JAKARTA: Indonesia dinilai sudah bisa masuk dalam investment grade, lantaran kondisi perekonomian yang cukup baik serta kemampuan pemerintah mengelola utang.
Managing Director Head of Asia Pacific Economic & Market Analysis Citigroup Johanna Chua mengatakan salah satu indikator potensi Indonesia masuk ke dalam investment grade adalah tur menurunnya rasio utang terhadap PDB.
“Rasio utang pemerintah yang terus turun sehingga memperkuat kemampuan pemerintah membayar utang. Hal ini menjadi salah satu indikator bahwa Indonesia sebenarnya sudah bisa masuk ke level investasi,” ujarnya hari ini.
Menurut Johanna, hal lain yang juga memungkinkan bagi Indonesia memasuki investment grade adalah menguatnya kinerja ekspor nasional. Selain itu, investasi asing yang masuk ke Indonesia juga cukup menjanjikan.
Namun , kata Johanna, beberapa hal yang harus diselesaikan agar Indonesia masuk ke dalam investment grade adalah masalah infrastruktur serta instabilitas politik. Dua hal itu sejauh ini
menjadi catatan para investor yang akan menanamkan modalnya ke Indonesia.
“Kami memperkirakan pada semester II/ 2011, Indonesia sudah bisa masuk ke dalam investment grade,” lanjut Johanna.
Sementara itu, Sekretaris Komite Ekonomi Nasional yang juga peneliti INDEF Aviliani mengungkapkan capital inflow ke Indonesia sejauh ini sudah mencapai US$40 miliar. Hal itu menunjukkan bahwa tanpa investment grade pun, pemodal tetap masuk ke Indonesia.
“Pasar di Indonesia itu salah satu yang terbaik di dunia. Kedua investor melihat Indonesia memiliki resource yaitu gas. Itu kan berarti potensi ke depan para investor akan masuk ke Indonesia,” kata Aviliani.
Aviliani juga menyoroti masalah birokrasi dan kepastian hukum yang sejauh ini tetap menjadi pertimbangan para investor menanamkan modalnya di Indonesia.
“Saat kebijakan pemerintah saja yang membuat Indonesia masih menunggu bisa masuk ke dalam investment grade,” lanjut Aviliani.
Sebelumnya Head of Sovereign Ratings Fitch Rating wilayah Asia Pasifik Andrew Colquhoun menyatakan, Indonesia akan memperoleh level layak investasi (investment grade) paling cepat setahun lagi, atau lambat 18 bulan terhitung sejak Maret 2011.
Beberapa alasan yang memungkinkan Indonesia masuk investment grade ini adalah pengendalian inflasi. Fitch memuji kinerja Bank Indonesia dalam menjaga inflasi.
Seperti yang telah diketahui, Bank Indonesia menerapkan bauran kebijakan untuk mengetatkan likuiditas di pasar uang domestik. Yakni dengan menaikkan Giro Wajib Minimum Rupiah dari 5% ke 8%. Bank Indonesia juga mentolerir penguatan rupiah, dengan alasan membendung imported inflation.
Fitch menilai langkah Bank Indonesia ini sudah pada jalurnya. Apalagi di tengah ancaman harga minyak yang fluktuatif ini.
Faktor lainnya yang menjadi pertimbangan lembaga rating memberikan investment grade pada Indonesia, adalah ihwal infrastruktur serta partisipasi asing di Surat Utang Negara. (htr)
Managing Director Head of Asia Pacific Economic & Market Analysis Citigroup Johanna Chua mengatakan salah satu indikator potensi Indonesia masuk ke dalam investment grade adalah tur menurunnya rasio utang terhadap PDB.
“Rasio utang pemerintah yang terus turun sehingga memperkuat kemampuan pemerintah membayar utang. Hal ini menjadi salah satu indikator bahwa Indonesia sebenarnya sudah bisa masuk ke level investasi,” ujarnya hari ini.
Menurut Johanna, hal lain yang juga memungkinkan bagi Indonesia memasuki investment grade adalah menguatnya kinerja ekspor nasional. Selain itu, investasi asing yang masuk ke Indonesia juga cukup menjanjikan.
Namun , kata Johanna, beberapa hal yang harus diselesaikan agar Indonesia masuk ke dalam investment grade adalah masalah infrastruktur serta instabilitas politik. Dua hal itu sejauh ini
menjadi catatan para investor yang akan menanamkan modalnya ke Indonesia.
“Kami memperkirakan pada semester II/ 2011, Indonesia sudah bisa masuk ke dalam investment grade,” lanjut Johanna.
Sementara itu, Sekretaris Komite Ekonomi Nasional yang juga peneliti INDEF Aviliani mengungkapkan capital inflow ke Indonesia sejauh ini sudah mencapai US$40 miliar. Hal itu menunjukkan bahwa tanpa investment grade pun, pemodal tetap masuk ke Indonesia.
“Pasar di Indonesia itu salah satu yang terbaik di dunia. Kedua investor melihat Indonesia memiliki resource yaitu gas. Itu kan berarti potensi ke depan para investor akan masuk ke Indonesia,” kata Aviliani.
Aviliani juga menyoroti masalah birokrasi dan kepastian hukum yang sejauh ini tetap menjadi pertimbangan para investor menanamkan modalnya di Indonesia.
“Saat kebijakan pemerintah saja yang membuat Indonesia masih menunggu bisa masuk ke dalam investment grade,” lanjut Aviliani.
Sebelumnya Head of Sovereign Ratings Fitch Rating wilayah Asia Pasifik Andrew Colquhoun menyatakan, Indonesia akan memperoleh level layak investasi (investment grade) paling cepat setahun lagi, atau lambat 18 bulan terhitung sejak Maret 2011.
Beberapa alasan yang memungkinkan Indonesia masuk investment grade ini adalah pengendalian inflasi. Fitch memuji kinerja Bank Indonesia dalam menjaga inflasi.
Seperti yang telah diketahui, Bank Indonesia menerapkan bauran kebijakan untuk mengetatkan likuiditas di pasar uang domestik. Yakni dengan menaikkan Giro Wajib Minimum Rupiah dari 5% ke 8%. Bank Indonesia juga mentolerir penguatan rupiah, dengan alasan membendung imported inflation.
Fitch menilai langkah Bank Indonesia ini sudah pada jalurnya. Apalagi di tengah ancaman harga minyak yang fluktuatif ini.
Faktor lainnya yang menjadi pertimbangan lembaga rating memberikan investment grade pada Indonesia, adalah ihwal infrastruktur serta partisipasi asing di Surat Utang Negara. (htr)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar