Oleh: Makmun
Peneliti Utama Badan Kebijakan Fiskal, Kementrian Keuangan
Sumber: www.majalahtambang.com, 8 Oktober 2010
Setelah harga minyak dunia sempat menyentuh pada level USD 83,52 per barel per 7 Januari 2010, kini harga minyak terus mengalami penurunan. Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi perkembangan harga minyak mentah di pasar dunia menunjukkan adanya trend penurunan. Pada pertengahan Maret harga minyak dunia sedikit mengalami penurunan ke kisaran USD 82 per barel, namun pada minggu ketiga Mei turun terus mengalami penurunan. Dalam sebuah laporan Global Energy Weekly bertajuk Lowering our 2H10 crude oil price forecasts yang dirilis oleh Bank of Amerika 24 Mei yang lalu rata-rata harga minyak dunia untuk jenis West Texas Intermediate- WTI crude oil dan Brent crude oil turun ke level USD 78 per berel dari sebelumnya sempat mencapai kisaran USD 92 per barel.
Turunnya harga minyak dunia di atas dipicu oleh rendahnya tingkat pertumbuhan ekonomi negara-negara di kawasan Eropa. Disamping itu lemahnya penjaminan (sovereign debt) atas utang-utang negara di kawasan ini juga akan memberikan tekanan pada harga komoditas dalam jangka pendek. Lemahnya sovereign debt akhirnya akan berimbas pula pada penjaminan atas penerbitan surat-surat utang negara yang akhirnya juga akan berimbas pada sistem perbankan, sektor riil dan tingkat konsumsi. Kondisi ini ujung-ujungnya akan berdampak pada ekspektasi yang rendah pada pertumbuhan ekonomi global dan menekan harga minyak. Sementara itu proses recovary perekonomian di negara-negara di luar kawasan Eropa belum sepenuhnya menjamin pulihnya perekonomian global. Dalam jangka panjang apabila fundamental perekonomian sudah membaik, minyak tetap akan memberikan kontribusi yang besar pada perekonomian global.
China yang diharapkan menjadi menjadi motor penggerak perekonomian global diperkirakan mencapai puncak pertumbuhan pada kuartal pertama 2010 sebesar 11,9% dan diperkirakan akan turun menjadi 9% pada kuartak keempat tahun ini. Rendahnya produktivitas pertumbuhan China ini bertolak belakang dengan kondisi demographics dan rendahnya tingkat pengembalian modal (returns to capital) bersamaan dengan turunnya tingkat pertumbuhan kredit. Ini semua akan menurunkan potensi pertumbuhan Gross Domestic Product (GDP).
Seiring dengan perkiraan akan pulihnya perekonomian global pada tahun 2011, maka permintaan akan minyak juga akan mengalami peningkatan. Untuk tahun 2010 ini diperkirakan permintaan minyak dunia hanya akan mencapai 1,5 juta barel per hari, padahal sebelumnya diperkirakan akan mencapai 2 juta barel per hari. Sementara itu untuk tahun 2011 permintaan minyak dunia diperkirakan akan lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, namun demikian mungkin masih di bawah 2 juta barel per hari.
Sejalan dengan perkiraan ini, maka harga minyak dunia diperkirakan juga akan mengalami peningkatan. Berdasarkan global commodity research yang dilakukan Bank of America, pada kuartal kedua tahun ini harga minyak mentah jenis WTI crude oil dan Brent crude oil akan berada pada kisaran USD 80 per barel dan untuk tahun 2011 diperkirakan akan naik menjadi USD 85 per barel.
Implikasi ke Indonesia
Berdasarkan data International Energy Agency (IEA) dan Energy Information Administration (EIA) supply minyak dunia pada tahun 2010 mencapai 86.667 juta barel per hari dan tahun 2011 diperkirakan akan naik menjadi 88.108 ribu barel per hari. Sementara itu demand akan minyak dunia pada tahun 2010 diperkirakan akan mencapai 86.249 ribu barel per hari dan tahun 2011 naik menjadi 87.850 ribu barel per hari. Meskipun secara total supply minyak dunia lebih tinggi dibandingkan demand, baik untuk 2010 maupun 2011, harga minyak diperkirakan akan mengalami kenaikan pada tahun 2011. Berdasarkan hasil proyeksi IEA, kenaikan ini harga minyak, terutama WTI crude oil dan Brent crude oil, dipicu tingginya demand minyak dunia pada kuartal ketiga tahun. 2011.
Hasil forcasting IEA menunjukkan bahwa pada kuartal ketiga 2011 demand minyak dunia akan mencapai 88.168 ribu barel per hari, sementara supply hanya mencapai 87.979 ribu barel per hari. Untuk kuartal pertama, kedua dan keempat, supply masih lebih tinggi dibandingkan demand. Kondisi kuartal ketiga ini diperkirakan akan berimbas pada naikknya harga minyak dunia untuk jenis WTI crude oil dan Brent crude oil dari level USD 82 per barel pada kuartal kedua menjadi USD 86 per barel.
Lantas apa implikasi hasil proyeksi harga minyak dunia terhadap Indonesia? Tentunya ini akan berkaitan dengan penyusunan asumsi harga minyak dalam RAPBN 2011. Sebagaimana diketahui bahwa berdasarkan APBN-P 2010 pemerintah menetapkan asumsi harga minyak mentah sebesar USD77 per barel. Dengan perkiraan naiknya harga minyak dunia dari USD 77 per barel menjadi USD 85 per berel, maka sebagai konsekuensinya asumsi harga minyak juga akan naik ke level USD 85. Apabila pemerintah menetapkan harga minyak di bawah harga minyak dunia, maka pemerintah perlu mengalokasikan cadangan fiskal yang cukup agar mampu memenuhi ketahanan APBN. Sebagai konsekuensinya, maka defisit anggaran juga semakin melebar.
Sementara itu apabila pemerintah akan menetapkan harga minyak mengikuti harga minyak dunia, maka implikasi dari pilihan ini akan berdampak pada kelangsungan sektor produksi di dalam negeri yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan bakar minyak terutama bagi sektor usaha kecil.. Dengan demikian, hasil proyeksi harga minyak dunia secara otomatis akan tercermin pada penetapan harga BBM untuk industri dalam negeri. Bagi sektor produksi harga BBM yang tinggi akan meningkatkan biaya produksi barang dan jasanya. Semakin tipis margin keuntungan dan berkurangnya dana cadangan untuk mengurangi kerugian akan mendorong pembebanan biaya tersebut pada konsumen melalui kenaikan harga barang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar