BANDUNG: Bank Indonesia memroyeksikan akan terjadi defisit anggaran sebesar Rp30,6 triliun per akhir tahun ini, terutama karena masih tingginya biaya untuk menjaga kestabilan likuiditas.
Direktur Direktorat Keuangan Intern Bank Indonesia Harti Haryani mengatakan defisit anggaran bank sentral pada Oktober 2010 telah menyentuh angka Rp26 triliun.
“Masih tebuka kemungkinan naik lagi Rp4 triliun hingga Rp30,6 triliun pada akhir tahun,” katanya di sela-sela pelatihan wartawan di Bandung, kemarin.
Harti mengatakan meningkatnya defisit anggaran BI tersebut terjadi akibat besarnya beban biaya operasi pasar terbuka (OPT) untuk menjaga stabilitas keuangan.
Selain untuk OPT, kata dia, beban lainnya ialah pada pada pos pembayaran gaji karyawan, termasuk untuk kebutuhan remunerasi sekitar Rp600 miliar.
“Namun begitu, proyeksi defisit anggaran itu sebenarnya masih aman,” ujarnya.
Bank sentral, kata dia, sudah melakukan beberapa langkah efisiensi guna menekan defisit anggaran, misalnya dalam pos untuk kebutuhan operasional.
Dia menyebutkan anggaran operasional untuk September sebesar Rp3 triliun, Oktober sebesar Rp3,5 triliun, dan Desember sebesar Rp4,2 triliun.
“Kami terus melakukan efisiensi, kecuali untuk pembayaran gaji karyawan,” katanya.
Di sisi lain, untuk menjaga derasnya capital inflow yang masuk, Bank Indonesia mengaku telah mengambil beberapa kebijakan sejak awal tahun.
Filaningsih Hendarta, Kepala Biro Pengembangan dan Pengaturan Pengelolaan Moneter Direktorat Pengelolaan Moneter BI, mengatakan pihaknya telah memperpanjang profil jatuh tempo sertifikat BI (SBI) pada Maret.
Kemudian, lanjutnya, pada Juli BI mengambil keputusan untuk menahan penjualan SBI dalam tenor jangka pendek. Terakhir, pada Oktober dan November bank sentral memutuskan hanya melelang SBI dengan tenor 6 bulan dan 9 bulan.
“Tujuannya agar masa pencairannya semakin panjang. Selain itu, jumlah SBI yang dilelang pun jumlahnya sudah terbatas,” katanya
Di sisi lain, Filaningsih berpendapat perlu adanya outlet untuk menampung kelebihan likuiditas di pasar.
“Ini kesempatan bagi bank atau korporasi untuk melantai di bursa atau menerbitkan obligasi,” katanya. (htr)
Direktur Direktorat Keuangan Intern Bank Indonesia Harti Haryani mengatakan defisit anggaran bank sentral pada Oktober 2010 telah menyentuh angka Rp26 triliun.
“Masih tebuka kemungkinan naik lagi Rp4 triliun hingga Rp30,6 triliun pada akhir tahun,” katanya di sela-sela pelatihan wartawan di Bandung, kemarin.
Harti mengatakan meningkatnya defisit anggaran BI tersebut terjadi akibat besarnya beban biaya operasi pasar terbuka (OPT) untuk menjaga stabilitas keuangan.
Selain untuk OPT, kata dia, beban lainnya ialah pada pada pos pembayaran gaji karyawan, termasuk untuk kebutuhan remunerasi sekitar Rp600 miliar.
“Namun begitu, proyeksi defisit anggaran itu sebenarnya masih aman,” ujarnya.
Bank sentral, kata dia, sudah melakukan beberapa langkah efisiensi guna menekan defisit anggaran, misalnya dalam pos untuk kebutuhan operasional.
Dia menyebutkan anggaran operasional untuk September sebesar Rp3 triliun, Oktober sebesar Rp3,5 triliun, dan Desember sebesar Rp4,2 triliun.
“Kami terus melakukan efisiensi, kecuali untuk pembayaran gaji karyawan,” katanya.
Di sisi lain, untuk menjaga derasnya capital inflow yang masuk, Bank Indonesia mengaku telah mengambil beberapa kebijakan sejak awal tahun.
Filaningsih Hendarta, Kepala Biro Pengembangan dan Pengaturan Pengelolaan Moneter Direktorat Pengelolaan Moneter BI, mengatakan pihaknya telah memperpanjang profil jatuh tempo sertifikat BI (SBI) pada Maret.
Kemudian, lanjutnya, pada Juli BI mengambil keputusan untuk menahan penjualan SBI dalam tenor jangka pendek. Terakhir, pada Oktober dan November bank sentral memutuskan hanya melelang SBI dengan tenor 6 bulan dan 9 bulan.
“Tujuannya agar masa pencairannya semakin panjang. Selain itu, jumlah SBI yang dilelang pun jumlahnya sudah terbatas,” katanya
Di sisi lain, Filaningsih berpendapat perlu adanya outlet untuk menampung kelebihan likuiditas di pasar.
“Ini kesempatan bagi bank atau korporasi untuk melantai di bursa atau menerbitkan obligasi,” katanya. (htr)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar