleh, mengatakan pemerintah meminta keseriusan dan kesungguhan Pertamina terlebih dahulu sebelum ditunjuk sebagai pengelola Blok West Madura Offshore. “Pemerintah dalam posisi mengedepankan peranan nasional dalam hal ini Pertamina. Sejak awal itu, yang jadi prinsip pemerintah dalam hal ini melalui Menteri ESDM, sekarang prosesnya sudah hampir final. Tapi, saya ingin dapatkan dulu komitmen dari Pertamina,” kata Darwin.
Ditegaskannya, jika Pertamina ingin memiliki 100 persen saham di West Madura Offshore, tidak cukup menyatakan keinginan saja, tapi juga komitmen kesanggupan. “Kalau Pertamina ingin 100 persen, tidak cukup (menyatakan) ingin, tapi sanggup dengan segala konsekuensinya, pemerintah akan dukung,” kata Darwin.
Jadi, lanjutnya, saya kembalikan kepada Dirjen Migas Kementerian ESDM, Evita Legowo, Komisaris Utama dan Komisaris Pertamina, berapa yang dikehendaki dan harus ada kesanggupan. “Biar publik sama-sama tahu. Tidak hanya keinginan, tapi juga kesanggupan dan jaga komitmen,” tutur Darwin.
Belum diputuskan
Dirjen Migas Kementerian ESDM, Evita Legowo, mengatakan sampai saat ini belum diputuskan siapa yang akan menjadi operator West Madura Offshore setelah kontrak habis pada 7 Mei 2011. “Belum kita putuskan,” ungkapnya.
Ketika ditanyakan apakah kesempatan Pertamina menjadi operator West Madura Offshore masih terbuka, Evita mengaku kemungkinan itu ada. “Ya ada. Kemungkinan itu ada. Tapi, kapannya kita tidak tahu. Apakah langsung sekarang, setahun lagi, atau dua tahun lagi,” katanya.
West Madura Offshore yang terletak di perairan Madura dengan luas 6.246 kilometer (KM) ini kepemilikan sahamnya sebesar 50 persen dipegang Pertamina, sementara sisanya dimiliki oleh Kodeco Energy dan CNOOC Madura dengan komposisi kepemilikan masing-masing sebesar 25 persen.
Namun, menjelang dua bulan berakhirnya kontrak, kedua mitra kerja Pertamina di lapangan minyak ini diketahui telah menjual sebagian kepemilikan saham mereka kepada investor baru. Pengalihan sebagian saham Kodeco dan CNOOC ini ternyata telah mendapat persetujuan dari Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) selaku regulator.
Dalam persetujuan tertanggal 31 Maret 2011, BP Migas menyetujui pengalihan sebagian saham Kodeco ke PT Sinergindo Citra Harapan dan CNOOC ke Pure Link Investment, masing-masing sebesar 12,5 persen. Sehingga, menjelang berakhirnya masa kontrak West Madura Offshore tersebut, komposisi kepemilikan saham di lapangan minyak ini berubah menjadi Pertamina 50 persen, Kodeco Energy, CNOOC Madura, Sinergindo Citra Harapan, dan Pure Link Investment, masing-masing 12,5 persen. ed: nidia zuraya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar