BEKASI. Pemerintah menargetkan, tahun ini, eskpor produk turunan kelapa sawit yang memiliki nilai tambah bisa naik menjadi 70%. Selama ini, tingkat ekspor produk turunan crude palm oil (CPO) tersebut hanya berada di kisaran 40% dari total ekspor produk kelapa sawit.Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, untuk mewujudkan hal tersebut, hilirisasi dari industri yang sudah berusia 100 tahun tersebut mutlak dibutuhkan. "Kami ingin membalikkan keadaan. Jika sebelumnya sekitar 60% CPO di ekspor dalam bentuk bahan baku, sekarang kalau bisa 60% hingga 70% sudah dalam bentuk turunan yang memiliki nilai tambah," jelasnya. Menurut Hatta, dengan langkah itu, diharapkan mampu membangun hilirisasi dengan kluster ekonomi sehingga membentuk pusat ekonomi baru.
Hatta memaparkan, berdasarkan data dari Departemen Pertanian AS, tahun ini produksi CP0 Indonesia diperkirakan akan mencapai 25,4 juta ton, meningkat dari perkiraan awal sebesar 23, 6 juta ton. Dari jumlah total tersebut, sekitar 19, 35 juta ton diantaranya menjadi konsumsi ekspor.
Sementara itu, Menteri Perindustrian MS Hidayat juga berpendapat sama. Dia mengatakan, melihat volume produksi yang saat ini mencapai 22 juta ton, maka dalam 10 tahun kemudian diperkirakan mencapai 43 juta ton. "Ditargetkan, pada saat itu hanya 35% saja yang diekspor dalam bentuk CPO," tuturnya.
Hidayat menuturkan, untuk menggenjot hilirisasi, pemerintah saat ini terus menyiapkan paket insentif dan disinsentif buat pengusaha kelapa sawit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar