Senin, 18 Oktober 2010

Perang Mata Uang Amerika Lempar "Bendera Putih"

Amerika Serikat menunda menerbitkan laporan kontroversial tentang mata uang China sampai usai pemimpin negara G20 pertengahan November nanti. Tujuannya, menghindari kericuhan antara Amerika dan China.
Laporan yang bisa memberi label China sebagai manipulator mata uang dan membuka jalan bagi sanksi AS pada barang-barang China, rencananya diumumkan Jumat (15/10) lalu.

Penundaan menghindari sengketa perdagangan sengit antara dua kekuatan dunia itu. Amerika menuduh Beijing telah membuat yuan undervalued (di bawah nilai sebenarnya) untuk memperoleh keuntungan.
Ketegangan "perang mata uang" memuncak pada pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) beberapa waktu lalu. China akhirnya keluar sebagai pemenang dengan menolak desakan untuk revaluasi yuan secara cepat.
Alih-alih melempar gertakan lagi, menjelang pertemuan G20, Kementerian Keuangan Amerika mengajukan "bendera putih" nan damai. Amerika mengakui "tindakan China sejak awal September untuk mempercepat laju apresiasi mata uang, sambil mengingatkan adalah penting untuk mempertahankan tujuan ini."
Nilai yuan yang lebih tinggi akan membuat ekspor China lebih mahal dari ekspor negara-negara lain yang lebih kompetitif.
Menteri Keuangan AS Timothy Geithner berada di bawah tekanan dari Kongres Amerika untuk memberi sanksi terhadap barang-barang China, setelah keengganan Beijing untuk mengubah sikap. Tetapi sejak September, katanya, hal-hal itu telah berubah.
"Sejak 2 September 2010, laju apresiasi telah dipercepat ke tingkat lebih dari satu persen per bulan. Jika berkelanjutan dari waktu ke waktu, ini akan membantu memperbaiki apa yang IMF telah simpulkan yuan sebuah mata uang yang undervalued itu signifikan," bunyi pernyataan Amerika.
China menyatakan pada 19 Juni lalu akan mereformasi nilai tukar yuan. Sejak saat itu hingga sekarang, Yuan China sudah terapresiasi 2,67 persen atas dolar Amerika. Nilai yuan sempat jatuh 0,06 persen pada tahun 2009 ketika Pemerintah China meneruskan kebijakan akhir 2008 setelah krisis finansial dengan mematok yuan kepada dolar.
Tetapi kepuasan Kementerian Keuangan tidak dimiliki anggota parlemen AS.
"Keputusan mereka untuk melakukannya hanya menggarisbawahi keengganan pemerintah untuk bersikap keras pada kebijakan mata uang China yang tidak adil," kata anggota Kongres Demokrat Mike Michaud dikutip AFP.
Meski Geithner mengubah sikap, masalah ini diperkirakan akan mendominasi serangkaian pertemuan para pemimpin G20, para menteri ekonomi dan gubernur bank sentral bulan November nanti.
Eropa, Jepang dan Amerika Serikat telah menekan China untuk merombak kebijakan yuan yang lemah. Mata uang China itu mencapai rekor nilai tertinggi atas dolar Amerika 6,6497 per dolar Amerika pada Jumat (15/10). Rekor tertinggi ke-15 pada 19 hari terakhir perdagangan.
Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral Negara G20 akan berlangsung di Korea Selatan pekan depan. Pertemuan pimpinan negara G20 akan berlangsung di Seoul 11-12 November.
Komentar Bernanke Bikin Dolar Terpuruk
Dolar Amerika jatuh berdentum terhadap euro dan yen akhir pekan lalu setelah Federal Reserve membuat keraguan akan melangkah untuk menopang pemulihan Amerika.
Ketegangan telah terbangun di pasar uang bahkan sebelum komentar Gubernur The Fed Ben Bernanke, ketika Jepang mengisyaratkan akan intervensi lagi untuk mengendalikan kenaikan yen. China juga memperingatkan Amerika atas "alasan penggunaan yuan sebagai kambing hitam untuk kelemahan ekonomi AS."
Bernanke di Boston, mengatakan The Fed siap melakukan langkah-langkah luar biasa untuk menopang ekonomi yang sedang berjuang dengan pengangguran tinggi terus-menerus dan risiko deflasi.
Sebagai buntut dari pidato Bernanke, dolar jatuh ke 80,88 yen, terendah dalam 15 tahun. Euro melesat naik menjadi 1,4159 dolar, angka yang terkuat sejak akhir Januari.
Sebelumnya Perdana Menteri Jepang Naoto Kan mengatakan "sangat prihatin dengan situasi mata uang" setelah yen mencapai tertinggi 15 tahun terhadap dolar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar