Senin, 25 April 2011

Pemerintah kaji ICP pada level US$95 per barel

JAKARTA: Pemerintah mempertimbangkan untuk anggaran tahun depan harga minyak mentah Indonesia akan berada pada kisaran US$90-US$95 per barelnya dan lifting pada kisaran level 960.000 barel per hari (bph).
Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan pemerintah sudah melakukan penyesuaian untuk Indonesia crude price (ICP) pada anggaran 2012 dengan harga kisaran US$90-US$95 per barelnya.

Adapun untuk lifting tahun depan, kemungkinan pemerintah tidak akan banyak meningkatkan target, dan malahan tidak menutup kemungkinan akan menurunkan patokannya jika dibandingkan tahun ini.

“Kita juga harus lebih realistis karena 10 tahun ini kita tidak pernah mencapai meningkat produksi kita, selalu menurun. 2012 kita mungkin akan berada pada 960.000 [bph] atau 970.000 [bph] disekitar itu,” ujar Hatta usai menggelar rapat koordinasi dengan beberapa menteri dikantornya, hari ini.

Sepanjang tahun ini, Hatta mengakui pemerintah tidak banyak mendapatkan keuntungan dari peningkatan harga minyak dunia yang tengah terjadi. Dia menyebutkan berdasarkan rata-rata Desember 2010-Maret 2011, harga ICP sudah mencapai US$102 per barel, jauh diatas perkiraan pemerintah yang berada pada level US$80 per barel.

“Kita memang kurang begitu beruntung karena tidak bisa memanfaatkan harga yang tinggi. Karena lifting kita  tahun ini pun tampaknya tidak akan tercapai. Jadi ini sesuatu yang amat disayangkan.”

Menanggapi tentang kemungkinan pengetatan terkait hal tersebut, Hatta mengatakan kalau pihaknya belum memutuskan untuk melakukan pengetatan dengan menaikkan harga.

Namun, dia meminta berbagai pihak disiplin dan menyadari bagaimana pun kuota dan anggaran subsidi tahun ini terbatas. Kendati tahun depan target lifting kemungkinan tidak akan mengalami peningkatan, Hatta berharap pada tahun berikutnya lifting Indonesia bisa menyentuh 1 juta bph.

“Kita beruntung karena produksi gas kita meningkat dan mendapatkan cadangan-cadangan baru. Sehingga kalau kita bicara soal oil to gas ekuivalen, gas to oil ekuivalen sebetulnya minyak kita itu ekuivalennya meningkat.”

Sebelumnya, Askolani , Kepala Pusat Kebijakan APBN, Badan Kebijakan Fiskal (BKF) menuturkan kenaikan harga minyak dunia telah membuat jarak antara harga keekonomian BBM dengan harga patokan BBM bersubsidi semakin melebar. Fenomena itu bisa memicu migrasi pengguna BBM dan dapat meningkatkan beban subsidi sehingga perlu dikendalikan konsumsi BBM bersubsidi.

“Kenaikan harga BBM Rp500 per liter dapat mengurangi subsidi BBM sekitar Rp9-10 triliun,” ujarnya. Menurut Askolani, jika harga minyak mentah Indonesia (ICP) meningkat US$10 per barel di atas asumsi US$80 per barel, subsidi BBM berpotensi membengkak sebesar Rp26 triliun.

Estimasi tersebut memperhitungkan potensi peningkatan volume BBM bersubsidi, melampaui kuota 38,6 juta kilo liter. “Setiap tambahan pemakaian premium sebesar 1 juta kilo liter belanja subsidi bertambah sekitar Rp1 triliun. Sementara untuk penambahan 1 juta kilo liter solar, belanja subsidi akan bertambah Rp2 triliun. Artinya, kalau kuota BBM bersubsidi tidak tercapai, akan berpengaruh pada anggaran,” katanya.(mmh)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar