Kamis, 21 April 2011

Dana asing selama April naik Rp 6 triliun

Dana asing selama April naik Rp 6 triliun
JAKARTA. Dana asing mulai menyerbu Indonesia. Mengutip data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan, dana asing yang terbenam di Surat Berharga Negara (SBN) per 18 April 2011 Rp 217,75 triliun. Angka itu berarti dana asing di SBN selama April meningkat Rp 6,18 triliun.

Nilai investasi langsung di Indonesia, mengutip data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) juga meningkat 11,6% year-on-year di akhir kuartal I 2011. Nilai investasi langsung di Indonesia selama tiga bulan pertama tahun ini Rp 39,5 triliun.
Seperempat dari investasi langsung itu terbenam di sektor pertambangan. "Ini wujud kepercayaan investor," tutur Azhar Lubis, Deputi Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal BKPM, Rabu (20/4).
Namun analis menilai timbunan dana asing di Indonesia semakin tinggi karena investor global tidak ada instrumen lain yang menawarkan imbal hasil semenarik aset rupiah. Maklumlah, pasar negara maju seperti Amerika Serikat (AS) kini terbelit krisis.
Peningkatan dana asing di SBN juga disebabkan karena ada aturan baru Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Bank Indonesia memperpanjang holding period untuk SBI dan menghapus SBI tiga bulan.
Untuk menampung dana asing yang membutuhkan instrumen rupiah berjangka pendek, pemerintah menerbitkan Surat Perbendaharaan Negara (SPN) bertenor tiga bulan. "Mereka masuk untuk carry trade," ujar Analis Danamon Helmi Arman. Selama akhir Maret hingga 5 April kemarin, dana asing yang mengalir masuk ke SPN bertenor tiga bulan hingga 12 bulan mencapai Rp 3 triliun.
Harga mulai naik
Serbuan dana asing mengangkat kembali harga obligasi pemerintah bertenor pendek yang sempat melemah pekan lalu. Ignatius Girendroheru Direktur Utama Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) menyebut penyebab penguatan harga SUN tenor pendek adalah penurunan prospek peringkat AS. Di saat tidak pasti seperti itu, pemilik dana cenderung memilih aset dengan tingkat risiko rendah.
Imam MS, Analis Pasar Obligasi dan Ekonom Trimegah Securities, menilai investor masih tetap menimbang yield saat memilih instrumen investasi. "Investor asing banyak memilih tenor panjang karena yield 9%," kata dia.
Girendroheru memperkirakan hal serupa. "Saya lihat investor mulai masuk ke obligasi tenor menengah dan panjang," ujar dia. Namun sampai kuartal II tekanan pada harga obligasi akan mereda, mengingat ekonomi Indonesia diproyeksikan tetap deflasi.
Peralihan jangka waktu investor asing menurut Angky Hendra, Analis Obligasi dan Manajer Investasi PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen karena adanya kebijakan BI tentang holding period jadi 6 bulan. Investor yang semula memilih obligasi bertenor pendek beralih ke surat utang berjangka panjang.
Tapi menurut Helmy, investor asing masih sangat suka SUN jangka pendek pendek dan menengah. "Penurunan harga SBN dengan tenor pendek baru terjadi belakangan ini saja," kata dia. Helmy menduga, harga obligasi dengan tenor pendek akan kembali naik di masa depan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar