Selasa, 19 April 2011

ASEAN Bisa Jadi Kutub Ekonomi

DEPOK - Negara-negara di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan ekonomi regional. Menurut Komisaris CIMB ASEAN Research Institute (CARI), Glen Muhammad Surya Yusuf, ASEAN memiliki banyak potensi yang mampu menjadikannya sebagai salah satu regional maju di dunia.

“Kita tak hanya memiliki talent dan capital. Negara-negara di kawasan ini juga didukung kuat dengan 600 juta penduduk dan Gross Domestic Product (GDP) sebesar 1,8 triliun dolar AS,” ujarnya pada saat peresmian kerja sama CARI dengan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI), Senin (18/4).

Namun, menurut Glen, amat disayangkan dalam pembangunan kini negara ASEAN seolah tertinggal oleh kawasan lainnya. Ia mengatakan hal tersebut dikarenakan adanya pemisah di antara negara-negara ASEAN. “Jika ingin menjadi kekuatan di Asia, ASEAN harus membuka scale dan connectivity. Kita butuh integrasi ekonomi regional untuk dijembatani sekarang,” paparnya.

Ditegaskannya, kerja sama ini bukan hanya dilakukan di tingkat pemerintah semata, melainkan juga melibatkan sektor swasta dan organisasi nonpemerintah lain. “Karenanya, perlu membuat ASEAN framework finance agar lebih mempermudah akses keuangan.”

Hal senada juga diutarakan Dekan Fakultas Ekonomi UI, Firmanzah. Diakuinya, banyak tantangan yang harus dilakukan ASEAN untuk membuat investor tertarik dengan kawasan ini. “Bagaimana membuat ekonomi di wilayah ini kompetitif dan atraktif menjadi tantangan tersendiri untuk wilayah ini. Bukan hanya itu, situasi sosial, budaya, dan politik juga bisa menjadi tantangan tersendiri,” ujarnya.

Menurut Firmanzah, tersambungnya wilayah ASEAN satu sama lain akan mampu membuat kawasan ini kompetitif dengan wilayah lainnya. “Tidak hanya produk, tapi juga bagaimana industrialisasi dan komuniti produk bisa berkembang,” jelasnya.

Khusus untuk Indonesia, ia berujar negara ini memiliki peran signifikan dalam perkembangan ekonomi ASEAN. Selain memiliki populasi yang besar, negara ini memiliki daya beli yang tinggi. “Belum lagi, GDP yang terus meningkat tiga ribu dolar AS ditambah dengan jumlah kelas menengah yang terus bertambah. Ini menjadi potensi sendiri untuk negara ini,” tambahnya. Potensi yang dimiliki Indonesia juga terlihat dari kekayaan sumber daya alam. Namun sayangnya, kata dia, yang sudah tergali selama ini hanya beberapa sektor.

Tim evaluasi

Dalam kesempatan terpisah, Menko Perekonomian Hatta Rajasa menyatakan tim evaluasi pemerintah yang khusus membahas persoalan perdagangan bebas antara ASEAN dan Cina (ACFTA) akan ditingkatkan hingga level menteri. Menurut Hatta, tim evaluasi tersebut nantinya yang akan mempersiapkan daya saing dan daya tahan industri nasional menghadapi persaingan global, termasuk di dalamnya ACFTA.

“Misalkan nanti setelah ACFTA kita akan menghadapi Australia, New Zealand, kemudian Eropa, yang kesemuanya pelajaran-pelajaran kita yang lalu menjadi pelajaran ke depannya untuk kita mempersiapkan lebih baik lagi,” ujarnya.

Menurut Hatta, pada level menteri, tim evaluasi ini akan mengadakan rapat setiap dua pekan. Sedangkan, di tingkat eselon satu, rapat rutin tim evaluasi ini berjalan setiap satu pekan. Hasil rapat yang dilakukan di tingkat menteri dan eselon satu ini, terang dia, nantinya akan dibawa dalam rapat pleno yang diadakan setiap satu bulan sekali.

Di tubuh tim evaluasi ini, terang Hatta, ada dua kelompok kerja (pokja) yang masing-masing menangani persoalan sektor perdagangan dan sektor industri. Pokja perdagangan, menurutnya, tidak hanya menangani perdagangan luar negeri, tetapi juga perdagangan dalam negeri. “Pokja (perdagangan) fokus meningkatkan upaya untuk meningkatkan penggunaan produk dalam negeri,” kata dia. Sementara, pokja industri bertugas meningkatkan daya saing industri lokal.

Hatta menuturkan, kelemahan sektor in dustri nasional saat ini adalah dalam hal pengadaan bahan baku. Karenanya, pemerintah akan mempertimbangkan kebijakan pemberian insentif pem bebasan pajak (tax holiday) kepada para pelaku usaha yang mau mengembangkan industri bahan baku di da lam negeri.ed: nidia zuraya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar