Selasa, 12 Oktober 2010

Infrastruktur Kendala Investasi

SURABAYA(SINDO) – Buruknya infrastruktur di Indonesia masih kerap dikeluhkan oleh para investor yang berencana menanamkan modal mereka di dalam negeri.

Terkait dengan itu, target angka pertumbuhan investasi tahun ini sebesar USD18 miliar dan USD50 miliar pada tahun 2015 diyakini sulit terealisasi, jika infrastruktur berkualitas tidak juga tersedia. “Tanpa adanya kemajuan yang signifikan dalam pembangunan infrastruktur, maka keluhankeluhan yang menjadi kendala penanaman modal di Indonesia akan berkutat pada hal-hal yang mendasar tersebut,”ungkap Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) saat membuka seminar bertajuk “Kesiapan Infrastruktur dan Energi RI bagi Investasi” di Surabaya,kemarin. Gita menambahkan, pertumbuhan ekonomi 6–7% pun hanya dapat tercapai, jika tersedia infrastruktur yang mampu mendongkrak aktivitas ekonomi.

Gita menjelaskan, upaya menyediakan infrastruktur yang berkualitas, sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan aliran penanaman modal.Dia menuturkan,ketersediaan infrastruktur merupakan salah satu langkah yang akan membuat investor yakin untuk menanamkan modalnya di Indonesia. “Karena itu,peran pemerintah daerah untuk ini penting. Upaya menumbuhkan kepercayaan investor juga dilakukan dengan menjaga ekonomi kita terus tumbuh positif,” katanya Gita menyebutkan, untuk meningkatkan percepatan penyediaan infrastruktur,pemerintah telah menetapkan lima proyek yang dibiayai dengan skema kerja sama pemerintah-swasta atau public private partnership(PPP) yang nilai totalnya cukup besar, yakni USD4,4 miliar.

Dia memaparkan, tahap awal PPP antara lain Pelabuhan Tanah Ampo,Bali senilai USD30 juta, proyek rel kereta api Manggarai– Bandara Soekarno-Hatta senilai USD735 juta,proyek PLTU Jateng senilai USD3 miliar,proyek jalan tol bandara Medan Kuala Namu senilai USD475 juta,dan proyek air minum Umbulan Jawa Timur senilai USD200 juta. “Dua dari lima proyek PPP berada di luar Jawa,mudah-mudahan ini bisa mempercepat penyebaran investasi yang selama ini 80% di wilayah Jawa dan hanya 20% di wilayah Indonesia bagian timur,” tuturnya. Lebih lanjut Gita mengatakan, beberapa proyek tersebut sudah ditawarkan kepada investor.

Khusus untuk proyek air minum Umbulan, sudah ada beberapa investor dalam negeri yang menyatakan berminat melakukan investasi.“Investor dari Spanyol yang datang dalam kegiatan seminar investasi beberapa waktu lalu juga menunjukkan ketertarikan,”katanya. Pada kesempatan yang sama, Gubernur Jawa Timur Soekarwo menuturkan,infrastruktur di Jawa Timur termasuk dalam kategori relatif bagus untuk mendukung aktivitas ekonomi.Namun,pembenahan dan perbaikan tetap dilakukan. Dia mencontohkan, pembenahan Pelabuhan Tanjung Perak yang selama ini menghambat masuknya kontainer-kontainer besar masuk ke kapal.

“Selain itu kita perlu adanya tambahan runway di Bandara Juanda dan sedikit pelebaran. Sebab, rancangan yang ada saat ini hanya mampu menampung 6,5 juta penumpang, tapi kenyataannya justru saat ini sudah 11 juta penumpang,” kata Soekarwo. Dia menyebutkan, perbaikanperbaikan infrastruktur tersebut sudah disampaikan kepada pemerintah pusat dan sudah disetujui. ”Hanya saja belum masuk dalam PPP book,”ujarnya. Pemda Jatim juga berupaya mengurangi hambatan-hambatan yang sekiranya menghambat aktivitas perekonomian.Soekarwo menargetkan, pada Mei–Juni 2011 mendatang, jalan arteri Porong– Sidoarjo akan rampung dan di yakni tidak akan ada hambatan lagi dalam aktivitas untuk meningkatkan geliat ekonomi.

Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengharapkan dengan adanya Undang-Undang Pengadaan Lahan untuk Kepentingan Publik, permasalahan pembebasan lahan diharapkan akan selesai dalam waktu empat bulan. (wisnoe moerti/ bernadette lilia nova)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar