JAKARTA--MICOM: Direktur Jenderal Anggaran Kemenkeu Herry Purnomo menyatakan bahwa sulit untuk menjaga pagu anggaran subsidi BBM 2011 tidak meningkat karena banyaknya faktor pendorong kenaikan.
"Adanya penundaan pengaturan konsumsi BBM bersubsidi saja sudah memberi potensi pagu terlewati atau harus ada penambahan subsidi," kata Herry usai penandatanganan kerja sama antara PT Taspen dengan sejumlah bank di Jakarta, Rabu (20/4).
Ia menyebutkan, faktor lain yang mendorong kenaikan anggaran subsidi BBM adalah kenaikan harga minyak mentah Indonesia (ICP).
Menurut dia, Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu tengah menghitung perkiraan kebutuhan subsidi BBM dengan memperhitungkan berbagai faktor.
"Banyak exercise-nya, karena memperhitungkan berbagai faktor seperti ICP, tingkat kurs, besar kelebihan pagu volume BBM bersubsidi dan lainnya," katanya.
Menurut dia, dari satu sisi yaitu penundaan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi saja sudah ada penambahan subsidi BBM.
"Dari satu sisi saja jelas ada penambahan, belum lagi faktor kenaikan harga ICP, dan konsumsi yang meningkat di atas target," katanya.
Alokasi dana subsidi dalam APBN 2011 mencapai Rp98,2 triliun. Khusus untuk subsidi minyak, jika kuota konsumsi habis maka subsidi akan meningkat.
Kemenkeu mencatat penggunaan atau konsumsi BBM bersubsidi hingga akhir Maret 2011 mencapai 9,7 juta kl dan asumsi APBN 2011 sebesar 38,6 juta kl.
"Realisasi konsumsi BBM bersubsidi lebih tinggi dari perkiraan, realisasi mencapai 9,7 juta kl, 6,85 persen lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu 9,06 juta kl," ujar Pelaksana Tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu, Bambang Brodjonegoro.
Ia menambahkan, pemerintah juga telah merealisasikan subsidi sebesar Rp32,4 triliun yang meliputi subsidi energi untuk BBM mencapai Rp18,1 triliun, listrik Rp6,5 triliun dan non energi atau pangan Rp7,6 triliun.
Menurut Bambang, realisasi konsumsi BBM bersubsidi tersebut menunjukkan peningkatan akibat bertambahnya volume kendaraan bermotor di Indonesia.
"Realisasi konsumsi BBM bersubsidi menunjukkan kecenderungan meningkat. Itu karena bertambahnya jumlah kendaraan," ujarnya. (Ant/OL-9)
"Adanya penundaan pengaturan konsumsi BBM bersubsidi saja sudah memberi potensi pagu terlewati atau harus ada penambahan subsidi," kata Herry usai penandatanganan kerja sama antara PT Taspen dengan sejumlah bank di Jakarta, Rabu (20/4).
Ia menyebutkan, faktor lain yang mendorong kenaikan anggaran subsidi BBM adalah kenaikan harga minyak mentah Indonesia (ICP).
Menurut dia, Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu tengah menghitung perkiraan kebutuhan subsidi BBM dengan memperhitungkan berbagai faktor.
"Banyak exercise-nya, karena memperhitungkan berbagai faktor seperti ICP, tingkat kurs, besar kelebihan pagu volume BBM bersubsidi dan lainnya," katanya.
Menurut dia, dari satu sisi yaitu penundaan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi saja sudah ada penambahan subsidi BBM.
"Dari satu sisi saja jelas ada penambahan, belum lagi faktor kenaikan harga ICP, dan konsumsi yang meningkat di atas target," katanya.
Alokasi dana subsidi dalam APBN 2011 mencapai Rp98,2 triliun. Khusus untuk subsidi minyak, jika kuota konsumsi habis maka subsidi akan meningkat.
Kemenkeu mencatat penggunaan atau konsumsi BBM bersubsidi hingga akhir Maret 2011 mencapai 9,7 juta kl dan asumsi APBN 2011 sebesar 38,6 juta kl.
"Realisasi konsumsi BBM bersubsidi lebih tinggi dari perkiraan, realisasi mencapai 9,7 juta kl, 6,85 persen lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu 9,06 juta kl," ujar Pelaksana Tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu, Bambang Brodjonegoro.
Ia menambahkan, pemerintah juga telah merealisasikan subsidi sebesar Rp32,4 triliun yang meliputi subsidi energi untuk BBM mencapai Rp18,1 triliun, listrik Rp6,5 triliun dan non energi atau pangan Rp7,6 triliun.
Menurut Bambang, realisasi konsumsi BBM bersubsidi tersebut menunjukkan peningkatan akibat bertambahnya volume kendaraan bermotor di Indonesia.
"Realisasi konsumsi BBM bersubsidi menunjukkan kecenderungan meningkat. Itu karena bertambahnya jumlah kendaraan," ujarnya. (Ant/OL-9)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar