Selasa, 19 April 2011

Memuji Pasangan Membuat Anda Lebih Bahagia

Memuji Pasangan Membuat Anda Lebih BahagiaPERNAH merasa kecewa dan tidak puas terhadap pasangan karena tidak sesuai dengan harapan Anda? Penelitian menunjukkan, orang akan lebih bahagia jika mereka hanya melihat kualitas terbaik pasangannya.

Jika memang cinta itu buta, mungkin hal itu ada baiknya. Menurut sebuah studi terbaru seperti dikutip situs webmd.com, orang yang memuja pasangannya ketika menikah, dan hanya melihat kualitas-kualitas terbaiknya, lebih mungkin merasa bahagia bersama pasangannya hingga tiga tahun setelahnya.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Psychological Science itu, melibatkan 193 pasangan yang baru menikah. Mayoritas di antara partisipan adalah mereka yang berusia di pertengahan sampai akhir 20-an tahun. Hampir 90 persen di antaranya adalah orang kulit putih, dengan pendapatan tahunan keluarga berkisar US$40.000-US$70.000. Pada awal studi dan tiap interval enam bulan dari tiga tahun pertama pernikahannya, setiap pasangan melengkapi sebuah survei.

Dalam survei tersebut, mereka menggambarkan diri mereka dan pasangannya, menilai karakteristik positif mereka (baik, lucu, pengertian, atau hangat) termasuk karakter negatif (malas, pengkritik, moody, dingin, tidak dewasa). Mereka kemudian menilai pasangan ideal mereka pada skala yang sama. Pasangan tersebut juga menyelesaikan beberapa survei lain yang mengukur tingkat kepuasan, harga diri, depresi, neurotisisme, dan ikatan.

Sisi positif
Menurut para peneliti, penilaian diri paling sering didasarkan pada kenyataan. Cara kita melihat diri kita cukup akurat. Tapi, cara kita melihat orang lain sering dibentuk oleh harapan. Dengan pemikiran seperti itu, mereka mengambil salah satu penilaian orang tentang dirinya, dan membandingkannya dengan penilaian pasangannya. Begitu pula sebaliknya.

Sebagai contoh, pasangan ideal bagi si A adalah lucu dan hangat. Dan seperti itulah dia memilih untuk melihat si B yang baru dinikahinya, meski pun si B sendiri menggambarkan dirinya sebagai orang yang moody dan dingin.

Lantas, akankah suatu saat nanti si A akan mengubah penilaiannya dan menyesal menikah dengan si B? Atau, apakah pandangan positifnya yang melenceng tentang si B akan membantu mempertahankan kebahagiannya?

Ternyata, para peneliti menemukan realitas terakhir yang muncul. Dalam perhitungan data, mereka menemukan bahwa orang yang tidak memuja pasangannya ketika menikah, cenderung lebih merasa tidak puas dengan pernikahan mereka pada akhir studi, dibandingkan orang yang memiliki pandangan tidak realistis tentang pasangannya. Kelompok yang memuja pasangannya, cenderung lebih bahagia dan puas dengan pernikahannya.

''Orang-orang sangat pandai mengubah definisi mereka agar sesuai dengan bagaimana mereka ingin melihat dirinya sendiri, atau bagaimana mereka ingin melihat orang lain,'' ujar salah satu peneliti, Sandra Murray, Ph.D., profesor psikologi di University of Buffalo. (LI/OL-06)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar