JAKARTA: PT Pertamina (Persero) sedang menyiapkan aturan tentang pengalihan lapangan-lapangan tua berproduksi kecil yang ditangani, sejalan dengan efisiensi strategi bisnis portofolionya.
Senior Vice President Upstream Business Development PT Pertamina Slamet Riadhy mengungkapkan saat ini tengah mengevaluasi secara mendalam terkait apangan mana saja yang pengelolaannya akan diserahkan kepada pihak lain.
"Mudah-mudahan tahun ini sudah bisa siap hasil evaluasi dan jalan aturannya. Ini merupakan strategi bisnis portofolio kami. Lapangan yang memang lebih efisien untuk dikerjasamakan, ya akan kami kerja samakan," ujar Slamet, hari ini.
Namun, dia enggan memperinci identitas lapangan-lapangan yang dimaksudkan. Slamet pun masih enggan menyebutkan lapangan yang memiliki kapasitas berapa yang akan masuk dalam daftar pengalihan pengelolaannya.
Dia menyebutkan kalau Pertamina tahun depan membidik kenaikan produksi minimal sebesar 10%-11% dari produksi tahun ini. Pada 2015, Pertamina mematok target bisa memproduksi 1 juta Bopd.
Guna mewujudkan hal, perusahaan pelat merah ini akan melakukan akuisisi selain menggenjot produksi dari blok atau lapangan yang sudah ada.
Menurut dia, dalam melakukan akusisi blok baru, Pertamina lebih memilih lapangan produksi daripada lapangan eksplorasi agar bisa lebih cepat menghasilkan migas sehingga target produksi Pertamina bisa tercapai.
Terkait kabar rencana akuisisi terhadap PT Medco Energy Internasional Tbk, dia mengungkapkan kalau dalam waktu dekat pihaknya kemungkinan besar akan mengumumkan rencana tersebut.
"Tunggu saja dalam waktu dekat. Akan ada pengumuman soal itu, kemungkinan dari kami ataupun dari pihak Medco."
Pertamina saat ini juga tengah memproses rencana penjualan 66,67% saham satu anak usahanya yakni PT Patra Jasa senilai Rp2,37 triliun.
VP Corporate Communications Pertamina Mochamad Harun sempat menjelaskan tujuan utama dari rencana pelepasan saham tersebut karena pihaknya ingin lebih fokus pada core bisnis utamanya di migas.
Harun menyebutkan kalau dana hasil penjualan Patra Jasa akan digunakan untuk pengembangan bisnis inti Pertamina. Dia berharap penjualan tersebut bisa rampung sebelum pertengahan Desember 2010.(yn)
Senior Vice President Upstream Business Development PT Pertamina Slamet Riadhy mengungkapkan saat ini tengah mengevaluasi secara mendalam terkait apangan mana saja yang pengelolaannya akan diserahkan kepada pihak lain.
"Mudah-mudahan tahun ini sudah bisa siap hasil evaluasi dan jalan aturannya. Ini merupakan strategi bisnis portofolio kami. Lapangan yang memang lebih efisien untuk dikerjasamakan, ya akan kami kerja samakan," ujar Slamet, hari ini.
Namun, dia enggan memperinci identitas lapangan-lapangan yang dimaksudkan. Slamet pun masih enggan menyebutkan lapangan yang memiliki kapasitas berapa yang akan masuk dalam daftar pengalihan pengelolaannya.
Dia menyebutkan kalau Pertamina tahun depan membidik kenaikan produksi minimal sebesar 10%-11% dari produksi tahun ini. Pada 2015, Pertamina mematok target bisa memproduksi 1 juta Bopd.
Guna mewujudkan hal, perusahaan pelat merah ini akan melakukan akuisisi selain menggenjot produksi dari blok atau lapangan yang sudah ada.
Menurut dia, dalam melakukan akusisi blok baru, Pertamina lebih memilih lapangan produksi daripada lapangan eksplorasi agar bisa lebih cepat menghasilkan migas sehingga target produksi Pertamina bisa tercapai.
Terkait kabar rencana akuisisi terhadap PT Medco Energy Internasional Tbk, dia mengungkapkan kalau dalam waktu dekat pihaknya kemungkinan besar akan mengumumkan rencana tersebut.
"Tunggu saja dalam waktu dekat. Akan ada pengumuman soal itu, kemungkinan dari kami ataupun dari pihak Medco."
Pertamina saat ini juga tengah memproses rencana penjualan 66,67% saham satu anak usahanya yakni PT Patra Jasa senilai Rp2,37 triliun.
VP Corporate Communications Pertamina Mochamad Harun sempat menjelaskan tujuan utama dari rencana pelepasan saham tersebut karena pihaknya ingin lebih fokus pada core bisnis utamanya di migas.
Harun menyebutkan kalau dana hasil penjualan Patra Jasa akan digunakan untuk pengembangan bisnis inti Pertamina. Dia berharap penjualan tersebut bisa rampung sebelum pertengahan Desember 2010.(yn)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar