JAKARTA : Kementerian Keuangan menyatakan potensi penerimaan negara yang hilang cukup besar dalam tiga bulan pertama 2011 menyusul realisasi produksi minyak yang jauh dari target APBN 970.000 barel per hari. Menteri Keuangan Agus D. W. Martowardojo menuturkan pihaknya sangat berharap target produksi (lifting) minyak 970.000 bph di APBN 2011 bisa tercapai agar penerimaan dari sektor migas bisa optimal.
Sayangnya, rata-rata lifting minyak pada tiga bulan pertama 2011 hanya berkisar 895.000 barel per hari sehingga disangsikan target tercapai.
Menurut Agus, realisasi produksi minyak yang selama ini di bawah target hariannya jelas membuat sejumlah potensi penerimaan negara menjadi hilang. Selama tiga bulan pertama 2011, cukup besar potensi penerimaan negara yang hilang karena faktor itu, tetapi jumlah pastinya masih perlu dihitung kembali.
“Berbagai alasan sudah disampaikan (mengenai lifting minyak yang tidak tercapai). Walupun secara nasional hal itu dikompensaasi dengan pertumbuhan lifting minyak ditambah lifting gas dan kondensat. Jadi kalau ketiganya dijumlah, itu memang ada peningkatan. Kalau minyak saja itu tidak seperti yang diharapkan.”
Dalam rapat kerja terbatas di Istana Bogor, bulan lalu, Menkeu memperkirakan produksi minyak Indonesia pada tahun depan hanya akan sekitar 950.000 bph. Sementara, asumsi ICP disiapkan dua skenario, yakni US$85 per barel atau US$95 per barel. “Untuk pertumbuhan ekonomi (2012) 6,4%, inflasi 5,5%, SBI 3 bulan 6,5%, dan kurs Rp9.150 per dolar AS,” jelasnya.(mmh)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar